10 November 2025, 20:43

Merawat Api Kepahlawanan di Tengah Gelombang Zaman, Ketika Pahlawan Kian Jauh dari Ingatan Kita!

Hari Pahlawan adalah gerak perubahan melawan manusia berekor, yang cinta dunia puncaknya. Perubahan butuh tekad yang besar, kegigihan, dan kerelaan berkorban.

Reporter: Redaksi Perspektif
Editor: Deden M Rojani
2,286
Merawat Api Kepahlawanan di Tengah Gelombang Zaman, Ketika Pahlawan Kian Jauh dari Ingatan Kita!
ilustrasi / Doc: AI Perspektif

Penulis: Dinno Brasco (Pengurus Pusat GP ANSOR & Cand. Magister Universitas Paramadina)

KENANG, KENANGLAH KAMI ! PAHLAWAN BANGSA SELALU DI HATI!

 “Ada yang akan tentukan nilai kepada tulang-tulang

yang berserakan sehabis perang”

—Chairil Anwar, Karawang-Bekasi

 

“Countries live  by death of their heroes”

—Naguib Mahfudz, Penyair Timur-Tengah

 

OPINI, Perspektif.co.id - Sesuatu banget hari ini. Tak terasa Hari Pahlawan datang kembali. Suasana yang mengharu-biru karena ‘sesuatu’ yang menyelimuti. Tentunya wajib kita merebahkan hati, disyukuri dengan secangkir kopi. Wajib hukumnya juga kita kirimkan do’a dan al-Fatihah, specially kepada pahlawan bangsa.

Ya, Hari Pahlawan Nasional, hari bersejarah 10 November yang terinspirasi peristiwa pertempuran rakyat melawan Sekutu di Surabaya. Sebuah Resolusi Jihad 45 yang dikumandangkan oleh ulama linuwih, orang tua kita semua, yakni Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari. Begitu juga seruan perlawanan, Amanat Jihad dari Muhammadiyah. Semuanya tentang cinta Tanah Air, mempertahankan bangsa dari penjajah harta dan penjarah haus darah manusia.

Hari Pahlawan adalah gerak perubahan melawan manusia berekor, yang cinta dunia puncaknya. Perubahan butuh tekad yang besar, kegigihan, dan kerelaan untuk berkorban demi sesuatu yang Maha besar. Perubahan juga memerlukan teladan utama, digerakkan oleh pahlawan. Bangsa yang besar bukan saja bangsa yang menghargai para pahlawannya, tapi juga bangsa yang mengenang dan meneruskan perjuangannya.

Filsuf eksistensialisme bernama Sören Kierkegaard berkata,“Seorang tiran mati dan kekuasaannya berakhir. Seorang martir gugur, dan kisahnya baru dimulai.” Begitulah yang terjadi pada bangsa Indonesia, banyak pahlawan yang gugur demi menegakkan bangsa dari Sabang sampai Merauke. Sejak itu, semua anak bangsa mengenang kematian mereka, mewarisi api perlawanan dan kisahnya pun baru dimulai di penjuru negeri.

Kita dengan setia memperingati peristiwa legendaris dan berusaha mengambil hikmah dan teladan para pahlawan. Di atas bumi Indonesia, pahlawan abadi dalam sejarah, dalam keabadian masa. Kita takkan menikmati indahnya negeri tanpa pengorban darah dan airmata pahlawan.

Sekali lagi, semua anak bangsa tentunya mengingat terus jasa pahlawan. Meneladani pejuang negeri untuk mewarisi api perjuangannya di masa lalu, untuk masa kini dan masa depan. Pahlawan bangsa yang mengorbankan nyawanya demi kita saat ini, menikmati negeri ini. Walaupun 80% kekayaan bangsa ini dikuasai oligarki dan grup-grup asing kakeane. Tragis memangbang!

