Perspektif.co.id - Kisah Nabi Yusuf AS menjadi satu-satunya riwayat kenabian yang disajikan secara runtut dalam satu surat khusus di Al-Qur’an, yakni Surat Yusuf. Riwayat hidup Yusuf dari kecil hingga wafat juga dijelaskan secara rinci oleh Ibnu Katsir dalam kitab Qashash al-Anbiya, mulai dari mimpi masa kecil, kedengkian saudara, ujian godaan, penjara, hingga diangkat menjadi penguasa Mesir dan wafat dalam keadaan husnul khatimah.
Yusuf AS adalah satu dari dua belas putra Nabi Ya’qub AS, dan satu-satunya anak yang diangkat sebagai nabi. Sejak kecil, tanda-tanda kemuliaan sudah tampak ketika ia bermimpi melihat matahari, bulan, dan sebelas bintang bersujud kepadanya. Para ulama menafsirkan matahari dan bulan sebagai kedua orang tuanya, sementara sebelas bintang melambangkan saudara-saudaranya.
Nabi Ya’qub yang mendengar mimpi itu memahami bahwa putranya kelak akan diberi kedudukan tinggi oleh Allah di dunia dan akhirat. Karena khawatir menimbulkan iri hati, ia berpesan agar Yusuf tidak menceritakan mimpi tersebut kepada saudara-saudaranya. Kecemburuan itu pada akhirnya benar-benar muncul ketika mereka merasa kasih sayang sang ayah lebih condong kepada Yusuf dan saudara kandungnya, Bunyamin.
Dari kecemburuan itu, lahirlah rencana keji. Saudara-saudara Yusuf berembuk, antara ingin membunuh maupun membuangnya jauh dari rumah. Salah seorang di antara mereka mengusulkan agar Yusuf tidak dibunuh, tetapi dilemparkan ke dasar sumur agar kelak dipungut kafilah musafir. Rencana ini disepakati.
Mereka lalu meminta izin kepada Nabi Ya’qub untuk mengajak Yusuf keluar dengan alasan bermain bersama. Meski berat hati, sang ayah akhirnya mengizinkan setelah diyakinkan bahwa mereka akan menjaganya. Dalam perjalanan, Yusuf dilecehkan, diolok, lalu dimasukkan ke dalam sebuah sumur yang jauh dari permukiman.
Untuk menutupi perbuatan mereka, saudara-saudara Yusuf membawa pulang bajunya yang telah dilumuri darah kambing dan mengabarkan bahwa Yusuf dimangsa serigala. Nabi Ya’qub tidak sepenuhnya percaya, tetapi hanya mampu bersabar dan menyerahkan urusan itu kepada Allah.
Di dasar sumur, Yusuf kecil menunggu pertolongan. Tidak lama, lewatlah rombongan musafir dari Syam yang sedang menuju Mesir. Ketika salah satu dari mereka menurunkan timba untuk mengambil air, Yusuf menggantung pada tali itu dan terangkat ke permukaan. Rombongan itu menganggapnya sebagai temuan berharga dan memutuskan menjual Yusuf sebagai budak ketika tiba di Mesir.
Di Mesir, Yusuf dibeli oleh seorang pejabat tinggi yang dikenal dengan sebutan al-Aziz, dan istrinya yang masyhur dalam literatur dengan nama Zulaikha. Di rumah itulah Yusuf tumbuh hingga dewasa, dikenal karena akhlak mulia, kecerdasan, dan ketampanannya yang luar biasa.
Ketika Yusuf menginjak usia dewasa, ujian baru datang. Istri al-Aziz jatuh hati padanya dan berusaha merayunya. Dalam satu kejadian, ia menutup pintu-pintu dan mengajaknya berbuat maksiat. Yusuf menolak dan berlindung kepada Allah, berusaha melarikan diri hingga bajunya ditarik dari belakang dan robek. Di tengah ketegangan itu, al-Aziz masuk dan memergoki mereka.
Zulaikha berusaha membalikkan keadaan dengan menuduh Yusuf yang menggoda dirinya. Yusuf membantah dan menjelaskan bahwa dialah yang menjadi sasaran rayuan. Seorang saksi kemudian mengusulkan ukuran sederhana: bila baju Yusuf robek di bagian depan, berarti Yusuf yang menyerang. Namun bila robek di bagian belakang, berarti ia yang lari dan pihak perempuan yang mengejar. Ketika diperiksa, baju Yusuf ternyata koyak di belakang. Al-Aziz menegur istrinya dan meminta agar peristiwa itu ditutup rapat.
Meski demikian, kabar ini menyebar dan menjadi bahan pembicaraan para perempuan kota. Untuk membalik opini, Zulaikha mengundang mereka, menyajikan buah dan pisau, lalu memanggil Yusuf masuk. Ketampanan Yusuf membuat mereka tak sadar mengiris tangan sendiri. Dari situ semakin jelas betapa kuat godaan yang dihadapi Yusuf. Namun demi menjaga nama baik keluarga dan meredam skandal, akhirnya diputuskan Yusuf dimasukkan ke penjara.
Di balik jeruji, Yusuf tak berhenti berdakwah dan menebar hikmah. Ia dikenal sebagai sosok yang jujur, cerdas, dan ahli menakwil mimpi. Dua rekan sesama tahanan pernah meminta tafsir mimpinya, dan Yusuf menjelaskan makna keduanya dengan tepat, seraya menegaskan bahwa kemampuan tersebut adalah ilmu yang Allah ajarkan kepadanya.
