Penulis : Dinno Brasco (Cand. Magister Universitas Paramadina)
OPINI, Perspektif.co.id - Syair itu seperti embun yang jatuh di dahi sejarah. Ia tidak berteriak, tetapi mengguncang. Ia tidak memaksa, tetapi membangkitkan. Dalam kalimatnya yang pendek dan menyala, Iqbal penyair Islam kelas dunia mengingatkan bahwa setiap kehilangan adalah panggilan untuk melahirkan kesadaran baru.
Ketika sebuah nama besar dunia berpulang dan syahid seperti Sayyid Ali Khamenei, tahlil dari Indonesia dimulai bukan sekadar pengakuan atas wafatnya. Tetapi harapan akan kelahiran kembali nilai-nilai kemanusiaan dan solidaritas dunia Islam, solidaritas sebagai manusia. Tahlil adalah doa agar semua yang hidup di dunia ini mendapat berkah cahaya, dan hidayah tanpa terkecuali. Bangkit dan berdaya. menjadi berarti di bumi manusia.
Dalam tradisi dunia Islam, di Indonesia, doa adalah bahasa yang paling cepat menemukan jalannya. Di kampung-kampung, desa, di kota-kota, di surau kecil hingga masjid besar, tahlil dilantunkan. Kalimat suci “Laa ilaaha illa Allah…Shalawat nabi” mengalir pelan, seperti sungai yang tidak pernah lelah mencari muara. Tradisi itu bukan sekadar warisan budaya; ia adalah cara kami memaknai kehilangan sebagai panggilan untuk merenung kembali, bukan hanya atas figur yang berpulang, tetapi atas situasi dunia yang kini dicemari oleh sengketa, pertumpahan darah, dan polarisasi yang seakan tak kunjung reda dan selesai.
Tahlil bukan hanya bait suci, ia adalah pengingat akan satu realitas abadi. Bahwa kita semua adalah bagian dari satu keluarga besar manusia, berjalan dalam terang dan gelapnya kehidupan dengan segala angkata murkanya, kekejaman manusia dan penjajahan para tiran global.
Kaum Muslimin wal Muslimat Indonesia, memahami tahlil memiliki makna sosial yang mendalam. Ritual ini membuktikan bahwa kematian bukan akhir dari segala melainkan panggilan untuk saling menguatkan. Ia merobohkan dinding perbedaan dan mengundang kita untuk melihat satu sama lain dalam cahaya kasih sayang yang sama. Namun, lebih dari sekadar bacaan yang beratap doa, tahlil adalah dialog batin. Ia adalah saat ketika kita bertanya pada diri sendiri: apakah kita hidup sebaik doa yang kita panjatkan? Apakah kita mencintai dengan setulus yang kita doakan?
Tahlil juga mengajarkan bahwa setiap insan, baik yang terkenal maupun yang tidak, layak mendapatkan penghormatan terakhir yang sama: keikhlasan doa dari banyak hati. Itulah sebabnya di Indonesia, di kampung-kampung, desa, kota, dan pelosok negeri nan beragam ini, menyalin bait doa yang sam tanpa memandang sekat politik, perbedaan mazhab, atau perbedaan pandangan. Karena di tempat paling sunyi sekalipun, saat kita memanggil Asmaul Husna Sang Pencipta, kita menyadari bahwa semua jiwa terikat oleh satu tali yang sama yakni luasnya rahmat Allah SWT.
Tahlil dalam penghayatannya ang paling sunyi, adalah pengakuan bahwa manusia tidak pernah sepenuhnya milik dunia. Setiap jiwa adalah titipan. Ketika titipan itu kembali, yang tersisa bagi yang hidup hanyalah doa dan cermin untuk diri sendiri. Apakah kita telah berjalan di bumi dengan cukup rendah hati? Apakah kekuasaan, nama, harta, pengaruh, dan suara yang kita miliki telah menjadi jembatan atau justru dinding bagi sesama? Apakah kita seperti kisah sosok Fir’aun, Qarun, Bal’am dan Haman sebagaimana yang tertera dalam kitab suci Al-Qur’an. Ataukah kita seperti para sahabat-sahabat Nabi yang setia menghadapi deru debu kehidupan dan teka-teki zaman.
