21 February 2026, 14:26

Doyan Junk Food Bikin Kista Ovarium Muncul? Dokter Beberkan “Yang Paling Rentan” dan Cara Tekan Risikonya

Pola makan modern yang kian didominasi makanan cepat saji atau junk food kembali disorot lantaran dinilai berkaitan dengan berbagai persoalan kesehatan perempua

Reporter: M. Ansori
Editor: Deden M Rojani
685
Doyan Junk Food Bikin Kista Ovarium Muncul? Dokter Beberkan “Yang Paling Rentan” dan Cara Tekan Risikonya
Foto: Shutterstock

JAKARTA, Perspektif.co.id - Pola makan modern yang kian didominasi makanan cepat saji atau junk food kembali disorot lantaran dinilai berkaitan dengan berbagai persoalan kesehatan perempuan, termasuk kemunculan kista ovarium. Namun dokter menekankan, tidak semua jenis kista lahir dari gaya hidup. Ada tipe kista yang lebih dipengaruhi faktor seluler atau genetik, sementara tipe lain justru bisa “dipantik” pola makan, berat badan, dan pola aktivitas. 

Dokter spesialis obstetri dan ginekologi Dr dr Andon Hestiantoro, SpOG-KFER, menjelaskan kista ovarium memiliki beberapa jenis. Jika kista bersifat neoplastik—pertumbuhan sel abnormal yang murni terkait faktor genetik atau perubahan sel—maka pola hidup biasanya bukan faktor utama. Situasinya berbeda pada kista endometriosis yang lebih erat kaitannya dengan faktor inflamasi dan gaya hidup.

“Gaya hidup itu biasanya berkaitan dengan endometriosis. Jadi kalau gaya hidup yang baik, olahraga yang teratur, asupan yang tidak tinggi kalori, bukan junk food, itu sebenarnya sudah dapat dimanfaatkan untuk menjaga timbulnya kista endometriosis,” ujar Andon saat diwawancarai. 

Kaitan junk food dengan kista endometriosis, menurut penjelasan tersebut, berangkat dari karakter makanan cepat saji yang cenderung memicu peradangan atau inflamasi sistemik. Artikel itu mengutip temuan dalam jurnal bertajuk Influence of Diet on the Risk of Endometriosis yang menyebut makanan cepat saji umumnya tinggi lemak trans dan lemak jenuh, yang dapat mendorong peningkatan sitokin pro-inflamasi dalam tubuh. Kondisi peradangan kronis inilah yang kemudian disebut dapat memperburuk jaringan endometrium dan memicu pertumbuhan kista cokelat (kista endometriosis) yang kerap menimbulkan nyeri. 

Tak berhenti di peradangan, komposisi junk food yang kaya gula tambahan dan karbohidrat rafinasi juga dinilai punya jalur risiko lain: memicu lonjakan insulin. Dalam artikel tersebut, kondisi hiperinsulinemia disebut dapat mengganggu keseimbangan hormon reproduksi. Rujukan yang disertakan, yakni studi dalam jurnal Nutrition in the Management of Ovarian Cysts, menjelaskan kadar insulin yang tinggi bisa menstimulasi ovarium untuk memproduksi lebih banyak hormon androgen sekaligus mengganggu regulasi estrogen. Ketidakseimbangan hormon itu disebut menjadi “bahan bakar” bagi tumbuhnya kista fungsional di ovarium.

Andon juga menekankan pengendalian berat badan bukan sekadar urusan penampilan, tetapi berkaitan langsung dengan fungsi organ reproduksi. Konsumsi kalori berlebih—yang umum terjadi pada pola makan tinggi junk food—dapat memicu obesitas sentral. Jaringan lemak, kata Andon, bersifat aktif secara metabolik dan dapat menghasilkan estrogen tambahan. Bila kondisi “dominasi estrogen” terjadi, risiko pertumbuhan kista jinak hingga tumor rahim disebut meningkat. 

Karena itu, langkah pencegahan yang disorot bukan semata “pantang” satu jenis makanan, melainkan menggeser pola makan ke asupan yang lebih utuh dan seimbang. Andon menyarankan perempuan lebih selektif memilih asupan harian dengan mengganti junk food menjadi whole foods yang kaya serat, antioksidan, dan omega-3 untuk membantu tubuh menghadapi stres oksidatif. “Makanan sehat itu sebenarnya sudah dapat dimanfaatkan untuk menjaga (kesehatan reproduksi),” pungkas Andon. 

Di tengah tren konsumsi makanan cepat saji yang makin mudah diakses, penjelasan dokter ini mempertegas bahwa isu kista ovarium tidak bisa disederhanakan menjadi “junk food pasti penyebab kista”. Namun, untuk jenis tertentu—terutama yang berkaitan dengan endometriosis dan ketidakseimbangan metabolik—kualitas nutrisi, peradangan, dan kontrol hormon bisa menjadi rangkaian faktor yang saling menguatkan. Bagi perempuan yang mengalami keluhan nyeri hebat saat haid, nyeri panggul, atau gangguan siklus, pemeriksaan ke dokter tetap menjadi langkah paling aman untuk memastikan penyebab dan penanganannya. 

Berita Terkait