Mantap! Tetap jangan pernah lupa. Jangan abai dan jangan sampai barisan milenial, terputus dengan sejarah pahlawan negeri, pendiri bangsa. Janganlah kita semua jadi generasi a-historis, ngga’ kenal Bung Karno, Moh Hatta, HadrattussyaikhKH. Hasyim Asy’ari, Tan Malaka, KH. Ahmad Dahlan, Bung Tomo dan lainnya. Jangan sampai tahunya Blacpink, BTS, Lee Min Ho, Nancy Ajram, Gong Yoo dan Won Bin, Shah Rukh Khan, Erdogan, Donald Trumph, and Kim Jong Un. Kan ngga’ lucu guys!

Dalam buku Indonesia Merdeka yang disusun berdarah-darah oleh Bung Karno, ada hal penting. Kenang-kenanglah pesan seorang pejuang nasional di Digul yang terdapat pada sebuah batu nisan di tempat pembuangannya, yang jauh dari sanak-keluarganya. Kata-kata itu ditulis di atas batu nisan yang sangat sederhana, tercantum syair yang mengharukan hati, ditulis saat detik-detik terakhir hidupnya: “De Toors, Onstoken In Den Nacht, Reik Ik Voorts, Aan Het Nageslacht”. Artinya: Obor yang kunyalakan di malam gelap ini, kuserahkan kepada generasi kemudian. Generasi kemudian itu adalah kita semua dari Sabang sampai Merauke, generasi milenial nasionalis yang berdzikir menyiasati angin perubahan dunia.

Siapkah kita hadapi itu semua? Apa yang sudah kita persiapkan? Semoga kisah dalam film Bollywood Marco, jadi inspirasi you. Ampunn!

 

TENTANG PAHLAWAN

Punten bro! Kita pernah nonton dua film yang keren dan top berjudul Sang Kiai. Berkisah tentang hero, pahlawan-pahlawan bangsa yang berjihad melawan penjajah dan penjarah yang ingin menguasai bangsa. Ada dawuh keren dari Hadratussyaikh, “Banyak orang yang wafat di medan tempur melawan penjajah, mereka tak dikenal sebagai pahlawan. Namun, saya yakin mereka adalah mujahid, mati sebagai syahid, mereka adalah syuhada.” Film keren tenan yang harusnya diputer di semua media TV nasional, diajarkan di PAUD, TK, sekolah, dan kampus.

Bagaimana mengenalkan Dia, pahlawan negeri yang luar biasa itu? Kita bisa share and share perjuangan pahlawan di medsos, video YouTube, Instagram, Twitter, Tik Tok dan lainnya. Jangan sampai Naruto, Doraemon dan Sponge Bob, Spiderman, Batman, Marvel The Avenger dan Super Hero lainnya jadi idola para krucil dan bocil di penjuru Tanah Air.

Peran mama-papa, ibu-bapak, Abi-Umi dan orang tua sangatlah penting dalam keluarga cemara, mengenalkan pahlawan bangsa. Apa kata dunia jika Pangeran Diponegoro, Patimura, RA Kartini, Cut Nyak Dien tenggelam dan hilang dalam sejarah arus era digital. Sebagaimana kisah film berjudul 300, tentang cerita Raja Leonidas dari Sparta melawan Raja Xerxes dari Persia. Saat detik terakhir meninggalnya, ia berkata: “Kenang-kenanglah, Kami.”

Nah, kita harus mengenang kembali, menghidupkan pahlawan-pahlawan negeri di era kekinian yang semakin keras, sadis, bengis. Brutal seperti azu dan bajingan!

 

Sahabat fillah di penjuru Tanah Air, mohon izin sruput kopi. Peringatan Hari Pahlawan tahun ini diselimuti banyak masalah bangsa yang ngga kunjung reda dari mulai ekonomi rakyat dan kelakuan elit, politisi busuk nan membusuk.

Pahlawan berasal dari kata pahala, ya sebuah pahala dari Tuhan Yang Maha Kuasa, karena amal saleh dan kebaikannya selama hidup di dunia. Tentunya amal baik untuk sesama manusia dan bangsa. Pahlawan adalah orang yang banyak berbuat baik, berakhlak dan menerima pahala. Coba saja yang berbuat baik di zaman digital saat ini adalah para penyelenggara negara, pasti sudah beres masalah bangsa. Berbuat yang terbaik untuk rakyat, dengan cepat dan tepat. Sekali lagi, pasti rakyat ngga’ kelimpungan kena dampak di-PHK, toko-toko banyak yang tutup dan lainnya. Penyelenggara negara harus serius kerja dan turba untuk masyarakat.

