05 December 2025, 15:01

Bikin Ibu Meneteskan Air Mata, Ini 10 Puisi Menyentuh Hati untuk Hari Ibu dan Setiap Hari

Puisi masih menjadi salah satu cara paling personal untuk menyampaikan rasa cinta dan terima kasih kepada orang-orang terdekat, termasuk sosok ibu.

Reporter: M. Ansori
Editor: Deden M Rojani
1,993
Bikin Ibu Meneteskan Air Mata, Ini 10 Puisi Menyentuh Hati untuk Hari Ibu dan Setiap Hari
Seorang siswa sekolah dasar (SD) membaca puisi dalam kegiatan Lomba Baca Puisi yang diadakan oleh komunitas Guru Literasi Jakarta (Gliter Jak) di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Sabtu (21/12/2023)

Perspektif.co.id – Puisi masih menjadi salah satu cara paling personal untuk menyampaikan rasa cinta dan terima kasih kepada orang-orang terdekat, termasuk sosok ibu. Tidak hanya untuk pasangan atau sahabat, karya sastra ini kerap dipilih anak-anak untuk mengungkapkan perasaan terdalam kepada ibunda, baik dalam momen khusus maupun di hari-hari biasa.

Puisi tentang ibu lazim dibacakan atau dikirim bertepatan dengan peringatan Hari Ibu 22 Desember maupun Mother’s Day yang secara internasional dirayakan setiap Minggu kedua di bulan Mei. Meski jatuh pada tanggal yang berbeda, keduanya sama-sama menjadi pengingat peran besar perempuan—khususnya ibu—dalam kehidupan keluarga dan masyarakat.

Di luar perayaan tersebut, puisi pendek tentang ibu juga kerap digunakan sebagai bentuk sapaan hangat sehari-hari, misalnya melalui pesan singkat, caption media sosial, atau dibacakan langsung di hadapan orang tua. Yang terpenting, rangkaian kata itu mampu mewakili rasa sayang dan penghormatan seorang anak kepada ibunya.

Puisi-puisi untuk ibu dapat disusun dengan struktur yang rapi—seperti puisi empat bait—atau ditulis secara bebas. Bentuknya bisa sangat sederhana, namun tetap kuat secara emosional ketika lahir dari pengalaman pribadi. Dirangkum dari berbagai sumber, berikut gambaran 10 puisi bertema ibu yang kerap disebut menyentuh hati dan sarat kasih sayang.

Salah satunya adalah puisi berjudul “Ibu” karya Rija yang pernah dimuat di laman resmi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah. Puisi ini menggambarkan ibu sebagai perantara kehadiran anak di dunia sekaligus “malaikat kecil” dalam hidup. Penulis menekankan bagaimana sang anak tumbuh dewasa dalam pengawasan dan pengasuhan ibu, sementara sang ibu kian rapuh dimakan usia. Di salah satu bagiannya, penyair menulis betapa tubuh berjauhan tidak mengurangi kedekatan batin: doa anak adalah harapan agar ibunya selalu sehat, sementara ibu tak pernah lelah menanti anak pulang.

Puisi lain yang tak kalah kuat adalah “Surgaku di Telapak Kakimu Ibu” karya Agustinus Sada Nalu yang dimuat di situs SDN Inpres 2 Waikomo. Melalui bait-bait yang sederhana, puisi ini menegaskan pengorbanan seorang ibu, mulai dari mempertaruhkan nyawa saat melahirkan hingga menemani anak dengan dongeng dan syair pengantar tidur. Ibu digambarkan sebagai pengajar, pembantu, dan pelayan yang tak pernah menagih bayaran. Kasih sayangnya disimbolkan seperti matahari yang terus menyinari tanpa mengharap balasan: “Kasih dan sayangmu seperti sang surya yang terus menyinari / yang tak pernah mengharapkan balasan dan tak akan pernah dan tak akan bisa terbalaskan.”

Nuansa haru juga tampak dalam puisi “Ibu” karya Kornadus Nuba, yang bercerita tentang perjalanan seorang anak dari bayi hingga dewasa, lalu harus kehilangan sang ibu. Penulis mengenang pengorbanan ibunya sejak masa kecil hingga menemani proses pendidikan. Puncak emosinya hadir saat sang ibu wafat menjelang hari akhir ujian. Di penghujung puisi, tokoh “aku” hanya bisa menunduk di pusara, menabur doa agar ibunya berbahagia di surga.

