15 March 2026, 06:01

ByteDance Tangguhkan Peluncuran Global Seedance 2.0 Usai Dihujani Somasi Hollywood

ByteDance tangguhkan peluncuran global Seedance 2.0 usai dihujani somasi hak cipta dari Disney, MPA, Netflix, Paramount, Sony, dan Warner Bros.

Reporter: Hasida Kuchiki
Editor: Deden M Rojani
566
ByteDance Tangguhkan Peluncuran Global Seedance 2.0 Usai Dihujani Somasi Hollywood
ByteDance menangguhkan peluncuran global Seedance 2.0 usai dihujani somasi hak cipta dari Disney, MPA, Netflix, Paramount, Sony, dan Warner Bros. (AI Generated by: Perspektif.co.id)

TEKNOLOGI, Perspektif.co.id — ByteDance secara resmi menangguhkan rencana peluncuran global model AI video generatif terbarunya, Seedance 2.0, menyusul rentetan sengketa hak cipta yang menghantam perusahaan induk TikTok itu dari berbagai studio besar Hollywood dan platform streaming. Keputusan penundaan ini dilaporkan pertama kali oleh The Information pada Sabtu (14/3), mengutip dua sumber yang memiliki pengetahuan langsung mengenai situasi tersebut. Reuters menyebut pihaknya tidak dapat segera memverifikasi laporan tersebut secara independen, sementara ByteDance belum merespons permintaan komentar.

ByteDance sebelumnya menjadwalkan Seedance 2.0 tersedia bagi pengguna di seluruh dunia pada pertengahan Maret ini, namun rencana tersebut kini ditangguhkan secara penuh. Tim hukum perusahaan tengah bekerja mengidentifikasi dan menyelesaikan potensi persoalan hukum, sementara para insinyur ditugaskan membangun pagar pengaman teknis agar model tidak lagi menghasilkan konten yang berpotensi melanggar kekayaan intelektual pihak ketiga.

Kisruh ini bermula ketika Seedance 2.0 resmi diluncurkan pada 12 Februari 2026 dan langsung viral setelah sebuah video buatan AI yang menampilkan Tom Cruise dan Brad Pitt saling baku hantam menyebar di platform X, meraup lebih dari 3,2 juta penayangan dalam waktu singkat. Video tersebut bukan hanya memperlihatkan kemiripan wajah kedua bintang tanpa izin, melainkan juga membuat komunitas industri hiburan di AS bereaksi keras. Penulis skenario Deadpool & Wolverine, Rhett Reese, meluapkan kekhawatirannya secara terbuka di platform X dengan menulis: “Saya tidak ingin mengatakannya. Ini kemungkinan besar sudah berakhir bagi kita semua.”

Motion Picture Association (MPA) kemudian mengirimkan surat somasi resmi kepada ByteDance—sebuah langkah bersejarah karena merupakan pertama kalinya MPA menyurati perusahaan AI generatif berskala besar—dengan menyebut pelanggaran yang dilakukan Seedance 2.0 sebagai “fitur, bukan kekeliruan” dari sistem tersebut.

“Dalam satu hari saja, layanan AI Tiongkok Seedance 2.0 telah melakukan penggunaan karya berhak cipta AS secara tidak sah dalam skala masif,” kata Charles Rivkin, Ketua dan CEO MPA, dalam pernyataan resmi yang dikutip CNBC.

Disney turut mengirimkan surat somasi kepada ByteDance dengan tuduhan bahwa perusahaan Tiongkok itu secara aktif mendistribusikan dan mereproduksi kekayaan intelektual Disney—termasuk karakter dari waralaba Star Wars dan Marvel—melalui Seedance 2.0 tanpa sepengetahuan maupun persetujuan pemiliknya. Disney bahkan menuding ByteDance telah mengemas Seedance dengan pustaka karakter berhak cipta bajakan seolah-olah materi tersebut merupakan aset domain publik. Tidak lama kemudian, Netflix, Warner Bros., Paramount, dan Sony juga menyusul dengan mengirimkan ancaman hukum masing-masing kepada ByteDance.

Serikat aktor SAG-AFTRA turut mengecam keras apa yang mereka sebut sebagai “pelanggaran terang-terangan” yang difasilitasi oleh model AI ByteDance itu, seraya menegaskan bahwa pelanggaran tersebut mencakup penggunaan suara dan rupa anggota mereka tanpa izin.

Di tengah tekanan bertubi-tubi itu, ByteDance melalui juru bicaranya menyatakan bahwa perusahaan “menghormati hak kekayaan intelektual” dan sedang mengambil langkah-langkah untuk memperkuat perlindungan yang ada. Namun pernyataan tersebut terbukti tidak cukup memuaskan para studio Hollywood yang terus mengintensifkan tekanan hukum mereka.

Seedance 2.0 sendiri sebelumnya sempat dipuji sebagai salah satu model video AI paling canggih yang pernah dirilis, bersaing langsung dengan OpenAI Sora 2, Google Veo 3.1, dan Kling 3.0 milik Kuaishou. Elon Musk termasuk di antara tokoh teknologi yang memuji kemampuan model ini dalam menghasilkan narasi sinematik hanya dari beberapa baris teks prompt. ByteDance memposisikan Seedance 2.0 sebagai alat untuk keperluan film profesional, e-commerce, dan industri periklanan, dengan mengandalkan kemampuan pemrosesan teks, gambar, audio, dan video sekaligus dalam satu arsitektur terpadu.

Hingga kini ByteDance belum memberikan batas waktu pasti kapan akses internasional terhadap Seedance 2.0 akan dibuka kembali, dan hanya menyatakan bahwa hal itu baru akan terjadi setelah mekanisme perlindungan hak cipta dan pertahanan terhadap konten deepfake selesai difinalisasi sepenuhnya, sebagaimana dilaporkan Reuters.

Berita Terkait