JAKARTA, Perspektif.co.id - Memasuki fase akhir bulan suci, umat Islam mulai memusatkan perhatian pada malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir Ramadan. Salah satu yang paling dinanti adalah malam ke-21, karena menjadi awal dari rangkaian malam istimewa yang diyakini sebagai waktu terbaik untuk memburu Lailatul Qadar, malam yang kemuliaannya disebut lebih baik daripada seribu bulan.
Pada 2026, penentuan malam ke-21 Ramadan di Indonesia tidak berlangsung seragam. Perbedaan itu muncul karena awal Ramadan ditetapkan berbeda oleh organisasi Islam dan pemerintah, sebagaimana lazim terjadi dalam kalender Hijriah. Karena itu, jawaban atas pertanyaan apakah malam ini sudah masuk malam ke-21 Ramadan bergantung pada acuan penanggalan yang digunakan masing-masing umat Muslim.
Berdasarkan ketetapan Muhammadiyah, awal Ramadan 1447 Hijriah jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026. Dengan hitungan tersebut, malam ke-21 Ramadan telah dimulai sejak Senin malam, 9 Maret 2026, sementara tanggal 21 Ramadan jatuh pada Selasa, 10 Maret 2026. Artinya, bagi warga yang mengikuti ketetapan Muhammadiyah, malam 10 Maret bukan lagi awal malam ke-21, melainkan sudah memasuki rangkaian setelahnya.
Sementara itu, pemerintah melalui Kementerian Agama bersama Nahdlatul Ulama menetapkan 1 Ramadan 1447 Hijriah pada Kamis, 19 Februari 2026. Dengan dasar itu, malam ke-21 Ramadan baru dimulai pada Selasa malam, 10 Maret 2026, dan tanggal 21 Ramadan jatuh pada Rabu, 11 Maret 2026. Dengan demikian, bagi masyarakat yang mengikuti keputusan pemerintah dan NU, malam ini merupakan awal malam ke-21 Ramadan.
Perbedaan satu hari tersebut merupakan konsekuensi dari metode penetapan awal bulan Hijriah yang tidak selalu sama. Muhammadiyah menggunakan metode hisab, sedangkan pemerintah dan NU memadukan rukyat dan hisab dalam sidang isbat. Meski berbeda dalam penanggalan, substansi ibadah pada sepuluh malam terakhir Ramadan tetap sama, yakni memperbanyak amalan untuk meraih keutamaan malam Lailatul Qadar.
Kemuliaan malam itu telah dijelaskan dalam Al-Quran, tepatnya Surah Al-Qadr ayat 1 sampai 3, yang menegaskan bahwa malam kemuliaan lebih baik daripada seribu bulan. Karena itulah, umat Islam dianjurkan untuk tidak melewatkan malam-malam ganjil di penghujung Ramadan, terutama malam ke-21, 23, 25, 27, dan 29.
Rasulullah SAW juga menganjurkan umatnya agar bersungguh-sungguh mencari Lailatul Qadar pada malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir Ramadan. Dalam hadis riwayat Bukhari, Rasulullah bersabda, “Carilah Lailatul Qadar pada malam-malam ganjil di sepuluh malam terakhir Ramadan.” Pesan tersebut menjadi pijakan utama bagi banyak Muslim untuk menghidupkan malam-malam akhir Ramadan dengan ibadah yang lebih intens.
Sejumlah amalan dianjurkan untuk dikerjakan pada malam ke-21 Ramadan. Salah satunya adalah sholat malam atau qiyamul lail, yang menjadi ibadah utama pada fase akhir bulan puasa. Pada periode ini, Rasulullah SAW disebut meningkatkan ibadahnya secara lebih sungguh-sungguh sebagai bentuk keseriusan dalam memburu malam penuh kemuliaan.
Selain itu, membaca Al-Quran juga menjadi amalan yang sangat dianjurkan. Ramadan dikenal sebagai bulan turunnya Al-Quran, sehingga memperbanyak tilawah pada malam-malam akhir dipandang sebagai salah satu bentuk ibadah paling utama. Bacaan Al-Quran tidak hanya memperdalam pemahaman spiritual, tetapi juga menguatkan suasana kontemplatif dalam ibadah malam.
Amalan berikutnya adalah memperbanyak doa. Salah satu doa yang paling masyhur dibaca saat mencari Lailatul Qadar ialah, “Allahumma innaka 'afuwwun tuhibbul 'afwa fa'fu 'anni.” Doa ini memiliki makna permohonan ampun kepada Allah SWT, sekaligus menjadi doa yang sangat dianjurkan untuk dibaca pada malam-malam istimewa di akhir Ramadan.
Ibadah lain yang tidak kalah penting ialah dzikir dan tafakur. Selain menjalankan ibadah ritual, umat Islam juga dianjurkan memperbanyak mengingat Allah dan merenungi kebesaran-Nya. Amalan ini diyakini mampu memperhalus hati, mempertebal keimanan, dan menjadikan malam-malam Ramadan lebih bermakna secara spiritual.
Dalam penjelasan ulama, amalan terbaik pada sepuluh malam terakhir Ramadan bukan hanya satu jenis ibadah, melainkan gabungan dari berbagai bentuk ketaatan. Sholat, membaca Al-Quran, berdoa, dan tafakur dipandang sebagai rangkaian ibadah yang paling utama untuk menghidupkan malam-malam penuh kemuliaan tersebut.