Beberapa waktu kemudian, salah satu dari dua rekan itu bebas dan kembali mengabdi kepada raja, sementara Yusuf tetap di penjara selama beberapa tahun, dengan riwayat yang berbeda-beda menyebut antara tiga hingga sepuluh tahun.
Suatu hari, raja Mesir mengalami mimpi menggelisahkan: ia melihat tujuh sapi gemuk dimakan oleh tujuh sapi kurus, serta tujuh bulir gandum hijau dan tujuh bulir gandum kering. Tak satu pun penasihat istana yang mampu menafsirkan dengan meyakinkan. Di saat itulah sang mantan rekan penjara mengingat Yusuf dan menyampaikan kepada raja bahwa ada seorang tahanan yang ahli menakwil mimpi.
Raja kemudian mengutus orang untuk menemui Yusuf dan meminta tafsir. Yusuf menjelaskan bahwa Mesir akan mengalami tujuh tahun masa subur penuh hasil panen melimpah, disusul tujuh tahun masa paceklik yang sangat berat. Ia tidak hanya menafsirkan mimpi, tetapi juga menyusun strategi: hasil panen di tahun-tahun subur harus disimpan dengan cermat sebagai cadangan untuk menghadapi masa krisis.
Terkesan dengan ketepatan analisis dan kematangan rencana, raja menawarkan pembebasan penuh bagi Yusuf. Namun Yusuf meminta agar kebenaran kasus lama yang menjeratnya diusut terlebih dahulu. Setelah al-Aziz dan para perempuan yang dulu ikut terlibat dimintai keterangan, terungkap bahwa Yusuf tidak bersalah dan justru menjadi korban fitnah.
Setelah kehormatan dan namanya dipulihkan, raja mengangkat Yusuf menempati posisi penting dalam pengelolaan keuangan dan logistik negara. Yusuf berkata, “Jadikanlah aku bendaharawan negeri ini, sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga dan berpengetahuan.” Raja menerima permintaan itu dan mempercayakan urusan gudang pangan dan distribusi kepada Yusuf.
Saat masa paceklik benar-benar datang melanda kawasan luas termasuk negeri-negeri tetangga, Mesir menjadi pusat cadangan pangan. Di tengah kelaparan, datanglah rombongan dari negeri kan’an, tak lain adalah saudara-saudara Yusuf sendiri yang pernah membuangnya ke sumur. Mereka tak mengenali bahwa penguasa yang mereka hadapi adalah adik yang dulu mereka aniaya, tetapi Yusuf mengenali mereka.
Yusuf melayani mereka sebagaimana tamu lain, memberi jatah bahan makanan, dan dengan cara halus meminta mereka agar kelak datang kembali bersama saudara yang tidak ikut, yakni Bunyamin. Mereka pulang dan meyakinkan Nabi Ya’qub agar mengizinkan Bunyamin ikut untuk memperoleh jatah pangan yang lebih besar. Setelah mendapat janji sungguh-sungguh, Ya’qub mengizinkan.
Dalam pertemuan berikutnya, saat Bunyamin dibawa ke Mesir, Yusuf mengungkapkan jati dirinya kepada sang adik. Ia kemudian menyusun skenario agar Bunyamin dapat tinggal bersamanya, sementara saudara-saudara yang lain belum menyadari siapa sebenarnya penguasa yang mereka hadapi. Setelah serangkaian peristiwa penuh ujian dan penyesalan, Yusuf akhirnya mengungkapkan identitasnya di hadapan seluruh saudara.
“Akulah Yusuf dan ini saudaraku,” demikian Yusuf menjelaskan, seraya mengingatkan bahwa Allah telah memberi mereka jalan keluar setelah masa sulit. Para saudara, yang dulu pernah bersekongkol membuangnya, akhirnya mengakui kesalahan dan memohon maaf. Yusuf memilih untuk memaafkan dan tidak membalas dendam, menjadi teladan puncak dalam hal kesabaran dan kedewasaan.
Yusuf kemudian meminta mereka membawa baju miliknya untuk disampaikan kepada Nabi Ya’qub. Dalam riwayat disebutkan, ketika baju itu disentuhkan kepada wajah sang ayah, penglihatannya yang sempat hilang karena terlalu banyak menangis kembali pulih. Ya’qub dan keluarganya kemudian berangkat ke Mesir dan dipersatukan kembali dengan Yusuf setelah bertahun-tahun berpisah. Sebagian riwayat menyebut perpisahan itu berlangsung puluhan tahun.
Setelah seluruh keluarganya berkumpul, Yusuf menyadari bahwa nikmat Allah sudah disempurnakan atas dirinya: diangkat menjadi nabi, dipertemukan kembali dengan orang tua dan saudara, diberi kedudukan mulia, dan diselamatkan dari beragam ujian berat. Ia pun berdoa agar diwafatkan dalam keadaan berserah diri dan digabungkan bersama orang-orang saleh.
Nabi Ya’qub wafat terlebih dahulu dan dimakamkan di kawasan Syam dekat makam Nabi Ibrahim dan Nabi Ishaq, sesuai wasiatnya. Beberapa waktu kemudian, Nabi Yusuf juga dipanggil oleh Allah SWT. Ia wafat pada usia lanjut dan dimakamkan di tempat yang dalam riwayat disebut dekat makam orang tuanya. Kisah hidupnya ditutup dengan doa dan keteladanan tentang kesabaran, kejujuran, pengendalian diri, serta kemampuan memaafkan dalam puncak kekuasaan.