07 January 2026, 14:57

Grok di X Bisa “Mengedit” Foto Jadi Konten Senonoh, Begini Cara Mitigasi Agar Foto Pribadi Tak Disalahgunakan

Gelombang kekhawatiran soal privasi kembali menghantam platform X setelah fitur AI Grok disorot karena bisa dipakai untuk memanipulasi foto

Reporter: M. Ansori
Editor: Zainur Akbar
3,638
Grok di X Bisa “Mengedit” Foto Jadi Konten Senonoh, Begini Cara Mitigasi Agar Foto Pribadi Tak Disalahgunakan
Keamanan privasi di media sosial X terancam akibat penyalahgunaan AI Grok. Pelajari cara melindungi foto Anda dari manipulasi yang merugikan. (Foto: CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)

Perspektif.co.id - Gelombang kekhawatiran soal privasi kembali menghantam platform X setelah fitur AI Grok disorot karena bisa dipakai untuk memanipulasi foto pengguna menjadi konten seksual tanpa persetujuan pemiliknya. Temuan ini memicu kecaman dari berbagai pihak, termasuk pejabat Eropa, karena praktik tersebut dinilai berpotensi memperluas pelecehan berbasis gambar dan membuat kekerasan digital makin mudah dilakukan oleh siapa pun, cukup lewat perintah teks sederhana.

Kasus yang ramai diperbincangkan adalah pengalaman Julie Yukari, musisi asal Rio de Janeiro. Setelah ia mengunggah foto pribadinya, sejumlah akun disebut membalas unggahan tersebut dan meminta Grok mengubah gambarnya menjadi versi yang lebih “terbuka”. Yukari mengaku awalnya mengira permintaan seperti itu tidak akan dituruti. “I was naive,” kata Yukari, seraya menyebut ia kaget ketika hasil manipulasi itu kemudian beredar di X. 

Reuters juga melaporkan fenomena serupa berulang pada banyak unggahan lain, termasuk temuan kasus manipulasi terhadap gambar anak, yang langsung menempatkan isu ini pada kategori berisiko tinggi dan berimplikasi hukum serius. Dalam respons sebelumnya kepada Reuters terkait beredarnya konten semacam itu, pemilik X, xAI, sempat menyatakan: “Legacy Media Lies.” 

Sorotan tidak hanya datang dari publik, tetapi juga dari regulator. Menteri media Jerman Wolfram Weimer mendesak Komisi Eropa mengambil langkah hukum terhadap X, menyebut apa yang terjadi sebagai “industrialisation of sexual harassment”. Ia meminta penegakan aturan Digital Services Act (DSA) diperketat untuk memaksa platform menertibkan konten berbahaya dan ilegal. (Reuters) Di sisi lain, Komisi Eropa juga mengecam konten yang beredar sebagai “unlawful” dan “appalling”, sementara regulator Inggris, Ofcom, meminta penjelasan bagaimana Grok bisa memproduksi konten semacam itu dan apakah X gagal menjalankan kewajiban perlindungan pengguna. 

Masalah inti dari kasus ini adalah: foto publik di media sosial dapat menjadi “bahan baku” yang sangat mudah dipungut, lalu dimodifikasi AI, dan disebarkan kembali tanpa kontrol pemiliknya. WIRED menilai penyalahgunaan semacam ini berbahaya karena membuat manipulasi gambar non-konsensual menjadi arus utama: cepat, murah, dan dapat diakses jutaan orang. Seorang pegiat anti-kekerasan berbasis teknologi yang dikutip WIRED menegaskan, ketika platform menyediakan AI generatif, tanggung jawab utamanya adalah meminimalkan risiko penyalahgunaan—bukan sebaliknya.

Di tengah situasi itu, belum ada “cara sakti” yang menjamin foto Anda 100% aman dari disalahgunakan. Namun ada langkah mitigasi yang bisa menurunkan risikonya—terutama dengan membatasi akses data publik dan membatasi jangkauan foto Anda di X.

Langkah pertama yang paling relevan adalah mematikan izin penggunaan data publik untuk pelatihan/fine-tuning Grok dan kolaborator pihak ketiga. Mengacu pada panduan pengaturan yang ditunjukkan The Verge, opsi ini tersedia di menu pengaturan X: More > Settings and privacy > Privacy and safety > Grok & Third-party Collaborators, lalu hapus centang/ matikan izin agar data publik serta interaksi dengan Grok tidak dipakai untuk pelatihan dan penyempurnaan. Rujukan lain juga menyebut langkah serupa, termasuk memastikan kotak persetujuan data-sharing dalam menu Grok tersebut dinonaktifkan. 

Kedua, ubah akun menjadi privat (protected) agar foto tidak bebas diakses publik. Meski tidak menutup risiko sepenuhnya—misalnya dari pihak yang sudah menjadi pengikut—pengaturan ini secara praktis memangkas “bahan” yang bisa diambil orang asing dari profil Anda. Di konteks tren penyalahgunaan Grok yang banyak menyasar unggahan publik, membatasi visibilitas foto adalah salah satu rem paling masuk akal. 

Ketiga, lakukan “audit konten” pada unggahan lama. Jika Anda pernah mengunggah foto close-up, foto keluarga, atau foto yang mudah disalahgunakan, pertimbangkan untuk menghapus, mengarsipkan, atau mengganti visibilitasnya. Ini bukan soal menyalahkan korban, tapi soal mengurangi permukaan serangan ketika platform sedang bermasalah dalam moderasi dan kontrol output AI. 

Keempat, manfaatkan fitur pelaporan dan dokumentasikan bukti jika Anda menjadi korban. Simpan tangkapan layar, tautan unggahan, dan akun pelaku. Regulasi seperti DSA di Eropa menekankan kewajiban platform untuk merespons konten ilegal/berbahaya dan memberi kanal pelaporan; tekanan regulator meningkat karena konten semacam ini dinilai tidak punya tempat dalam ekosistem digital yang aman. 

Secara ringkas, berikut langkah mitigasi praktis yang dapat dilakukan pengguna X untuk menurunkan risiko foto disalahgunakan Grok:

  1. Masuk Settings and privacy
  2. Buka Privacy and safety
  3. Pilih Grok & Third-party Collaborators
  4. Matikan izin/unchecked penggunaan data publik dan interaksi untuk pelatihan/fine-tuning (The Verge)
  5. Pertimbangkan mengaktifkan akun privat/protected agar unggahan foto tidak tampil untuk publik luas (WIRED)

Dengan isu yang kini ditangani lintas negara—mulai dari tekanan pejabat Jerman, pernyataan Komisi Eropa, hingga pertanyaan regulator Inggris—pengguna berada pada posisi harus melindungi diri sambil menunggu platform memperketat pagar pengaman AI dan penegakan kebijakan. Jika tidak, risiko “banjir manipulasi” akan terus ada: murah, cepat, dan merusak—bukan hanya reputasi korban, tetapi juga rasa aman orang dalam bermedia sosial. 

Berita Terkait