02 March 2026, 21:45

Google Wajibkan Semua Karyawan Gunakan AI, Kini Jadi Faktor Penilaian Kinerja

Google mewajibkan seluruh karyawan memakai AI dan memasukkannya ke penilaian kinerja, menandai perubahan besar budaya kerja internal.

Reporter: Hasida Kuchiki
Editor: Deden M Rojani
500
Google Wajibkan Semua Karyawan Gunakan AI, Kini Jadi Faktor Penilaian Kinerja
Ilustrasi Google HQ dengan elemen AI dan karyawan, menggambarkan kebijakan penilaian kinerja berbasis AI yang kini wajib di internal Google. (AI Generated by: Perspektif.co.id)

TEKNOLOGI, Perspektif.co.id — Google memperketat kebijakan internal dengan mewajibkan seluruh karyawan—termasuk staf non-teknis—menggunakan alat AI dalam pekerjaan harian mereka. Kebijakan ini mulai diterapkan setelah para manajer menyampaikan bahwa penggunaan AI akan masuk dalam penilaian kinerja tahunan, sebuah langkah yang menandai fase baru strategi perusahaan untuk mengintegrasikan kecerdasan buatan ke seluruh lini operasional.

Tekanan untuk mengadopsi AI meningkat dalam beberapa minggu terakhir ketika sejumlah karyawan non-teknis mengungkap bahwa mereka diminta memanfaatkan AI untuk menyusun dokumen strategi, menganalisis panggilan penjualan, hingga menghasilkan wawasan pelanggan. Beberapa tim bahkan menerima target penggunaan mingguan untuk memastikan adopsi berjalan konsisten.

“Sepertinya tidak perlu dipikirkan lagi bahwa Anda perlu menggunakannya untuk maju,” ujar salah satu karyawan yang menilai bahwa penggunaan AI kini menjadi syarat tak tertulis untuk berkembang di perusahaan.

Kebijakan ini sejalan dengan arahan CEO Sundar Pichai yang menegaskan bahwa Google harus memanfaatkan AI secara agresif untuk tetap kompetitif, terutama ketika pesaing seperti Microsoft dan Meta juga menerapkan mandat serupa. Pichai sebelumnya mengingatkan bahwa perusahaan lain akan memaksimalkan AI secara internal, sehingga Google harus memastikan seluruh karyawan bergerak ke arah yang sama.

“Karyawan perlu menggunakan AI untuk Google untuk memimpin perlombaan ini,” kata Pichai dalam pertemuan internal yang menekankan urgensi transformasi budaya kerja berbasis AI.

Di beberapa divisi, ekspektasi penggunaan AI kini dimasukkan langsung ke dalam role profile—dokumen resmi yang menjelaskan tugas dan standar kerja setiap posisi. Hal ini membuat penggunaan AI bukan lagi sekadar anjuran, tetapi bagian formal dari tanggung jawab pekerjaan.

Google sebelumnya telah meminta para insinyur untuk menggunakan asisten coding berbasis AI, sementara staf non-teknis diarahkan memanfaatkan alat internal yang dapat merekam panggilan telepon dan membuat catatan otomatis. Beberapa karyawan penjualan menyebut mereka memiliki kuota penggunaan mingguan untuk alat tersebut.

Langkah ini mencerminkan dorongan besar Google untuk mempercepat adopsi AI di tengah persaingan ketat dengan OpenAI dan Microsoft. Perusahaan menilai bahwa produktivitas internal berbasis AI akan menjadi fondasi penting dalam pengembangan produk dan inovasi jangka panjang.

Berita Terkait