TEKNOLOGI, Perspektif.co.id — Seekor anjing ras campuran Staffordshire Bull Terrier-Shar Pei bernama Rosie nyaris kehilangan nyawanya akibat kanker sel mast yang agresif—sampai pemiliknya, seorang insinyur mesin pembelajaran asal Sydney bernama Paul Conyngham, memutuskan tidak menyerah pada vonis dokter hewan. Tanpa latar belakang biomedis sama sekali, Conyngham menggunakan ChatGPT, AlphaFold milik Google DeepMind, dan serangkaian algoritma pembelajaran mesin untuk merancang vaksin mRNA personalisasi pertama di dunia yang pernah dibuat khusus untuk seekor anjing, mengecilkan tumor sebesar bola tenis di kaki belakang Rosie hingga 75 persen hanya dalam satu bulan.
Rosie didiagnosis menderita kanker sel mast pada 2024 setelah tumor-tumor besar bermunculan di salah satu kaki belakangnya, dan dokter hewan memperkirakan anjing berusia delapan tahun itu hanya memiliki waktu antara satu hingga enam bulan untuk hidup. Conyngham, yang mendirikan Core Intelligence Technologies dan pernah menjabat sebagai direktur di Data Science and AI Association of Australia, sudah menghabiskan puluhan ribu dolar untuk kemoterapi dan beberapa operasi—namun tumor Rosie tetap tak mau menyusut. Menghadapi kenyataan pahit itu dengan mentalitas seorang ilmuwan data, ia membuka ChatGPT dan mulai menyusun strategi riset dari nol.
“Kami mengambil tumornya, melakukan sekuensing DNA, mengubahnya dari jaringan menjadi data, dan menggunakan itu untuk menemukan masalah dalam DNA-nya lalu mengembangkan obat berdasarkan itu,” kata Conyngham kepada program Today milik jaringan televisi Australia pada 15 Maret 2026. “ChatGPT membantu di sepanjang seluruh proses itu.”
ChatGPT menyarankan imunoterapi dan mengarahkan Conyngham ke Ramaciotti Centre for Genomics milik University of New South Wales (UNSW), di mana ia membayar sekitar Rp 47 juta (setara 3.000 dolar AS) untuk sekuensing DNA Rosie. Dari sana, Conyngham membandingkan DNA sehat dari darah Rosie dengan DNA dari tumornya untuk memetakan mutasi yang mendorong pertumbuhan kanker. Ia kemudian menjalankan data tersebut melalui AlphaFold—perangkat AI dari Google DeepMind yang memprediksi struktur tiga dimensi protein—untuk mengidentifikasi mutasi-mutasi yang berpotensi dijadikan target pengobatan.
Associate Professor Martin Smith, direktur Ramaciotti Centre for Genomics sekaligus ahli biologi komputasi di UNSW, awalnya ragu menerima permintaan tidak biasa dari seorang individu swasta yang ingin melakukan sekuensing DNA anjingnya. Namun ketika Conyngham kembali dengan analisis lengkap yang memperlihatkan mutasi-mutasi kunci, Smith langsung terkesan. Smith menggambarkan reaksinya terhadap kerja Conyngham dengan mengatakan, “Paul tidak kenal lelah. Saya seperti, ‘Astaga, itu gila!’”
Setelah sebuah perusahaan farmasi menolak menyediakan obat imunoterapi yang pertama kali diidentifikasi Conyngham sebagai target pengobatan, topik vaksin mRNA pun muncul dalam diskusi bersama tim ilmuwan UNSW, membuka jalan baru yang tidak terduga. Smith kemudian menghubungkan Conyngham dengan Prof. Páll Thordarson, direktur UNSW RNA Institute dan pionir nanomedis asal Islandia. Thordarson mengambil formula setengah halaman yang dirancang Conyngham dan memproduksi vaksin mRNA khusus yang dikemas dalam nanopartikel lipid—teknologi yang sama dengan yang digunakan vaksin COVID-19 Pfizer dan Moderna—dalam waktu kurang dari dua bulan.
“Ini masih di garis terdepan dari mana imunoterapi kanker berada,” kata Thordarson kepada The Australian. “Apa yang Rosie ajarkan kepada kita adalah bahwa pengobatan personalisasi bisa sangat efektif dan dilakukan secara tepat waktu dengan teknologi mRNA.”
Mari Maeda dari Canine Cancer Alliance menghubungkan Conyngham dengan Prof. Rachel Allavena di University of Queensland, seorang peneliti veteriner yang sudah memiliki persetujuan etis yang diperlukan untuk memberikan perawatan eksperimental kepada hewan. Conyngham menempuh perjalanan darat 10 jam membawa Rosie ke Gatton, Queensland, untuk suntikan pertama pada Desember 2025, diikuti dengan booster pada Februari, dan suntikan berikutnya dijadwalkan bulan ini.
Dalam waktu sekitar satu bulan, tumor Rosie menyusut 75 persen. Pada Januari 2026, Conyngham menyaksikan anjingnya melompati pagar untuk mengejar kelinci—perilaku yang sudah menghilang selama masa sakitnya. Martin Smith, yang tidak menyembunyikan keterkejutannya, berkomentar, “Seperti astaga, berhasil!”
“Ini menimbulkan pertanyaan: jika kita bisa melakukan ini untuk seekor anjing, mengapa kita tidak menerapkannya pada semua manusia dengan kanker? Ini memberi harapan kepada banyak orang, dan ini sesuatu yang kami sangat ingin terus kejar,” ujar Smith kepada The Australian.
Para ilmuwan menekankan bahwa ini tetap merupakan satu kasus anekdotal, bukan bukti klinis—satu tumor pada satu anjing yang merespons satu vaksin, tanpa kelompok kontrol, tanpa uji buta, dan tanpa publikasi yang telah ditinjau rekan sejawat. Rosie sendiri memiliki beberapa tumor, dan setidaknya satu di antaranya tidak merespons vaksin pertama. Conyngham kini sedang mengerjakan vaksin kedua untuk menyerang tumor yang resisten tersebut, sementara UNSW telah memulai sekuensing genetik baru minggu ini. Sementara itu, raksasa farmasi seperti Moderna dan Merck juga tengah menjalankan uji klinis manusia atas vaksin kanker mRNA serupa, menjadikan kisah Rosie sebagai preseden kuat di antara gelombang besar inovasi medis berbasis AI yang sedang berlangsung.