Doa dalam tahlil adalah pengakuan bahwa pada akhirnya, setiap manusia berdiri sendirian di hadapan Tuhannya. Di situlah semua gelar tanggal, semua jabatan luruh, semua sorak dan cela menjadi sunyi. Yang tersisa hanyalah amal dan rahmat Ilahi. Maka tahlil dari Indonesia untuk Sayyid Ali Khamenei bukanlah pernyataan politik. Ia adalah gestur kemanusiaan. Ia adalah pengingat bahwa di atas segala perbedaan, kita berbagi nasib yang sama: lahir tanpa membawa apa-apa, pergi tanpa membawa apa-apa, kecuali jejak amal shaleh dan doa-doa sesama. Semoga Allah SWT menerima amal kebaikan, dan melapangkan makam setiap hamba-Nya. Dan di saat yang sama, semoga yang masih hidup belajar dari sejarah bahwa kekuasaan adalah amanah, janji yang mesti ditepati, dan kehidupan adalah perjalanan yang singkat yang wajib disi dengan butir-butir kebaikan.
Dalam bukunya History and Spirit; An Inquiry into the Spirit of liberation, Joel Kovel menyampaikan dengan cermat perihal dunia modern yang disebutkan sebagai dunia tanpa ruh, dan menawarkan pembebasan manusia dari egoismenya dengan memasukan kembali tetesan spiritualitas dalam meniti arus kehidupan. Salah satunya caranya ialah menyadarkan manusia akan kematian. Death is beautiful but maligned; without it, life would have no value!
Hidup yang berarti adalah kehidupan yang menerima seama. Kesadaran adanya kematian tak lain dan tak bukan hanya menjadikan kehidupan sebagai titik pandang utama. Dia-lah yang menjadikan kematian dan kehidupan agar Dia menguji kalian siapa yang di antara kalian yang lebih baik amalnya (QS. 67:2). Jalan hidup yang berarti itu adalah cara hidup Sayyid Ali Khamenei menjalani detik, menit, jam dan hari. Hidup yang manis, bergairah dan tidak hambar. Inilah hidup yang tentunya menginspirasi generasi terkini.
DUKA CITA DUNIA ISLAM
Sebuah nama besar di tengah kancah geopolitik global disebut telah kembali kepada Sang Khalik: Sayyid Ali Husaini Khamenei. Informasi tentang wafatnya menyusul eskalasi konflik di Timur-Tengah menggetarkan nurani banyak orang. Di Indonesia, berbagai suara dari pemimpin umat hingga rakyat biasa, dan pecinta kopi mengalirkan doa dan rasa duka cita yang tulus.
Selarik doa, duka cita itu bukan hanya bagi jiwa yang pergi, tetapi bagi harmoni kemanusiaan yang kita semua sayangi. MUI (Majelis Ulama Indonesia), misalnya menyampaikan duka mendalam atas gugurnya Pemimpin Tertinggi Iran Sayyid Ali Khamenei sebagai akibat serangan Israel-Amerika pada (28/2/2026). “Kita menyampaikan inna ilaihi raji’un. Sebagai syuhada’ kita doakan semoga menjadi penghuni surga, Aamin,” ungkap Ketua Umum MUI KH Anwar Iskandar menyampaikan Taushiyah tersebut. Mengutuk serangan Israel yang didukung oleh Amerika karena bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan dan pembukaan Undang-Undang Dasar 1945.
Kemudian bela sungkawa dari DPP PKB (Partai Kebangkitan Bangsa), Partainya anak muda NU dan warga Nahdliyin, menyampaikan duka mendalam atas meninggalnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, dalam serangan militer di Teheran. Dan mengutuk keras tindakan pembunuhan politik melalui operasi militer terhadap pemimpin negara berdaulat. Menyampaikan solidaritas kepada rakyat Iran. Semoga mereka diberi kekuatan dan ketabahan, dan semoga dunia internasional memiliki keberanian moral untuk menegakkan keadilan dan perdamaian sejati.
