19 May 2026, 13:22

Rupiah Tembus Rp17.600 per Dolar AS, Pedagang Pasar hingga Petani Mulai Teriak Harga Naik

Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kini mulai memberikan dampak nyata hingga ke lapisan bawah masyarakat.

Reporter: Ihsan Nurdin
Editor: Deden M Rojani
81
Rupiah Tembus Rp17.600 per Dolar AS, Pedagang Pasar hingga Petani Mulai Teriak Harga Naik
dampak dolar as terhadap harga pangan indonesia / Doc : istimewa

JAKARTA, Perspektif.co.id - Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kini mulai memberikan dampak nyata hingga ke lapisan bawah masyarakat. Setelah kurs dolar AS menyentuh level Rp17.600, lonjakan harga berbagai kebutuhan pokok dan sarana produksi mulai dirasakan pedagang pasar tradisional hingga para petani di desa-desa.

Kenaikan harga itu dipicu tingginya ketergantungan Indonesia terhadap barang impor, mulai dari sapi potong, kedelai, pupuk, pestisida, hingga suku cadang alat pertanian. Dampaknya, biaya produksi melonjak sementara daya beli masyarakat justru melemah.

Salah satu pedagang daging sapi di Pasar Senen, Jakarta Pusat, Fahmi, mengaku harga daging terus merangkak naik dalam beberapa waktu terakhir. Menurutnya, kenaikan tersebut tidak lepas dari pengaruh menguatnya dolar AS terhadap rupiah.

Ia menjelaskan sebagian besar sapi potong yang dijual di pasar berasal dari Australia. Meski dipelihara sementara di Indonesia sebelum dipotong, sumber utama sapi tetap berasal dari impor sehingga harga sangat sensitif terhadap perubahan kurs.

“Harga daging naik karena dari impornya naik kan, dolar naik katanya. Jadi mungkin pengaruhnya dari sana. Kalau dolar naik, harga ikut naik, soalnya beli sapinya juga sudah naik,” ujar Fahmi saat ditemui di Pasar Senen.

Menurut Fahmi, harga daging sapi lokal kini berada di kisaran Rp150 ribu per kilogram. Angka tersebut naik dibanding harga normal sebelumnya yang berkisar Rp130 ribu per kilogram. Sementara daging impor beku yang sebelumnya dijual sekitar Rp110 ribu per kilogram kini naik menjadi Rp120 ribu hingga Rp130 ribu per kilogram.

“Kalau daging lokal rata-rata Rp150 ribu per kilogram, tapi bisa Rp145 ribu kalau lagi turun, sampai Rp160 ribu kalau naik. Impor beku sekarang Rp120 ribu, bisa Rp130 ribu,” katanya.

Keluhan serupa juga datang dari pedagang tahu dan bawang di Pasar Senen bernama Davi. Ia menyebut kenaikan dolar ikut memicu lonjakan harga tahu karena bahan baku kedelai masih didominasi produk impor.

“Harga kedelainya kan naik. Kalau tahu pakai kedelai impor. Jadi bisa jadi karena rupiah sama ongkos kirim kedelainya lagi naik,” ujar Davi.

Ia mengatakan harga tahu dari tingkat pabrik sudah mengalami kenaikan sekitar Rp100 hingga Rp200 per potong. Namun demi menjaga pembeli tetap datang, dirinya memilih menahan harga jual sehingga keuntungan yang diperoleh menjadi jauh lebih kecil.

Tak hanya di kota, dampak pelemahan rupiah juga mulai terasa di sektor pertanian desa. Ketua Umum Serikat Petani Indonesia (SPI) Henry Saragih mengatakan masyarakat desa memang menggunakan rupiah dalam aktivitas sehari-hari, tetapi efek penguatan dolar tetap sangat terasa.

“Ketika rupiah melemah dan memicu inflasi barang-barang pokok serta sarana produksi pertanian, daya beli masyarakat desa langsung merosot tajam,” kata Henry.

Menurutnya, sebagian besar kebutuhan produksi pertanian Indonesia masih sangat bergantung pada bahan impor. Akibatnya, pelemahan rupiah langsung mengerek harga pupuk, pestisida hingga sparepart alat pertanian.

Henry menyebut harga pupuk urea nonsubsidi kini sudah mencapai sekitar Rp580 ribu per sak ukuran 50 kilogram. Padahal sebelumnya harga pupuk tersebut hanya berada di kisaran Rp380 ribu per sak. Sementara pupuk NPK Mutiara kini dijual sekitar Rp800 ribu per sak dari sebelumnya Rp600 ribu.

Tak hanya pupuk, harga obat-obatan pertanian seperti insektisida, fungisida, dan herbisida disebut naik rata-rata 30 persen. Bahkan onderdil mesin pertanian seperti traktor dan combine harvester mengalami kenaikan hingga 40 persen.

Ironisnya, kenaikan biaya produksi itu tidak diimbangi dengan harga jual hasil panen di tingkat petani. Menurut Henry, harga gabah dan komoditas pertanian lain justru sering stagnan atau jatuh saat musim panen raya.

“Ketika biaya modal melonjak tinggi, namun harga jual panen di tingkat petani cenderung stagnan atau fluktuatif, petani terpaksa mengurangi penggunaan input,” ujarnya.

Ia mengingatkan kondisi tersebut dapat berdampak serius terhadap produktivitas pertanian nasional karena petani mulai mengurangi penggunaan pupuk maupun penyemprotan hama demi menekan biaya.

Berita Terkait