Perspektif.co.id - Perusahaan teknologi asal China, Songyan Power, mulai memasarkan robot humanoid berwujud manusia dengan banderol yang dinilai agresif untuk ukuran kategori tersebut. Robot bernama Bumi dijual 9.998 yuan (sekitar US$1.400) atau berkisar Rp23 jutaan, dan perusahaan meneken kontrak pasokan 1.000 unit kepada Huichen Technology.
Harga Bumi menjadi sorotan karena berada di bawah harga ponsel flagship. Di Indonesia, iPhone 17 Pro Max varian 2TB tercantum di angka Rp43.999.000 pada kanal ritel resmi tertentu—hampir dua kali lipat dari kisaran harga robot tersebut.
Dalam laporan yang mengulas produk ini, Bumi digambarkan sebagai robot berukuran relatif kecil dan ringan, dengan kemampuan dasar seperti berjalan, berlari, menari, serta merespons perintah suara. Robot ini juga disebut bisa diprogram menggunakan alat drag-and-drop yang ditujukan untuk pengguna pemula, sekaligus diarahkan untuk penggunaan edukasi dan interaksi dengan anak-anak.
Penjualan Bumi dijadwalkan mulai Januari 2026, yang menandai upaya China mendorong robot humanoid masuk ke ranah produk konsumen lebih cepat dan lebih murah dibanding pendekatan sebagian pemain Barat yang lebih menekankan aplikasi industri. (Gizmochina) “Penjualan perdana dijadwalkan pada Januari 2026,” tulis salah satu laporan media teknologi yang mengutip rencana pemasaran robot ini.
Kontras harga menjadi semakin tajam ketika dibandingkan dengan estimasi robot humanoid dari AS. Elon Musk pernah menyampaikan target harga Tesla Optimus di kisaran US$20.000–US$30.000 ketika produksi skala besar tercapai. Sementara itu, Agility Robotics Digit—yang banyak dikaitkan dengan kebutuhan gudang dan pabrik—disebut pernah “awal dijual” sekitar US$250.000.
Sejumlah pengamat menilai perbedaan strategi ini mencerminkan persaingan teknologi yang lebih luas: China mendorong skala produksi perangkat keras dan penurunan biaya agar adopsi meluas, sedangkan AS cenderung menekankan kapabilitas AI, otonomi, dan model bisnis industri yang lebih jelas meski pertumbuhannya bisa lebih bertahap.
Meski demikian, beberapa pihak juga mengingatkan perang harga di segmen humanoid berisiko memunculkan pertanyaan soal keberlanjutan margin dan spesifikasi produk di lapangan—terutama saat perusahaan berlomba mengejar pangsa pasar dan ekspektasi investor.