Situasi dunia Islam dari Indonesia hingga Pakistan kini tengah merasakan duka cita yang mendalam. Kabar tentang syahidnya Sayyid Ali Khamenei telah mengguncang hati banyak Muslim di berbagai belahan bumi, yang menyampaikan belasungkawa dan ungkapan duka cita atas kepergian seorang tokoh berpengaruh. Bagi banyak umat Islam, peristiwa ini bukan hanya peristiwa geopolitik, tetapi juga panggilan refleksi atas makna kemanusiaan yang lebih luas.
Lebih dari itu, serangan militer pengecut dilancarkan oleh Kakeane Amerika Serikat dan Israel telah memicu kecaman keras dari berbagai negara dan organisasi internasional. Reaksi ini datang dari negara-negara besar serta lembaga multilateral yang menyerukan penghormatan terhadap kedaulatan negara seperti Republik Islam Iran dan lainnya. Banyak pemimpin dunia, seperti China dan Rusia, secara tegas mengecam serangan yang dilancarkan oleh AS dan Israel, menyebutnya sebagai pelanggaran terhadap kedaulatan sebuah negara serta ancaman terhadap perdamaian internasional. PBB mendesak segera dihentikannya aksi militer serta kembalinya semua pihak ke meja diplomasi untuk mencegah perluasan perang regional yang lebih luas.
Tentunya butuh keterlibatan Presiden Prabowo untuk menyelesaikannya? Jadi fasilitator atau mediator. Bener ngga Bang Haji? Padahal beliau anggota BOP (Board of Peace) bentukan Donald Trump, Amerika.
PERIHAL SAYYID ALI KHAMENEI
Sayyid Ali Hosseini Khamenei dilahirkan pada 19 April 1939 di kota Mashhad, Iran, sebuah pusat spiritualisme Islam. Ia tumbuh dalam keluarga yang religius dan sejak usia muda mempelajari ilmu Islam, termasuk di kota Qum. Sayyid Ali Khamenei terlibat aktif dalam gerakan yang menggulingkan monarki Shah Iran Pahlevi sohib sejatinya Amerika Serikat. Kekuasaan Shah Pahlewi yang congkak, membuat rakyat Iran merana dan tertindas.
Sayyid Ali Khamenei adalah pecinta dalam barisan tokoh revolusi Islam, dan pemimpin tertingggi Wilayatul Faqih Ayatollah Ruhollah Khomeini selama Revolusi 1979. Setelah Revolusi Islam, Sayyid Ali Khamenei menjabat sebagai Presiden Iran dari 1981 hingga 1989. Masa ketika ia selamat dari upaya pembunuhan yang melumpuhkan salah satu tangannya. Pada 1989, setelah wafatnya Ayatullah Khomeini, ia dipilih sebagai Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran (Rahbar), posisi yang memberinya otoritas tertinggi atas politik, militer, dan urusan agama negara selama lebih dari tiga dekade.
Sosok Sayyid Ali Khamenei dikenal sebagai figur yang kuat dan berpengaruh, dengan peran sentral dalam hubungan Iran dengan dunia global, terutama dalam komitmen dan jalan hidupnya berhadapan dengan Setan Besar Amerika Serikat dan Zionisme Israel. Dua monster ini bersekutu menjajah rakyat Palestina dan dunia Islam dengan segala konspirasi dan tipu dayanya.
Pada 28 Februari 2026, bertepatan 11 Ramadhan suci, Sayyid Ali Khamenei meninggal dunia bersama putri dan cucunya dalam serangan brutal yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel di Tehran. Ia lahir, bergerak dan syahid. Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un!
