Perspekti.co.id - Sabrang Mowo Damar Panuluh alias Noe Letto akhirnya angkat bicara merespons gelombang komentar publik setelah dirinya ditunjuk sebagai Tenaga Ahli Dewan Pertahanan Nasional (DPN). Melalui pernyataan yang disampaikan di kanal pribadinya, Noe menegaskan penunjukan itu tidak akan mengubah sikapnya, termasuk dalam menyampaikan kritik dan masukan kepada pemerintah.
Noe menyatakan independensinya tetap sama seperti sebelumnya. Ia menolak anggapan bahwa posisinya di DPN akan membuatnya kehilangan daya kritis. “Mulut saya tidak akan saya gadaikan,” ujar Noe, menekankan bahwa ia tetap akan bicara sesuai keyakinan dan tanggung jawabnya. (Liputan6) Dalam penjelasan yang sama, Noe juga menekankan peran tenaga ahli bukanlah pembuat kebijakan, melainkan pemberi masukan berbasis analisis dan realitas objektif.
Soal akuntabilitas, Noe menyebut komitmennya sederhana: rekomendasi yang ia sampaikan di forum resmi akan tetap ia komunikasikan secara terbuka. Ia juga menyatakan siap mundur jika perannya dinilai tidak efektif. “Kalau enggak kepake usulan saya, ya saya resign,” ucapnya, seraya menyebut ia ingin memberi waktu untuk membuktikan apakah masukan tersebut benar-benar dipakai.
Noe turut menceritakan proses hingga ia menerima penugasan itu tidak berlangsung singkat. Ia mengaku mempertimbangkan tawaran tersebut cukup panjang, termasuk menguji apakah kejujurannya bisa diterima dalam sistem. Dalam uraian yang dikutip Liputan6, Noe menyebut selama ini ia berada di “zona nyaman” lewat aktivitas sosial-kultural bersama komunitas Maiyah, namun tawaran untuk masuk ke DPN ia timbang sebagai peluang agar obrolan dan analisis yang selama ini dibangun bisa sampai ke ruang pengambil kebijakan.
Di sisi pemerintah, pelantikan tenaga ahli DPN berlangsung di Kementerian Pertahanan RI pada Kamis, 15 Januari 2026, dipimpin langsung Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin selaku Ketua Harian DPN. Kemenhan menyebut pengangkatan itu merupakan langkah strategis untuk memperkuat jajaran pemikir di tubuh DPN menghadapi dinamika tantangan global. (Kementerian Pertahanan) Dalam keterangan resmi DPN, pelantikan dilakukan berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 202 Tahun 2024 serta Keputusan Ketua Harian DPN Nomor KEP/3/KH/X/2025, dengan mandat memperkuat kapasitas DPN sebagai “think tank” pertahanan yang memberi rekomendasi kebijakan strategis lintas sektor.
Kemenhan juga menegaskan penunjukan tenaga ahli dilakukan dengan pertimbangan profesional. Karo Humas Setjen Kemhan Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait mengatakan Noe resmi dilantik sebagai Tenaga Ahli Madya dan akan memberi dukungan pemikiran strategis. “Pengangkatan dilakukan berdasarkan kebutuhan organisasi serta pertimbangan profesional, kompetensi, dan rekam jejak,” ujarnya.
DPN menyebut pelantikan tersebut juga melibatkan sejumlah tokoh dari berbagai disiplin, termasuk Frank Alexander Hutapea serta Noe, bersama nama-nama lain yang tercantum dalam rilis kelembagaan. Penempatan tenaga ahli itu diarahkan untuk mengisi peran pada bidang-bidang strategis seperti geoekonomi, geopolitik, dan geostrategi, sehingga rekomendasi yang lahir tidak hanya bertumpu pada aspek teknis, tetapi juga mempertimbangkan konteks sosial, budaya, dan komunikasi strategis.