23 December 2025, 23:50

H-2 Natal Stasiun Pasar Senen Padat, Porter Mulai “Panen” Order Panggulan: Sehari Bisa 10 Kali Angkut

Suasana Stasiun Pasar Senen, Jakarta Pusat, mulai dipenuhi penumpang yang hendak bepergian untuk libur Natal dan Tahun Baru (Nataru).

Reporter: M. Ansori
Editor: Zainur Akbar
1,273
H-2 Natal Stasiun Pasar Senen Padat, Porter Mulai “Panen” Order Panggulan: Sehari Bisa 10 Kali Angkut
Porter di Stasiun Senen (Adfhar/detikcom)

Perspektif.co.id - Suasana Stasiun Pasar Senen, Jakarta Pusat, mulai dipenuhi penumpang yang hendak bepergian untuk libur Natal dan Tahun Baru (Nataru). Kepadatan penumpang bukan cuma terasa di peron dan ruang tunggu, tetapi juga berdampak langsung pada aktivitas porter pengangkut barang yang ikut kebanjiran permintaan jasa panggulan, terutama memasuki H-2 Natal.

Salah satu porter, Solihudin, mengaku ritme kerja meningkat dalam dua hari terakhir seiring membludaknya penumpang. Pria asal Kebumen, Jawa Tengah, itu menyebut bisa mengangkut barang penumpang lebih dari 10 kali dalam sehari selama masa Nataru. “Ya alhamdulillah ya 10 kali ada,” kata Solihudin saat ditemui di Stasiun Pasar Senen, Selasa (23/12/2025).

Lonjakan aktivitas itu ikut mengerek pendapatan harian. Solihudin menyebut penghasilannya pada masa Nataru bisa tembus lebih dari Rp150 ribu per hari, lebih tinggi dibanding hari biasa. “Ya alhamdulillah kalau sekarang segitu (Rp150 ribu) ya,” ujarnya.

Meski ramai, Solihudin menilai situasi Nataru tahun ini tidak sepadat tahun-tahun sebelumnya. Ia mengatakan penumpang baru benar-benar padat pada dua hari terakhir. “Kalau ramainya malah tahun-tahun dulu lebih ramai. Ini baru dua malam, dua hari inilah ada ramai,” katanya.

Di tengah meningkatnya permintaan jasa, persoalan tarif masih jadi realitas yang harus dihadapi porter di lapangan. Solihudin mengaku sesekali mendapat bayaran yang jauh di bawah tarif resmi layanan e-Porter KAI. Ia mengingat pernah diberi Rp15 ribu oleh penumpang pada hari itu, sementara tarif yang tertera pada aplikasi e-Porter KAI dipatok Rp38 ribu. “Yang ngasih Rp15 ribu juga ada. Tadi pagi saya dikasih Rp15 ribu. Kadang bawa sedikit mau minta lagi gimana kan nggak enak,” tutur Solihudin.

Dari sisi jam kerja, ia menjelaskan para porter di Stasiun Pasar Senen bekerja dengan sistem shift. Dalam sehari, waktu kerja bisa mencapai 12 jam dan dilakukan bergantian. “Ya pokoknya tiap hari Senin itu rolling. Jadi jam 7 sampai jam 7. Jam 7 pagi sampai jam 7 malam, kayak gitu. Nah, dua shift sih,” ujarnya.

Solihudin juga bercerita soal keseharian sebagai perantau. Ia mengaku pulang ke kampung halaman di Kebumen sebulan sekali untuk menemui keluarga yang ditinggalkan demi bekerja di Jakarta. “Kalau saya sebulan sekali pulang. Sebulan sekali di sini, nanti di rumah seminggu atau 10 hari ke sini lagi nengok keluarga di kampung semuanya,” kata dia.

Kondisi Stasiun Pasar Senen yang mulai padat menjelang puncak Nataru memperlihatkan efek ekonomi mikro yang bergerak di simpul transportasi publik. Ketika arus penumpang meningkat, aktivitas jasa penunjang seperti porter ikut terdorong—meski tantangan soal kepastian tarif dan standar layanan tetap menjadi catatan yang muncul berulang dari cerita para pekerja lapangan.

Berita Terkait