Puisi pendek juga mampu memuat muatan emosi yang kuat, sebagaimana tampak dalam karya bertajuk “Ibuku” oleh Rekyan Vierry Sudarmono yang dimuat di situs SD Islam Al-Azhar 38 Bantul. Puisi ini menggambarkan ibu yang “menderita karena aku” dan “menangis karena aku”, namun tetap disebut sebagai sosok hebat yang selalu ada di saat anak senang maupun kesulitan. Penutup puisi ditandai ucapan selamat Hari Ibu sebagai bentuk penghormatan sederhana namun tulus.

Karya lain bertajuk “Kasih Sayang Seorang Ibu” karya Anggar Setiarini, yang termuat dalam antologi Rindu Untuk Ibu terbitan Kemdikbud (2012), menggarisbawahi kehangatan fisik dan emosional seorang ibu: sinar wajah yang memancarkan kasih, kulit halus yang membelai anak ketika tidur, hingga nyanyian lembut yang menorehkan senyum. Di dalamnya, cinta ibu digambarkan “indah berseri” dan selalu tulus merawat buah hati.

Dalam puisi “Sajak (Ibu) Rinduku” karya Gesfi Anugrah dari antologi yang sama, kerinduan kepada ibu yang telah tiada dituangkan dalam metafora “embun di mata perempuan renta” yang redup. Penyair menitipkan ibunya kepada Tuhan, memohon agar ia dihibur dengan “melodi dawaiMu” dan ditemani malaikat di alam keabadian. Puisi ini menggambarkan duka dan rindu yang tak pernah benar-benar padam meski waktu berlalu.

Karya “Ibu” oleh Emmy Nitami, juga dalam buku Rindu Untuk Ibu, memotret ibu sebagai “keajaiban yang tak bisa dijelaskan”, pelita di tengah kegelapan, dan sosok pekerja keras yang pengorbanannya tak ternilai. Anak berjanji untuk selalu menjaga ibunya “hingga engkau menutup mata”, sebuah janji yang menjadi doa panjang bagi kesehatan dan keselamatan sang ibu.

Nuansa rindu mendalam juga terasa pada puisi “Rindu untuk Ibu” karya Ruth Elika Cahyati. Dalam puisi tersebut, tokoh “aku” menggambarkan kelelahan bertanya pada fajar dan rembulan tentang ke mana harus melabuhkan rindu pada ibu. Meski mengakui banyak luka dan dilema, ia tetap menempatkan sosok ibu sebagai pembawa “sinar kedamaian” yang mampu meredam amarah dan memulihkan duka. Setiap helaan napas dan doa, katanya, dipersembahkan untuk sang ibu, sekalipun harus menahan rindu dari “pulau seberang”.

Di sisi lain, “Puisi Ibu” yang pernah diasosiasikan dengan Chairil Anwar dan diulas dalam jurnal ilmiah kebahasaan, menyoroti peran ibu sebagai pendidik utama yang hadir dalam setiap fase tumbuh kembang anak. Ibu menegur, memarahi, dan meminta bantuan bukan untuk menyakiti, melainkan membentuk karakter. Ketika anak kecewa atau sakit, ibu menjawab lewat doa di malam sunyi, obat, semangat, dan nasihat. Di akhir puisi, anak memohon kepada Tuhan agar menyejahterakan ibunya selamanya.

Puisi terakhir yang kerap dikutip adalah “Ibu” karya Wiji Thukul. Dalam puisi ini, ibu digambarkan sebagai sosok yang keras namun penuh air mata: pernah mengusir anaknya minggat, tetapi menangis ketika sang anak susah. Ibu menangis saat anak jatuh, ketika adik mencuri sepeda, bahkan saat adik keluar penjara. Ia digambarkan sebagai hati yang rela disakiti namun tetap penuh maaf, “kilau sinar kegaiban Tuhan” yang memperkenalkan anak pada Sang Pencipta.

Berita Terkait