Perspektif.co.id - Tim arkeolog yang menggali di bawah kompleks Gereja Holy Sepulchre di Yerusalem menemukan jejak lahan budidaya kuno yang dinilai sejalan dengan gambaran dalam Injil Yohanes tentang area sekitar penyaliban dan penguburan Yesus. Gereja Holy Sepulchre selama berabad-abad diyakini banyak umat Kristiani sebagai lokasi Golgota (Kalvari) dan makam Yesus, sekaligus menjadi salah satu pusat ziarah terpenting di dunia.
Jejak kebun kuno itu teridentifikasi melalui analisis arkeobotani dan serbuk sari (palinologi) dari sampel yang diambil di bawah lantai basilika. Laporan media internasional menyebut, hasil awal menunjukkan kemungkinan keberadaan pohon zaitun dan tanaman anggur sekitar 2.000 tahun lalu di lahan yang kini ditempati bangunan gereja.
Profesor Francesca Romana Stasolla dari Sapienza University of Rome—yang memimpin proyek penggalian—mengatakan temuan arkeobotani tersebut menarik karena “nyambung” dengan catatan Injil Yohanes yang menyebut adanya area hijau di sekitar lokasi itu. Kepada Times of Israel, Stasolla menjelaskan temuan timnya mengarah pada identifikasi lahan yang dibudidayakan. “Injil menyebut area hijau… dan kami mengidentifikasi bidang-bidang yang ditanami,” ujarnya dalam laporan yang dikutip media.
Namun para peneliti juga menekankan konteks ilmiahnya: temuan ini bukan “pembuktian tunggal” atas lokasi makam Yesus, melainkan indikasi bahwa lanskap di kawasan itu pada periode pra-Kristen memang pernah digunakan untuk aktivitas pertanian—sesuatu yang relevan dengan narasi Injil tentang kebun di dekat lokasi penyaliban dan pemakaman. Times of Israel mencatat, penanggalan radiokarbon untuk sampel tertentu belum dilakukan pada tahap laporan itu, sehingga simpulan umur dan konteks masih akan terus diperdalam.
Rangkaian data arkeologinya juga memperlihatkan perubahan fungsi lahan dari masa ke masa. Laporan awal yang dipublikasikan Israel Antiquities Authority (IAA) menyebut, pada periode pra-Kristen, area tersebut menunjukkan jejak aktivitas penambangan batu (quarrying) yang intens. Pada fase berikutnya, sebagian ruang diisi tanah dan dibatasi dinding batu kering untuk membentuk petak-petak budidaya. Di petak inilah analisis paleobotani menemukan sisa serealia, anggur, buah ara (figs), dan tanaman rerumputan; bahkan ditemukan kayu tanaman anggur yang membuat tim peneliti “secara hati-hati” menyarankan kemungkinan budidaya anggur di lokasi itu. Analisis serbuk sari juga mengindikasikan kemungkinan budidaya zaitun.
Penggalian di Holy Sepulchre ini berjalan seiring proyek restorasi besar lantai basilika—yang disebut-sebut sebagai salah satu pekerjaan konservasi paling signifikan di lokasi tersebut dalam rentang modern. Menurut laporan IAA, penggalian dilakukan pada Mei–November 2022 sebagai bagian dari proyek restorasi lantai atas permintaan komunitas-komunitas penjaga utama Holy Sepulchre: Ortodoks, Custody of the Holy Land (Katolik/Fransiskan), dan Armenia, serta berada di bawah lisensi IAA.
Karena status Holy Sepulchre bukan hanya situs sejarah, tetapi juga pusat liturgi dan ziarah, pekerjaan restorasi dan ekskavasi dilakukan bertahap agar gereja tetap berfungsi. Sejumlah laporan menyebut kegiatan penggalian sempat menyesuaikan jadwal peribadatan besar, termasuk periode Pekan Suci dan Paskah, ketika arus peziarah meningkat.
Dari sisi kajian sejarah kota, Stasolla juga menjelaskan kepada Times of Israel bahwa pada masa Kaisar Hadrian (abad ke-2 M), area itu sudah menjadi bagian dari kota Romawi Aelia Capitolina. Namun pada masa yang secara tradisi dikaitkan dengan kehidupan Yesus, wilayah tersebut disebut belum sepenuhnya berada “di dalam” kota. Konteks ini kerap dipakai peneliti untuk membaca ulang bagaimana kawasan itu berevolusi sebelum dibangun kompleks gereja era Konstantinus pada abad ke-4.
Pada akhirnya, temuan “jejak kebun” ini menjadi tambahan data yang memperkaya diskusi panjang tentang topografi Yerusalem kuno dan tradisi lokasi Holy Sepulchre. Ia memberi gambaran bahwa sebelum menjadi pusat pemakaman dan kemudian situs gereja, kawasan itu pernah memiliki fase budidaya—sebuah detail yang secara naratif beririsan dengan deskripsi Injil Yohanes, meski tetap membutuhkan kajian lanjutan untuk memastikan kronologi dan konteksnya secara ketat.