09 March 2026, 14:36

Lebaran 2026 Makin Terang? BMKG Buka Prediksi Hilal Penentu Idul Fitri, Hasilnya Jadi Sorotan

Kepastian Hari Raya Idul Fitri 2026 mulai mengerucut seiring jadwal sidang isbat penentuan 1 Syawal 1447 Hijriah

Reporter: M. Ansori
Editor: Deden M Rojani
2,148
Lebaran 2026 Makin Terang? BMKG Buka Prediksi Hilal Penentu Idul Fitri, Hasilnya Jadi Sorotan
Ilustrasi kapan Idul Fitri 2026 menurut BMKG / Doc Istimewa

JAKARTA, Perspektif.co.id - Kepastian Hari Raya Idul Fitri 2026 mulai mengerucut seiring jadwal sidang isbat penentuan 1 Syawal 1447 Hijriah yang akan digelar Kementerian Agama pada 19 Maret mendatang. Menjelang forum penentuan tersebut, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis prakiraan astronomis posisi hilal yang akan menjadi salah satu pijakan penting dalam menetapkan awal Syawal di Indonesia.

Dokumen prakiraan hilal yang dirilis BMKG menunjukkan bahwa konjungsi atau ijtima’ akan terjadi pada Kamis, 19 Maret 2026. Momen astronomis ini menjadi fase penting karena menandai pertemuan bujur ekliptika Bulan dan Matahari dalam sistem geosentris, yang selanjutnya menjadi dasar perhitungan awal bulan kamariah.

“Konjungsi geosentrik atau konjungsi atau ijtima' adalah peristiwa ketika bujur ekliptika bulan sama dengan bujur ekliptika matahari dengan pengamat diandaikan berada di pusat Bumi. Peristiwa ini akan kembali terjadi pada hari Kamis, 19 Maret 2026 M, pukul 01.23.23 UT atau Kamis, 19 Maret 2026 M, pukul 08.23.23 WIB atau Kamis, 19 Maret 2026 M, pukul 09.23.23 WITA atau Kamis, 19 Maret 2026 M, pukul 10.23.23 WIT,” tulis BMKG.

BMKG menjelaskan, konjungsi tersebut terjadi sebelum matahari terbenam di seluruh wilayah Indonesia pada 19 Maret 2026. Dengan kondisi itu, pelaksanaan rukyat atau pengamatan hilal untuk penentuan awal Syawal secara astronomis dapat dilakukan setelah matahari terbenam pada hari yang sama. Hal ini menjadi tahapan krusial karena hasil rukyat dan hisab nantinya akan dibahas dalam sidang isbat yang dipimpin Kementerian Agama.

“Secara astronomis pelaksanaan rukyat Hilal penentu awal bulan Syawal 1447 H bagi yang menerapkan rukyat dalam penentuannya adalah setelah matahari terbenam pada tanggal 19 Maret 2026,” demikian keterangan BMKG.

Dalam pemaparan BMKG, tinggi hilal di Indonesia saat matahari terbenam pada 19 Maret 2026 diperkirakan bervariasi, mulai dari 0,91 derajat di Merauke, Papua, hingga 3,13 derajat di Sabang, Aceh. Ketinggian hilal sendiri merupakan sudut antara proyeksi Bulan di horizon yang teramati sampai ke titik pusat piringan Bulan. Angka ini menjadi salah satu indikator utama untuk menilai kemungkinan hilal bisa diamati.

Tak hanya ketinggian hilal, BMKG juga mengungkap prakiraan elongasi atau jarak sudut antara pusat piringan Bulan dan pusat piringan Matahari. Pada saat matahari terbenam 19 Maret 2026, elongasi geosentris di wilayah Indonesia diperkirakan berkisar dari 4,54 derajat di Waris, Papua, sampai 6,1 derajat di Banda Aceh, Aceh. Nilai elongasi ini menjadi perhatian karena berkaitan langsung dengan visibilitas hilal saat pengamatan dilakukan dari permukaan Bumi.

Sementara itu, umur Bulan saat matahari terbenam di berbagai wilayah Indonesia diprediksi berada pada rentang 7,41 jam di Waris, Papua, hingga 10,44 jam di Banda Aceh, Aceh. Umur Bulan dihitung dari selisih waktu sejak konjungsi terjadi hingga matahari terbenam di masing-masing lokasi. Semakin besar umur Bulan, peluang hilal untuk teramati umumnya semakin terbuka, meski tetap bergantung pada faktor astronomi dan cuaca di lapangan.

BMKG juga mencatat adanya potensi objek astronomis lain saat rukyat dilakukan. Dalam rentang waktu sejak matahari terbenam hingga Bulan terbenam pada 19 Maret 2026, Saturnus disebut berada pada jarak sudut kurang dari 10 derajat dari Bulan. Kehadiran objek astronomis tersebut bisa menjadi bagian dari catatan pengamatan karena berpotensi muncul di sekitar area langit yang sama saat rukyat berlangsung.

Adapun penentuan resmi Idul Fitri di Indonesia tetap akan diputuskan melalui sidang isbat Kementerian Agama. Forum ini melibatkan unsur yang luas, mulai dari organisasi kemasyarakatan Islam, pakar falak, astronom, hingga lembaga terkait seperti BMKG, BRIN, planetarium, dan observatorium astronomi. Dengan keterlibatan banyak pihak, keputusan yang dihasilkan diharapkan merepresentasikan pendekatan ilmiah sekaligus pertimbangan keagamaan yang berlaku di Indonesia.

Indonesia selama ini menggunakan kriteria MABIMS, yakni standar yang disepakati bersama oleh Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura. Dalam kriteria terbaru, imkanur rukyat dinyatakan memenuhi syarat apabila hilal memiliki ketinggian minimal 3 derajat dan sudut elongasi 6,4 derajat. Ketentuan ini menjadi acuan penting untuk menilai apakah hilal pada 19 Maret 2026 telah memenuhi syarat penetapan awal Syawal.

Jika melihat data prakiraan BMKG, sebagian wilayah Indonesia menunjukkan ketinggian hilal yang mendekati atau mencapai 3 derajat, terutama di kawasan barat Indonesia seperti Aceh. Namun, dari sisi elongasi, angkanya masih bergerak di rentang hingga 6,1 derajat. Fakta ini membuat hasil pengamatan hilal dan keputusan sidang isbat tetap dinanti karena akan sangat menentukan kapan umat Islam di Indonesia merayakan Lebaran 2026.

Berita Terkait