18 May 2026, 15:34

Saham Robotika Asia Melonjak ke Rekor Tertinggi usai Fanuc-Google Umumkan Kemitraan Physical AI

Saham Fanuc melonjak 16% ke rekor tertinggi usai umumkan kemitraan dengan Google integrasikan Gemini Enterprise ke 1,1 juta robot industri di Asia.

Reporter: Hasida Kuchiki
Editor: Deden M Rojani
237
Saham Robotika Asia Melonjak ke Rekor Tertinggi usai Fanuc-Google Umumkan Kemitraan Physical AI
Era Physical AI: investasi robotika Asia melonjak tajam seiring kemitraan Fanuc-Google integrasikan Gemini Enterprise ke 1,1 juta robot industri global, 2026. (Foto: Fanuc)

TEKNOLOGI, Perspektif.co.id — Saham sektor robotika di seluruh Asia mencatat lonjakan tajam pekan ini seiring bergesernya arus investasi kecerdasan buatan dari infrastruktur chip semata menuju mesin fisik yang mampu berinteraksi langsung dengan dunia nyata. Saham Fanuc, produsen lengan robot terbesar di dunia, melejit hingga 16% ke rekor intraday tertinggi sepanjang sejarah perusahaan setelah pengumuman kemitraan strategis bersama Google pada 13 Mei 2026.

Fanuc mengintegrasikan Google Cloud Gemini Enterprise dan platform robotika Intrinsic milik Google ke dalam sistem robot industri mereka, memungkinkan 1,1 juta unit robot Fanuc yang sudah terpasang di pabrik-pabrik seluruh dunia untuk memahami instruksi manusia, mengenali objek, dan berkoordinasi secara otonom.

Saham Fanuc di Bursa Tokyo menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa di angka 8.880 yen—atau sekitar Rp942.000—sementara perusahaan mengungkapkan permintaan terus mengakselerasi setelah mereka mengirimkan lebih dari 1.000 robot berteknologi physical AI sejak pertama kali memperkenalkan teknologi tersebut pada Desember lalu.

“Ini adalah pertama kalinya Fanuc secara langsung bermitra dengan Google untuk mengintegrasikan model AI dan perangkat lunak mereka ke dalam robot-robot Fanuc,” tulis The New Money dalam laporannya.

Dalam konferensi GTC 2026 Nvidia yang dihadiri 30.000 peserta, physical AI menjadi tema dominan. Fanuc sebelumnya telah mengumumkan integrasi framework simulasi Isaac dan pustaka Omniverse dari Nvidia pada Maret 2026, dan kemitraan Google kini menambahkan lapisan foundation model di atas infrastruktur tersebut—menciptakan tumpukan AI dua platform yang belum dimiliki kompetitor manapun.

Bloomberg melaporkan kemitraan ini menempatkan Google dalam posisi untuk melakukan terhadap robot pabrik apa yang dulu dilakukan Android terhadap ponsel.

Selama tiga tahun terakhir, perusahaan perancang chip untuk pelatihan model AI mendominasi tajuk berita pasar dengan valuasi selangit. Namun hambatan teknologi kini telah bergeser—algoritma sudah sangat canggih, tetapi membutuhkan tubuh mekanis untuk berinteraksi dengan dunia fisik, sebuah transisi yang kerap disebut “Physical AI”.

Pasar physical AI sendiri diproyeksikan tumbuh dari USD 1,5 miliar (sekitar Rp24,4 triliun) pada 2026 menjadi USD 15,2 miliar (sekitar Rp247,5 triliun) pada 2032, dengan laju pertumbuhan tahunan gabungan (CAGR) 47%. McKinsey memproyeksikan pasar robot serbaguna secara keseluruhan bisa mencapai USD 370 miliar (sekitar Rp6.020 triliun) pada 2040.

Di kawasan Asia Pasifik, pasar robot industri bertenaga AI bernilai USD 4,6 miliar pada 2025 dan diproyeksikan tumbuh 7,7% per tahun hingga 2035, dengan China mencatat laju tertinggi di angka 8,2% berkat inisiatif “Made in China 2025” yang masif.

Di sisi lain, Korea Selatan turut mencatat tonggak bersejarah. Pada 6 Mei lalu, indeks KOSPI melampaui angka 7.000 untuk pertama kalinya, dengan Samsung Electronics dan SK Hynix masing-masing melonjak lebih dari 10% ke rekor tertinggi, mendorong nilai pasar Samsung melampaui USD 1 triliun (sekitar Rp16.280 triliun).

Yaskawa, pesaing utama Fanuc, turut ikut menguat mengikuti arus sentimen positif dari kemitraan Fanuc-Google. Namun keunggulan Fanuc terletak pada basis instalasi 1,1 juta robot yang sudah ada di lapangan—sebuah peluang upgrade yang tak tertandingi oleh penjualan unit baru sekalipun.

Berita Terkait