Ketika disebut nama pahlawan, yang terbayang adalah kematian. Syarat pahlawan memang sosok yang sudah gugur ke bumi. Kematiannya menjadi teladan dan inspirasi anak-anak negeri. Gugurnya pahlawan adalah legacy kebaikan yang ditularkan demi hidup hari ini dan kemudian hari.

Ya, menghadirkan sebuah kepahlawanan dalam diri kita sendiri. Kepahlawanan dalam diri inilah yang menggerakkan empati, peduli terhadap rakyat untuk berbagi kasih dengan sesama anak bangsa. Bersama memprotes pemerintah dalam menyalurkan bantuan dan keputusan yang merugikan rakyat. Dan juga jangan korupsi dan menggarong APBN. Kepahlawanan pemimpin bangsa dan penyelenggara negara bisa menjadi contoh. Karena itu, nilai kepahlawanan seorang pemimpin nasional dan kepala daerah ditentukan oleh kemampuannya untuk menghidupkan jiwa kepahlawanan pada diri rakyatnya. Tentunya, dimulai dari pemimpin, penyenggara negara dan bawahannya. Baru rakyat mengikuti jalannya. Itulah poin pentingnya juragan!

Pemimpin bangsa dan para penyelenggara negara harus memberikan teladan yang baik dengan tidak melakukan malin,korupsi dan tindakan yang melanggar konstitusi. Ini baru keren!

 

PENGORBANAN

Ada banyak pakar yang mengatakan bahwa Indonesia sudah kalah tekad dan cita-cita dari  orang Yahudi kulit putih Eropa. Belum lagi kita kalah dengan bangsa Cina, India, Barat, Rusia, Latin, Turki, Korsel, Iran dan bangsa lainnya dari langkah progresifitas sejarah, terutama bidang medis, sains, teknologi dan ekonomi. Itulah tantangan terbesar dan terberat masa kini.

What i’ve done sebagai anak bangsa Indonesia. Sebagai orang Muslim Indonesia? Sebagai milenial nasionalis? Sebagai penerus pahlawan? Tugas sejarah kita masa kini adalah seperti yang dilukiskan dalam metafora pakar sejarah bernama Arnold Toynbee, “Harus memberikan jawaban yang tetap pada tantangan yang sudah berubah.” Kita harus berpijak di bumi Indonesia, untuk rakyat, dan bangsa. Kita harus menghidupkan pahlawan dalam diri kita di zaman yang serba cepat, brutal dan ngeri saat ini.

Sahabat milenial di kafe dan warung kopi di penjuru negeri.

Pahlawan adalah sosok yang membumi dan melangit. Tentunya mereka sangatlah spesial dalam ingatan, nurani, dan imajinasi. Kita selalu menganggap pahlawan selalu ada di masa lalu, masa kini dan masa depan. Pahlawan adalah sosok dengan laku kepahlawanan. Tak pernah berlaku egois, dan tampil menyelamatkan orang lain.

Laku itu sangat langka dan tak dengan sendirinya melekat pada diri seseorang. Juga tindakan heroik tak pernah datang dari langit. Teladan pengorbanan diri dalam kehidupan sejarah bangsa. Inilah sikap yang diwariskan dari generasi ke generasi, dengan perbagai ungkapan yang dibangun dan dijunjung tinggi sahabat-sahabati seperjuangan.

Kita bisa melihatnya, bagaimana sosok pemuda-pemuda yang di tengah ketegangan Kota Surabaya Oktober 1945 merobek Merah-Putih-Biru dan mengubahnya jadi bendera Merah-Putih di atap Hotel Yamato melakukan sesuatu yang bukan pribadi. Ketika Chairil Anwar menulis tentang mereka yang gugur dalam pertempuran di wilayah Karawang-Bekasi, tersirat sebuah kesadaran: “Ada yang akan ‘tentukan nilai’ kepada ‘tulang-tulang yang berserakan’ sehabis perang”.

