Perspektif.co.id - Taubat menjadi salah satu bentuk penghambaan utama seorang muslim ketika menyadari pernah terjerumus dalam dosa. Dalam ajaran Islam, pintu taubat selalu terbuka, salah satunya melalui pelaksanaan salat taubat disertai doa dan istighfar yang tulus.
Taubat dimaknai sebagai permohonan ampun kepada Allah SWT atas kesalahan yang telah dilakukan, disertai penyesalan sungguh-sungguh dan tekad kuat untuk tidak mengulanginya. Karena itu, ulama menekankan pentingnya salat taubat sebagai wujud nyata upaya kembali kepada jalan yang diridai Allah.
Secara umum, salat taubat termasuk ibadah sunah yang dikerjakan sedikitnya dua rakaat. Amalan ini bisa dilakukan kapan saja di luar waktu yang dilarang untuk salat, dan dianjurkan minimal sekali dalam kehidupan seorang muslim sebagai bentuk pengakuan atas kelemahan dan dosa di hadapan Allah SWT.
Dalam keterangan yang dikutip dari NU Online, dijelaskan sebuah hadis yang diriwayatkan Imam Tirmizi dari sahabat Ali bin Abi Thalib ra. dari Abu Bakar Ash-Shiddiq ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda:
مَا مِنْ رَجُلٍ يُذْنِبُ ذَنْبًا ثُمَّ يَقُومُ فَيَتَطَهَّرُ، ثُمَّ يُصَلِّي ثُمَّ يَسْتَغْفِرُ اللَّهَ إِلَّا غَفَرَ لَهُ
Artinya: “Tidaklah seseorang berbuat dosa, kemudian ia bangkit berwudhu, lalu mengerjakan salat dan beristighfar memohon ampun kepada Allah, kecuali Allah akan mengampuninya.”
Hadis tersebut menegaskan bahwa taubat tidak hanya cukup dengan penyesalan di hati, tetapi perlu diwujudkan melalui amal ibadah, termasuk bersuci, salat, dan memperbanyak istighfar.
Setelah salat taubat selesai dikerjakan, umat Islam dianjurkan membaca doa dan istighfar khusus sebagai bentuk pengakuan dosa dan permohonan ampun secara lebih eksplisit.
Berikut bacaan doa setelah salat taubat dalam bahasa Arab, latin, dan terjemahannya sebagaimana disarikan detikHikmah.
Pertama, dianjurkan memperbanyak istighfar dengan bacaan berikut:
أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْم الَّذِي لَا إِلهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُ الْقَيُّوْمُ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ
Latin: Astaghfirullāhal ‘azhīm, alladzī lā ilāha illā huwa al-ḥayyul qayyūmu wa atūbu ilaih.
Artinya: “Aku memohon ampun kepada Allah Yang Maha Agung, Dzat yang tidak ada Tuhan selain Dia, Yang Maha Hidup dan Maha Berdiri Sendiri. Aku bertaubat kepada-Nya.”
Istighfar ini menjadi penegasan bahwa hamba menyadari sepenuhnya kesalahan yang telah diperbuat, seraya mengakui keagungan Allah SWT sebagai satu-satunya tempat kembali.
Setelah itu, doa dilanjutkan dengan bacaan yang dikenal sebagai salah satu doa taubat yang masyhur:
اللّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لآاِلهَ اِلَّااَنْتَ خَلَقْتَنِي وَأَناَ عَبْدُكَ وَأَناَ عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ أَعُوْذُ بِكَ من شَرِّمَاصَنَعْتَ. اَبُوْءُلَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَي وَأَبُوْءُ بِذَنْبِي فَاغْفِرْلِي فَإِنَّهُ لاَيَغْفِرُ الذُّنُوْبَ اِلاَّ اَنْتَ
Latin: Allāhumma anta rabbī lā ilāha illā anta khalaqtanī wa anā ‘abduka wa anā ‘alā ‘ahdika wa wa‘dika mas-tatha‘tu, a‘ūdzu bika min syarri mā shana‘tu. Abū’u laka bi ni‘matika ‘alayya wa abū’u bi dzanbī faghfir lī fa innahu lā yaghfiru dz-dzunūba illā anta.
Artinya: “Ya Allah, Engkaulah Tuhanku, tiada yang berhak disembah selain Engkau. Engkaulah yang telah menciptakanku dan aku adalah hamba-Mu. Aku tetap berada dalam perjanjian dan janji-Mu selama aku mampu. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan yang telah aku perbuat. Aku mengakui segala nikmat-Mu kepadaku dan aku mengakui dosaku. Maka ampunilah aku, karena sesungguhnya tidak ada yang dapat mengampuni dosa selain Engkau.”
Doa ini berisi pengakuan penuh seorang hamba terhadap nikmat Allah yang tak terhitung, sekaligus kejujuran mengakui dosa yang telah dilakukan. Pada saat yang sama, hamba menegaskan komitmen untuk memegang janji kepada Allah dan berupaya meninggalkan perbuatan maksiat.
Selain doa setelah salat taubat, umat Islam juga perlu memahami bacaan niat ketika hendak mengerjakan salat taubat. Niat ini cukup dihadirkan di dalam hati, namun boleh pula dilafalkan sebagai penguat kesadaran.
Bacaan niat salat taubat adalah sebagai berikut:
أُصَلِّي سُنَّةَ التَّوْبَةِ
Latin: Ushallī sunnatat taubati.
Artinya: “Aku berniat mengerjakan salat sunah taubat.”
Dengan niat yang benar, istighfar yang sungguh-sungguh, serta doa yang dipanjatkan setelah salat taubat, seorang muslim diharapkan semakin terdorong untuk memperbaiki diri dan tidak mengulangi dosa serupa. Taubat tidak berhenti pada satu ibadah, tetapi mesti tercermin dalam perubahan sikap dan perilaku di kehidupan sehari-hari.
Pada akhirnya, rangkaian wudhu, salat, istighfar, dan doa setelah salat taubat menjadi satu kesatuan proses spiritual yang mengingatkan manusia bahwa sebesar apa pun dosa yang pernah dilakukan, rahmat dan ampunan Allah SWT jauh lebih luas selama hamba tidak putus asa dan terus kembali kepada-Nya.