JAKARTA, Perspektif.co.id - Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan tajam terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan Selasa (19/5/2026). Mata uang Negeri Paman Sam bahkan berhasil menembus level psikologis Rp17.700, menandai pelemahan rupiah yang semakin dalam di tengah tekanan global dan sentimen pasar keuangan internasional.
Berdasarkan data perdagangan Bloomberg pada pukul 09.21 WIB, dolar AS tercatat berada di posisi Rp17.705. Angka tersebut naik dibanding penutupan perdagangan sehari sebelumnya yang berada di level Rp17.680 per dolar AS.
Penguatan dolar AS terhadap rupiah langsung menjadi perhatian pelaku pasar, ekonom, hingga masyarakat umum. Sebab, pelemahan nilai tukar rupiah tidak hanya berdampak pada sektor keuangan, tetapi juga mulai merembet ke harga kebutuhan pokok, biaya impor, hingga aktivitas ekonomi masyarakat sehari-hari.
Mata uang dolar AS pada perdagangan pagi itu juga menunjukkan penguatan terhadap sejumlah mata uang global lain. Dolar tercatat menguat terhadap dolar Kanada (CAD) sebesar 0,07 persen dan menguat terhadap franc Swiss (CHF) sebesar 0,13 persen.
Namun di sisi lain, dolar AS justru mengalami pelemahan terhadap beberapa mata uang utama dunia lainnya. Mata uang AS tercatat melemah terhadap euro (EUR) sebesar 0,08 persen, terhadap poundsterling Inggris (GBP) sebesar 0,13 persen, serta melemah 0,35 persen terhadap dolar Australia (AUD).
Sementara terhadap yen Jepang (JPY), dolar AS tercatat bergerak melemah tipis sebesar 0,09 persen.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa penguatan dolar terhadap rupiah masih menjadi salah satu tekanan paling serius di kawasan Asia, terutama bagi negara-negara yang memiliki ketergantungan besar terhadap impor bahan baku dan komoditas berbasis dolar AS.
Pelemahan rupiah yang terus berlanjut juga menambah kekhawatiran terhadap kenaikan harga barang di dalam negeri. Sebab banyak komoditas impor dan bahan baku industri yang masih menggunakan acuan dolar AS dalam proses transaksi internasional.
Sebelumnya, dampak penguatan dolar AS juga mulai dirasakan para pedagang pasar tradisional hingga petani di berbagai daerah. Harga sejumlah komoditas impor seperti daging sapi, kedelai, pupuk, hingga obat-obatan pertanian mulai mengalami kenaikan akibat tekanan kurs.
Kenaikan nilai tukar dolar terhadap rupiah membuat biaya impor melonjak dan pada akhirnya dibebankan ke konsumen melalui kenaikan harga barang di pasar.
Pelaku usaha kecil hingga petani disebut menjadi kelompok yang paling merasakan dampak pelemahan rupiah saat ini. Selain harga bahan baku naik, biaya produksi juga ikut meningkat di tengah daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih.
Sejumlah pengamat menilai penguatan dolar AS dipengaruhi oleh kondisi global yang masih penuh ketidakpastian, termasuk arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat dan kekhawatiran investor terhadap kondisi ekonomi dunia.
Tekanan terhadap rupiah juga menjadi tantangan besar bagi pemerintah dan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah gejolak pasar keuangan global yang masih berlangsung.