“Kenang, kenanglah kami….”. Ada kenangan bersama yang memberi makna sebagai sebuah bangsa. Bangsa, kata Benedict Anderson dalam bukunya Imagined Communities yang terkenal itu, selalu diikat sebagai sebuah hubungan setia kawan yang sejajar dan mendalam. Pada akhirnya, rasa persaudaraan inilah yang menyebabkan berjuta-juta rakyat, bersedia berkorban atau mati untuk sebuah kemerdekaan bangsa, Indonesia yang kita cinta hingga akhir masa.

Dalam sebuah agenda ngopi di warkop bareng generasi milenial, ia sangat kritis mempertanyakan makna Hari Pahlawan. Ketika rakyat di pinggir-pinggir negeri ini sama sekali tidak merasakan perbedaan hidup, baik di masa lalu maupun masa kini. Rakyat tetap terbelakang, tak tersentuh, tak terperhatikan, bahkan kian terimpit desakan hidup yang terus mendera. Ketika tiga hal pokok dalam hidup kita (ekonomi, kesehatan, dan pendidikan) kian hari justru menjadi tekanan, menjadi beban yang berat, apakah teriakan “Merdeka! di Hari Pahlawan” masih punya getaran di jiwa?

Banyak sekali masalah bangsa, misalnya masih ada 7 juta warga ialah pengangguran terbuka, puluhan juta yang tertutup. Bahkan, lebih dari setengah mereka yang bekerja tersebut, hanya lulus dari sekolah dasar. Lebih tragis lagi, persentase terbesar dari pengangguran itu ternyata lulusan perguruan tinggi dan sekolah kejuruan. Bahkan saat ini juga, kita semua mengalami tahap yang cukup ngeri, yakni masalah dasar negara Pancasila. Pancasila tidak sekadar menjadi jargon yang diulang-ulang dan simbol belaka. Pancasila wajib menjadi payung tempat berteduh dan bubu indah semua anak bangsa yang warna-warni.Pancasila sebagai tanda dari kehidupan berbangsa yang lapang dan waras. Pancasila tidak boleh juga menjadi alat kekuasaan para penipu dan bajingan, tapi harus melampaui itu Bang Haji!

Yang jelas, langkah kita adalah mengamalkan dasar negara Pancasila, diamalkan sebagai working ideology di masa kini dan negara harus mewujudkannya. Problem penting yang melanda bangsa kita dewasa ini adalah tergerusnya nilai-nilai kebangsaan sekaligus menipisnya Pancasila dalam jiwa segenap anak bangsa.

Pancasila harus hadir sebagai pusat gerak tubuh manusia sebagai bangsa di tengah fenomena kebangsaan yang mulai sempal dan hancur. Kita adalah pejalan yang mengikuti kompas sejarah itu, nyaman dan selamat hingga ke tepian, menuju pulau harapan, kebahagiaan bangsa. Petunjuk arah, kompas itu bernama Pancasila.  Kita semua kaum milenial harus mampu mewarnaibangsa dengan energi pahlawan bukan energi hitam lainnya.

Dalam situasi bangsa yang limbung, instable, mereka mengais-ngais pegangan sebagai acuan baru dan mereka menemukannya di dunia ‘hukum rimba’ tadi, internet, dan medsos. Itu semua, kita alami saat ini. Ya, kita semua. Kehidupan kita saat ini dicengkeram gadget dan medsos dari subuh sampai tengah malam, dari tengah malam balik lagi ke subuh. Ampun!

Apa yang terjadi saat ini adalah tak adanya panduan yang berarti dari hidup yang kita jalani. Agama kering, penuh kebencian, kemarahan, dipolitisir demi nafsu kuasa dan tahta manusia. Seperti petuah guru Bangsa Alm. Nurcholish Madjid, telah terjadi pendangkalan agama di tengah-tengah bangsa!

