TEKNOLOGI, Perspektif.co.id — Microsoft Gaming memasuki fase paling sensitif dalam satu dekade terakhir setelah Asha Sharma resmi menggantikan Phil Spencer, yang pensiun setelah 38 tahun membangun ekosistem Xbox. Penunjukan Sharma—yang sebelumnya memimpin divisi CoreAI Microsoft—langsung memicu reaksi keras dari komunitas gamer global yang mempertanyakan latar belakangnya di bidang kecerdasan buatan. Mantan Presiden EA Sports sekaligus eks eksekutif Xbox, Peter Moore, menjadi salah satu suara paling vokal yang menilai Sharma harus bergerak cepat untuk meredam keresahan tersebut, sebagaimana ia sampaikan dalam wawancara dengan GamesBeat (VentureBeat).
Moore menegaskan bahwa fokus Sharma harus jelas sejak hari pertama. “AI harus melayani pemain, bukan spreadsheet,” ujar Moore kepada GamesBeat, menekankan bahwa gamer saat ini memandang AI sebagai ancaman terhadap kreativitas dan identitas game.
Moore juga menilai bahwa Sharma perlu membangun kepercayaan internal sebelum mengambil keputusan strategis. “Dia hanya perlu mendengar dan belajar,” kata Moore dalam wawancara yang sama, menyarankan agar Sharma melakukan tur mendengarkan ke seluruh studio Xbox seperti yang dulu dilakukan Phil Spencer.
Moore kemudian menyinggung tekanan psikologis yang akan dihadapi Sharma di tengah sorotan publik yang intens. “Imposter syndrome itu nyata. Jika dia tidak terbangun jam 3 pagi bertanya apa yang harus dilakukan untuk memenangkan hati gamer, dia seharusnya khawatir,” tegas Moore, merujuk pada gelombang kritik yang muncul hanya beberapa jam setelah Sharma membagikan Gamertag-nya di media sosial.
Di sisi lain, co-founder Xbox Seamus Blackley memperingatkan bahwa masa depan Xbox tidak akan mudah. Dalam pernyataan publiknya di X (Twitter), Blackley menyebut posisi CEO baru sebagai situasi yang penuh tantangan. “Ini akan menjadi masa yang menyakitkan,” tulis Blackley, menggambarkan bahwa transformasi besar yang melibatkan AI, efisiensi biaya, dan ekspektasi gamer akan menempatkan Sharma dalam tekanan yang belum pernah dialami pendahulunya.
Moore menilai bahwa Sharma sebenarnya berada pada posisi unik: ia memahami AI dari sisi teknis dan bisnis, namun harus mampu menerjemahkannya menjadi nilai nyata bagi pemain. Jika AI dapat membantu menekan biaya produksi game AAA yang terus membengkak dan mempercepat proses kreatif tanpa mengorbankan kualitas, Sharma berpotensi mengubah persepsi publik. Namun, ia harus membuktikan bahwa teknologi tersebut bukan sekadar alat optimasi korporat.
Kini, Sharma menghadapi tantangan terbesar dalam kariernya: mengembalikan kepercayaan komunitas, menjaga stabilitas internal, dan menentukan arah baru Xbox di tengah industri yang semakin kompetitif. Moore menegaskan bahwa langkah pertama Sharma harus sederhana namun krusial—mendengarkan, memahami, dan membangun narasi bahwa AI adalah alat untuk memperkuat kreativitas, bukan menggantikannya.