TEKNOLOGI, Perspektif.co.id — Michael Burry kembali memicu perdebatan besar di komunitas teknologi setelah menegaskan bahwa gelombang investasi pada Large Language Models (LLM) sedang bergerak ke arah yang salah. Dalam tulisan terbarunya di Cassandra Unchained, ia menilai bahwa model bahasa modern dibangun dengan fondasi cacat karena menempatkan bahasa sebelum kemampuan bernalar, sebuah pendekatan yang menurutnya bertentangan dengan cara manusia mengembangkan kecerdasan.
“Dengan menaruh bahasa sebelum kapasitas bernalar, kita tidak sedang membangun kecerdasan—kita hanya membuat cermin yang semakin canggih,” tulis Burry.
Pernyataan itu muncul setelah ia menemukan arsip koran tahun 1880 yang memuat kisah Melville Ballard, seorang anak tunarungu yang mampu membangun pemikiran abstrak tentang asal-usul manusia sebelum mengenal bahasa. Burry menilai kasus tersebut sebagai bukti historis bahwa penalaran dapat muncul tanpa struktur linguistik, sehingga pendekatan LLM saat ini berpotensi gagal mencapai pemahaman sejati.
“Ini adalah kisah sederhana yang menunjukkan bahwa pemikiran kompleks hadir dalam keheningan sebelum kata-kata,” tulisnya dalam analisis yang menghubungkan sejarah dengan kecemasan modern tentang AI.
Burry juga menyoroti bahwa beberapa perusahaan teknologi mulai bergerak ke arah yang ia anggap lebih tepat, seperti pendekatan “reason-first” yang dikembangkan dalam proyek-proyek seperti AlphaGeometry dan Coconut, yang mencoba membangun kemampuan penalaran sebelum kemampuan berbahasa. Ia menilai tren ini sebagai sinyal bahwa industri mulai menyadari keterbatasan LLM konvensional dan mencari arsitektur alternatif yang lebih mendekati kecerdasan manusia.
Kritik Burry muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran bahwa industri AI sedang terjebak dalam perlombaan membakar modal tanpa arah yang jelas. Dengan rekam jejaknya yang pernah memprediksi krisis finansial 2008, komentarnya kembali menarik perhatian investor, peneliti, dan regulator yang mempertanyakan apakah model bahasa raksasa benar-benar dapat berkembang menjadi kecerdasan yang memahami dunia, bukan sekadar meniru pola.