Selain menjadi figur tertringgi spiritual Wilayatul Faqih yang berpengaruh di Iran, Sayyid Ali Hosseini Khamenei juga dikenal sebagai sosok yang menegaskan dukungan hebat terhadap perjuangan Palestina dan seruan persatuan dunia Islam. Dalam berbagai pidato dan pernyataan publiknya, beliau berulang kali menyatakan bahwa perjuangan pembebasan Palestina adalah “Tugas umat Islam yang tidak bisa diabaikan”, dan bahwa dukungan terhadap rakyat Palestina merupakan tanggung jawab moral seluruh bangsa Muslim. Dalam pidato yang dikenal luas, Sayyid Ali Khamenei menegaskan bahwa bangsa Palestina dan perjuangan mereka menentang pendudukan rezim Zionis Israel hingga saat ini adalah salah satu bentuk perlawanan yang tertinggi. Bukan hanya untuk Palestina tetapi juga untuk martabat Islam secara global. Ia menyebut bahwa rakyat Gaza dan pejuang Palestina, yang menghadapi kekerasan dan agresi berkepanjangan Israel, tetap teguh dan menunjukkan ketabahan yang menurutnya “memperjuangkan nilai-nilai Islam yang hakiki”.
Kontribusi besar Sayyid Ali Khamenei juga mengangkat seruan persatuan dunia Muslim di tengah perbedaan dengan menekankan bahwa masalah Palestina harus menjadi titik temu dan bukan pemecah di antara negara-negara Muslim. Ia menegaskan bahwa membiarkan masalah Palestina ini terlupakan atau teralihkan akan menjadi pengkhianatan terhadap martabat umat Islam. Selama masa kepemimpinannya, Sayyid Ali Khamenei menjadi arsitek dari apa yang disebut beberapa analis sebagai “poros perlawanan” (axis of resistance) sebuah jaringan aliansi strategis yang termasuk dukungan terhadap kelompok-kelompok yang menentang Israel dan pengaruh Barat di kawasan. Poros ini secara geopolitik menjadi simbol solidaritas terhadap perjuangan Palestina atas Zionisme Israel serta penolakan terhadap dominasi militer dan politik Amerika Serikat di Timur Tengah hingga akhir masa.
Palestina adalah tanggung jawab moral umat Islam, dan bahwa solidaritas dunia Muslim adalah senjata paling kuat melawan dominasi dan ketidakadilan: "The unity of the Muslim Ummah is the strongest weapon against domination and injustice." Kalimat Sayyid Ali Khamenei sangat bernyawa, menggetarkan dunia karena mengingatkan bahwa kekuatan umat Islam tidak terletak pada senjata atau kekuasaan semata, tetapi pada solidaritas dan keyakinan moral yang teguh. Bersama dengan pernyataan terkenalnya “Israel will not exist in 25 years”, kita dapat melihat bagaimana Sayyid Ali Khamenei menempatkan perjuangan politik, moral, dan spiritual sebagai satu kesatuan yang tak terpisahkan sebagai manusia beriman sebagaimana ajaran para Nabi.
Terkini, jutaan manusia menangisi meninggalnya keturunan Sayyidina Husain putra Sayyidah Fatimah az-Zahra.
Dunia sudah mengenal tentang peran besar Sayyid Ali Khamenei. Sejarah boleh menilai dengan berbagai sudut pandang. Tetapi kematian selalu mengembalikan manusia pada hakikatnya yang paling sederhana, seorang hamba yang kembali, hamba yang berarti bagi sesama umat Islam dan kemanusiaan.
Ketahuilah, Sayyid Ali Khamenei hidup dalam zaman yang tidak mudah. Ia berdiri di tengah badai tirani dunia, menjadi simbol bagi umat Islam. Ia berbicara tentang persatuan dunia Islam, tentang pembelaan terhadap Palestina, tentang perlawanan terhadap apa yang ia sebut sebagai penjajahan Amerika dan Zionis Israel. Ia membentuk arah, menggerakkan jaringan, dan meninggalkan jejak yang akan terus dilanjutkan oleh sejarah Iran masa depan. Dunia harus bertindak untuk menghadapi agresi kriminal gabungan Amerika dan Zionis Israel yang lebih kejam, no mercy dan brutal di masa depan.
