24 December 2025, 02:20

“Cuma Bercanda Aja” di Kampus: Normalisasi Pelecehan Verbal terhadap Mahasiswi menurut perspektif Teori Feminisme

Banyak mahasiswi yang pernah menerima komentar tentang penampilan mereka, tubuh mereka, atau bahkan bagaimana cara mereka berpakaian.

Reporter: Redaksi Perspektif
Editor: Deden M Rojani
1,507
“Cuma Bercanda Aja” di Kampus: Normalisasi Pelecehan Verbal terhadap Mahasiswi menurut perspektif Teori Feminisme
ilustrasi / Doc: Perspektif

OPINI, Perspektif.co.id - Banyak hal di kampus tampak terlihat normal hingga kita mencoba memposisikan diri di posisi mereka. Candaan selama acara organisasi, komentar yang dikeluarkan di kelas, atau candaan di lorong sering kali dianggap sepele. “Santai ajalah, tadi cuma bercanda.” Meskipun pernyataan itu terdengar tidak berbahaya, banyak mahasiswi mulai merasa tidak nyaman pada saat itu, secara bertahap namun pasti.

Banyak mahasiswi yang pernah menerima komentar tentang penampilan mereka, tubuh mereka, atau bahkan bagaimana cara mereka berpakaian. Komentar-komentar ini sering kali disampaikan dengan nada akrab dan humor, seolah-olah tidak ada niat jahat dibaliknya. Namun, yang menjadi masalah bukanlah niatnya, melainkan dampaknya. Akibat komentar-komentar semacam ini, mahasiswi sering merasa diawasi, dikritik, dan tidak nyaman di lingkungan sekolah mereka sendiri.

Kekerasan verbal seringkali mengambil bentuk yang halus dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini sering terjadi dalam pernyataan yang dianggap biasa, sehingga tidak selalu dianggap tidak sopan atau jelas. Banyak orang menganggapnya tidak penting karena tidak melibatkan kontak fisik. Memang, kata-kata memiliki kekuatan. Meskipun dapat secara bertahap merusak kepercayaan diri, kata-kata juga dapat meningkatkan kepercayaan diri.

Dari perspektif feminisme, candaan berlebihan bukanlah satu-satunya bentuk pelecehan verbal. Hal ini berasal dari masyarakat patriarki yang terus-menerus mengobjektifikasi perempuan, bahkan di lingkungan pendidikan. Bahasa menjadi senjata untuk mengekspresikan kekuasaan dan berfungsi sebagai pengingat terus-menerus bahwa tubuh dan keberadaan perempuan menjadi sasaran kritik. Perempuan sering diharapkan untuk bersikap pengertian, diam, dan fleksibel dalam situasi ini.

Mahasiswi sering menerima respons kejam ketika mencoba mengekspresikan ketidaknyamanan mereka. Mereka dianggap melebih-lebihkan masalah, terlalu sensitif, atau tidak memiliki selera humor yang bagus. Budaya menyalahkan korban beroperasi dengan cara ini. Korban kini menanggung beban alih-alih pelaku. Perempuan dipaksa untuk memutuskan apakah akan bersuara atau diam dengan risiko disalahkan.

Meskipun tidak selalu terlihat jelas, pelecehan verbal memiliki dampak yang sangat besar. Rasa percaya diri secara perlahan akan berkurang. Semangat untuk berbicara di kelas pun menurun. Beberapa mahasiswi memutuskan untuk membatasi diri, menjauhi area tertentu, atau berhenti berpartisipasi dalam acara kampus. Hal ini terjadi karena lingkungan sekitar tidak memberikan rasa aman bagi mereka, bukan karena mereka tidak kompeten.

Kampus seharusnya menjadi tempat untuk berkembang, bukan sekadar bertahan hidup. Tempat di mana semua mahasiswa dapat tumbuh dan belajar tanpa rasa takut. Oleh karena itu, mencegah pelecehan verbal memerlukan empati selain peraturan dan sanksi. Ini tentang menyadari bahwa tidak semua hal pantas disebut sebagai candaan, menghormati batas-batas, dan bersedia mendengarkan.

Pada akhirnya, permasalahan ini lebih menyangkut emosi yang tertinggal daripada kata-kata yang diucapkan. Mengenai mahasiswi yang pulang dengan kepala penuh, bertanya-tanya apakah penderitaannya beralasan. Mengenai suara-suara yang diredam demi menjaga suasana. Meskipun seringkali tak terlihat, namun semuanya nyata.

Mungkin kita tidak selalu menyadari betapa menyakitkannya sebuah pernyataan yang kita anggap lucu bagi orang lain. Namun, dalam lingkungan akademik, menjadi manusia seharusnya membuat kita terbuka untuk belajar, termasuk mengembangkan kepekaan yang lebih besar. Kampus yang benar-benar beradab ditentukan oleh seberapa aman setiap orang merasa menjadi diri mereka sendiri, bukan oleh seberapa banyak kebebasan yang kita miliki untuk tertawa.



Penulis : Nadya Nasywa Suhendar
Dosen Pebimbing: Angga Rosidin, S.I.P., M.A.P. 
Kepala Program Studi: Zakaria Habib Al-Ra'zie, S.IP., M.SOS.

Program Studi Administrasi Negara Universitas Pamulang Kampus Serang

Berita Terkait