TEKNOLOGI, Perspektif.co.id — Firma riset Wall Street, Arete Research, secara resmi menurunkan peringkat saham Meta Platforms dari Buy ke Neutral pada Kamis (6/3/2025), sebuah pukulan analis yang langsung menekan sentimen pasar terhadap raksasa media sosial milik Mark Zuckerberg itu. Analis Arete memangkas target harga saham META dari US$732 (sekitar Rp 11,9 juta per saham) menjadi US$676 (sekitar Rp 11 juta per saham), dengan alasan utama bahwa laju pengeluaran infrastruktur kecerdasan buatan perusahaan terlalu jauh melampaui kapasitas pertumbuhan pendapatannya.
Berdasarkan laporan keuangan kuartal keempat 2025 yang dirilis Meta, perusahaan mengumumkan rencana belanja modal (capital expenditure/capex) senilai antara US$115 miliar hingga US$135 miliar sepanjang 2026—setara dengan Rp 1.874 triliun hingga Rp 2.200 triliun—melonjak drastis dari realisasi capex 2025 yang sebesar US$72,2 miliar (Rp 1.176 triliun). Lonjakan hampir dua kali lipat dalam waktu satu tahun itulah yang memicu kekhawatiran serius di kalangan analis bahwa tekanan pada margin keuntungan Meta akan makin berat ke depannya.
CFO Meta, Susan Li, mengonfirmasi dalam earnings call Q4 2025 bahwa lonjakan belanja itu terutama didorong oleh kebutuhan investasi untuk mendukung Meta Superintelligence Labs serta operasional bisnis inti perusahaan. Namun justru penjelasan itulah yang tidak cukup meyakinkan Arete untuk mempertahankan rekomendasinya.
Arete menyoroti satu kelemahan struktural yang kerap luput dari perhatian pasar: tidak seperti Amazon dan Alphabet yang memiliki platform komputasi awan berskala besar dan mampu memonetisasi investasi data center mereka melalui layanan pihak ketiga, Meta tidak memiliki ekosistem serupa yang bisa mengubah infrastruktur triliunan rupiah itu menjadi arus pendapatan tambahan di luar bisnis iklan digital.
Margin operasional Meta tercatat melorot ke level 41 persen pada kuartal terakhir 2025, turun dari 48 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya, seiring lonjakan biaya dan pengeluaran operasional yang meningkat 40 persen secara tahunan. Data ini menjadi alarm nyata bahwa spending supercycle AI Meta sudah mulai merembet ke kinerja profitabilitas jangka pendek.
Di tengah tekanan itu, Zuckerberg justru tampil dengan nada optimistis penuh ambisi dalam earnings call terbaru Meta. “Ini akan menjadi tahun besar untuk menghadirkan personal superintelligence, mempercepat bisnis kami, membangun infrastruktur masa depan, dan membentuk cara kerja perusahaan ke depan,” ujar Mark Zuckerberg dalam sesi tanya jawab bersama investor.
Analis Needham, Laura Martin, turut mengeluarkan peringatan senada, menyebut saham Meta kini sudah “dihargai untuk kondisi sempurna” (priced for perfection) dan berpotensi terkoreksi hingga 15 persen jika perusahaan gagal mencapai target pertumbuhannya. Martin menekankan bahwa sebagian besar pengeluaran bersifat tidak dapat ditarik kembali dalam jangka pendek, sehingga meningkatkan risiko penurunan jika momentum pendapatan melemah.
Meski demikian, konsensus Wall Street secara keseluruhan masih relatif bullish: rata-rata target harga META dari seluruh analis berada di angka US$858,86 (sekitar Rp 13,9 juta per saham), mengimplikasikan potensi kenaikan sekitar 28 persen dari level saat ini. Namun dengan Arete yang kini bergabung dalam barisan skeptis, tekanan terhadap valuasi Meta dipastikan akan terus membayangi pergerakan saham sepanjang 2026.
Dalam konteks yang lebih luas, Meta hanyalah satu dari empat raksasa teknologi yang secara kolektif berencana menggelontorkan sekitar US$635 miliar hingga US$665 miliar untuk infrastruktur AI sepanjang tahun ini — Amazon (US$200 miliar), Alphabet (US$175–185 miliar), dan Microsoft (sekitar US$145 miliar) turut meramaikan perang belanja modal terbesar dalam sejarah industri teknologi global.