15 December 2025, 06:00

IBM Bongkar 5 Tren AI 2026: Dari Sovereign AI sampai Quantum, Disiapkan Jadi “Mesin Pertumbuhan” Bisnis

Perusahaan teknologi IBM memaparkan arah tren kecerdasan buatan (AI) yang diproyeksikan kian dominan pada 2026

Reporter: Ihsan Nurdin
Editor: Zainur Akbar
1,786
IBM Bongkar 5 Tren AI 2026: Dari Sovereign AI sampai Quantum, Disiapkan Jadi “Mesin Pertumbuhan” Bisnis
IBM memprediksi tren AI 2026, termasuk sovereign AI dan quantum computing. Perusahaan perlu fokus pada kedaulatan digital dan pengembangan SDM untuk sukses. (Foto: REUTERS/DADO RUVIC)

Perspektif.co.id - Perusahaan teknologi IBM memaparkan arah tren kecerdasan buatan (AI) yang diproyeksikan kian dominan pada 2026, mulai dari konsep sovereign AI (AI berdaulat) hingga adopsi komputasi kuantum. Paparan itu disampaikan dalam sesi media briefing di Jakarta pada Kamis (11/12/2025), yang menyoroti bagaimana AI bergerak dari sekadar eksperimen menjadi fondasi strategi bisnis lintas industri.

General Manager & Technology Leader IBM ASEAN, Catherine Lian, menyebut IBM merangkum “lima pondasi tren” yang dinilai akan membentuk transformasi industri sepanjang 2026. “Para eksekutif global menilai bahwa AI kini bukan lagi sekadar alat otomasi, melainkan fondasi strategis bagi pertumbuhan bisnis,” ujar Catherine dalam pemaparan di Jakarta. 

Tren pertama yang disoroti adalah sovereign AI—pendekatan yang menempatkan kedaulatan data, teknologi, dan infrastruktur sebagai bagian dari strategi pertumbuhan, bukan hanya kepatuhan. IBM memproyeksikan pada 2027 sekitar 80% organisasi multinasional di Asia Pasifik akan menerapkan strategi data yang berdaulat, seiring menguatnya kebutuhan perusahaan menjaga kontrol atas data dan sistem yang digunakan. 

Arah ini ikut didorong pertumbuhan pasar layanan cloud berdaulat. IBM memperkirakan pasar sovereign cloud di Asia Pasifik meningkat 4,5 kali, dari US$37 miliar (2023) menjadi US$169 miliar (2028). Catherine menilai lonjakan tersebut membuat isu kedaulatan digital tak bisa lagi diperlakukan sebagai urusan teknis semata, melainkan harus menjadi prioritas di level pengambil keputusan tertinggi perusahaan. “Kita harus memastikan kedaulatan digital menjadi prioritas di tingkat dewan direksi. Kita harus mengadopsi hybrid cloud,” kata Catherine. 

Tren kedua, IBM menyebut AI akan berperan sebagai growth multiplier atau pengganda pertumbuhan. Narasinya bergeser: dari otomatisasi proses, ke efisiensi biaya, lalu naik kelas menjadi pendorong penciptaan pendapatan. Catherine menggambarkan fase ini sebagai momen ketika AI bukan lagi “alat bantu operasional”, tetapi semakin sering diposisikan sebagai enabler untuk menemukan model bisnis, diferensiasi, dan kanal pemasukan baru. 

Dari sisi kepemimpinan bisnis global, IBM Institute for Business Value (IBV) menekankan bahwa keberhasilan AI tidak ditentukan teknologi saja. Studi IBM mencatat 64% CEO menilai keberhasilan generative AI lebih bergantung pada adopsi manusia ketimbang teknologinya. Dalam laporan IBM IBV yang membahas skala penerapan generative AI, IBM juga menuliskan bahwa 72% CEO berkinerja terbaik menilai keunggulan kompetitif bergantung pada siapa yang memiliki generative AI paling maju

Tren ketiga adalah scaling agent interoperability, yakni masuknya era agentic AI yang bekerja dalam skala besar dan saling terhubung dalam operasi bisnis. IBM menilai perusahaan perlu menyiapkan arsitektur yang memungkinkan agen AI berkolaborasi, menjaga aliran data dan kontrol, serta mengukur dampaknya terhadap cara kerja karyawan. Catherine menyebut gelombang ini akan mengubah operasional karena agen AI semakin “kontekstual”, dapat mengambil keputusan, dan bekerja sebagai bagian dari proses bisnis.

Tren keempat adalah trusted AI atau AI yang terpercaya—isu yang makin menonjol ketika AI mulai menyentuh keputusan bisnis, layanan publik, hingga aktivitas yang beririsan dengan data pribadi. Dalam paparan tren, IBM menekankan kebutuhan transparansi pada produk yang memakai AI, kejelasan manfaat berbagi data, opsi kontrol seperti penghapusan data, serta uji coba fitur sebelum peluncuran. Di level tata kelola, IBM juga menyoroti bahwa kepercayaan dan governance harus disiapkan sejak awal agar penerapan AI tidak memicu resistensi pengguna maupun risiko reputasi. 

Tren kelima adalah quantum advantage—adopsi komputasi kuantum sebagai perjalanan strategis bisnis. IBM menyebut komputasi kuantum berpotensi meningkatkan kemampuan pemecahan masalah dibanding metode klasik pada aspek akurasi, waktu komputasi, maupun biaya untuk kasus-kasus tertentu. Kunci lainnya adalah integrasi ekosistem: organisasi yang siap kuantum dinilai cenderung terlibat dalam beberapa ekosistem sekaligus, termasuk lewat pola kemitraan.

Di luar kelima tren itu, IBM menegaskan faktor yang tak kalah menentukan adalah sumber daya manusia. Dorongan investasi AI dan kesiapan teknis akan pincang bila perusahaan tidak menutup gap keterampilan dan budaya kerja. IBM menggarisbawahi bahwa tantangan terbesar bukan cuma “memasang” AI, tetapi memastikan organisasi mampu mengadopsinya secara konsisten—mulai dari reskilling hingga manajemen perubahan di level operasional. 

Berita Terkait