Generasi Z, Milenial dan kita semua akhirnya mengambil acuan di dunia medsos. Kita juga lebih mengenal Korea, Amerika, Turki, India, Saudi Arabia, Qatar atau Jepang, dibandingkan dengan daerah asal sendiri, kampung halaman dan bangsa sendiri. Indonesia menjadi kacau balau dan mengerikan bro. Akhlak pengabdian pahlawan harus dihidupkan kembali di masa kini agar kita tak tersesat di hutan rimba sejarah dan ‘mabuk agama’ di masa kini dan masa depan. Makkk!

Kata Bang Napi, “Waspadalah!”

 

AKHIRUL NGOPI

Singkat cerita, kita mesti bisa berlaku seperti pahlawan-pahlawan bangsa, Bung Karno, Moh. Hatta, Syahrir contohnya. Dalam berbangsa dan bernegara di tengah era penuh dengan kekerasan, kemarahan, dan pecah belah anak-anak bangsa.

Yuk, saatnya tidak melihat ras, budaya, agama, dan bahasa. Inilah visi Hari Pahlawan era kini. “Merawat atau hilang sama sekali”. Kata pahlawan kita, Soekarno, “Bangunlah suatu dunia di mana semua bangsa hidup dalam damai dan persaudaraan.” Membangun kedamaian dan persaudaraan kepada sesama anak bangsa juga sifat dan karakter pahlawan, sekaligus juga saling gotong royong, dengan kolaborasi membangun bangsa dengan ide, dan gagasan yang baik dan positif. Hubbul wathon minal iman, cinta Tanah Air adalah bagian dari iman. Itulah cara kita memaknai Hari Pahlawan saat ini.

Poinnya, kita semua ‘siapa pun dapat menjadi apa pun’, dari bukan siapa-siapa menjadi ‘siapa’, from zero to be (come) hero. Cuman, penyelenggara negara saja yang ngga’ ngurus rakyat dan manusia unggul di republik ini. Rakyat sendiri yang bergerak, memperkuat dirinya jadi hero.

Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawan. Mereka telah mengorbankan nyawanya demi kemerdekaan bangsa. Kita warisi api pahlawan negeri demi sebuah kebanggaan nasional (national pride). Kita perlu merawatnya dengan tujuan berbangsa dan bernegara, yaitu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Sebagaimana lirik lagu pahlawan yang super keren: gugur satu tumbuh seribu.

Kita akhiri gopi-ngopi kita ya! The heroes of TV series and film are really lucky! The find the solutions to their problem in no time. Pahlawan-pahlawan di serial TV dan film bener-bener beruntung! Mereka menemukan solusi atas masalah mereka dalam waktu yang singkat.

Tentunya hal ini bukanlah sosok pahlawan di bangsa kita, Indonesia. Pahlawan bangsa ialah yang lahir, berjuang dan syahid membela negerinya. Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari, KH. Ahmad Dahlan contohnya. Inilah pahlawan sejati, keren, bukan tokoh yang lain. Kebanggaan semua anak bangsa.

Terus bagaimana dengan hari ini 08 Presiden Prabowo mengumumkan 10 Pahlawan Nasional Bang Haji? Tanya adik kelas! Nah itu Dinda, secangkir kopi ini terasa kurang nikmat terasa! Kadang-kadang manusia memang begitu!

Semoga dengan berkah atmosfer indah Maulid Muhammad Sang Nabi, ruh para pahlawan bangsa digabungkan dan menyatu dengan orang-orang saleh sepanjang sejarah, senantiasa dirahmati Tuhan di taman surge.  Tentunya, hari demi hari kita senantiasa rapalkan puja-puji shalawat kepada manusia agung berakhlak mulia. Ya Rasulullah Saw khud biyadi!

Berkat pengorbanan pahlawan, kita kini bisa bahagia, bisa happy ngopi ganteng and cantik.

Mereka senantiasa hidup di hati, di sini dan dalam setiap sruputan kopi.

Kenang, kenanglah kami!

Al-fatihah maa shalawat.[]

Berita Terkait