Akankah kita diam, dan apatis! Sambil jalan-jalan nikmati kemewahan warna-warni dunia dengan naik Private Jet.
AKHIRUL KALAM
Di tengah pusaran sejarah yang bergerak tanpa jeda, nama-nama besar datang dan pergi. Kekuasaan berdiri, lalu runtuh dan sempal. Ideologi dipertahankan, lalu diperdebatkan. Tetapi yang abadi selalu satu: pertanyaan tentang makna kehidupan! Sebagaimana setiap manusia, ia pun tunduk pada hukum waktu. Dan mungkin di titik inilah kita kembali kepada kesadaran paling jernih: bahwa hidup bukan semata soal panjangnya usia dan kuasa, tetapi tentang arti dan legacy yang ditinggalkan bagi generasi sesudahnya.
Di titik pusat inilah Sayyid Ali Khamenei sangat berarti bagi generasi muda-mudi di zaman now, zaman digital.
Syair Muhammad Iqbal dari dunia Islam kembali bergaung: Bangkitlah, wahai jiwa. Inilah makna terdalam dari tahlil. Ia bukan hanya doa untuk yang telah pergi, tetapi juga panggilan bagi yang tinggal di kapal besar bernama bumi. Panggilan untuk membangun dunia yang lebih teduh, lebih damai dan rukun. Dunia yang welas asih. Dunia yang terbebas dari homo homini lupus. Dunia pusat para serigala yang memangsa bangsa-bangsa kecil dan pinggiran seperti yang dikhotbahkan filsuf Thomas Hobbes dan Emmanuel Wallerstein.
Pada akhirnya, setiap tahlil adalah percakapan antara langit dan bumi. Dan dari Indonesia, percakapan itu naik perlahan, membawa satu pesan yang sederhana namun abadi: kita semua adalah peziarah. hidup sementara, mencari kedamaian, bahagia yang hakiki.
Indonesia menutup tahlilnya dengan doa yang tulus dan lirih. Dunia Islam menundukkan kepala dalam duka cita atas syahidnya Sayyid Ali Khamenei. PBB dan Dunia Internasional mencermati dampaknya. Akankah menuju Perang Dunia Ketiga? Dan sejarah menunggu untuk menulis halaman berikutnya. Di ujung renungan Tahlil itu, pencinta kopi teringat bait syair Diponegoro dari Chairil Anwar, sebuah pengingat yang melampaui zaman: “Sekali berarti, sudah itu mati.”
Kiranya itulah inti seluruh perjalanan manusia: mencari arti, sebelum akhirnya kembali kepada ilahi, Tentunya dengan pilihan menjadi manusia berarti di muka bumi. Dengan energi perlawanan kepada zionisme Israel dan Amerika yang berlipat ganda di penjuru dunia dan setiap hati kita! Mati satu tumbuh seribu!
Langkah meneruskan jejak-jejeknya harus dimulai kini oleh setiap generasi. Lautan manusia yang menangisi wafatnya sang revolusioner. Jejak Sayyid Ali Khamenei merahimi pencerahan dan kebangkitan semua anak bangsa seperti yang diteladankan dalam cara hidup leluhur mulianya, dambaan hati kita Kanjeng Nabi Muhammad Saw, Sayyidina Ali, Al-Hasan dan Al-Husain serta manusia-manusia shaleh sepanjang sejarah.
Kenang, kenanglah Ahli hikmah berpetuah;
“Wahai anak Adam, waktu Ibumu melahirkanmu, engkau menangis.
Padahal semua orang di sekililingmu tertawa bahagia.
Berkhidmatlah kepada manusia,
sehingga manakala engkau meninggal dunia,
semua orang di sekitarmu menangis,
padahal engkau sendiri tertawa bahagia.”
Alfatihah maa shalawat
Bumi Ciputat, 12 Ramadhan 2026