Perspektif.co.id - YouTube meluncurkan serangkaian kontrol orang tua baru yang memungkinkan orang tua membatasi—bahkan memblokir—akses remaja ke fitur video pendek YouTube Shorts. Pembaruan ini menjadi bagian dari upaya platform milik Google tersebut untuk membantu keluarga mengelola waktu layar (screen time) anak, di tengah kekhawatiran bahwa kebiasaan “scrolling tanpa henti” pada video pendek bisa memicu perilaku adiktif, terutama pada remaja.
Dalam pembaruan terbaru, orang tua yang mengawasi akun remaja dapat menetapkan batas waktu khusus untuk Shorts dengan rentang tertentu—mulai dari durasi terbatas hingga nyaris nol. YouTube memberi contoh penggunaan yang fleksibel, misalnya orang tua bisa menyetel batas menonton Shorts “nol menit” ketika anak harus fokus mengerjakan tugas sekolah, lalu menaikkannya saat perjalanan jauh sebagai hiburan. “Misalnya, orang tua dapat mengatur batas waktu tayangan Shorts menjadi nol saat mereka ingin anak remaja mereka menggunakan YouTube untuk fokus pada pekerjaan rumah, dan mengubahnya menjadi 60 menit selama perjalanan mobil yang panjang untuk hiburan,” demikian pernyataan YouTube dalam pengumumannya.
YouTube menyatakan kontrol ini dirancang agar orang tua punya kendali yang lebih tegas atas pola konsumsi konten remaja. Sejalan dengan itu, platform juga menambahkan pengaturan pengingat “waktu tidur” (bedtime reminder) serta fitur “take a break” yang bisa disesuaikan, untuk mendorong jeda menonton. YouTube menyebut versi otomatis dari pengingat ini telah diterapkan secara default bagi pengguna di bawah 18 tahun, dan kini orang tua bisa mengatur lebih rinci sesuai kebutuhan keluarga.
Perusahaan juga memperkenalkan proses pendaftaran (signup) baru yang diklaim memudahkan orang tua membuat akun yang diawasi (supervised accounts) untuk anak dan remaja. Sistem baru ini ditujukan agar pengaturan pengawasan menjadi lebih sederhana, termasuk saat keluarga memakai perangkat yang sama. YouTube menyebut proses tersebut mempermudah perpindahan antara akun anak/remaja yang diawasi dan akun dewasa pada perangkat bersama.
Selain kontrol waktu, YouTube juga memperbarui pedoman rekomendasi konten untuk pengguna remaja. Platform menyatakan akan memprioritaskan video dengan fokus pada kategori yang lebih positif, seperti “keingintahuan dan inspirasi”, “pembentukan keterampilan hidup dan pengalaman”, serta “informasi yang dapat dipercaya yang mendukung kesejahteraan”. Kebijakan ini juga mencakup pembatasan agar remaja tidak terjebak menonton berulang konten tertentu yang berpotensi mengarah ke materi berbahaya—misalnya video yang mengidealkan tipe tubuh tertentu.
Rangkaian pembaruan ini muncul saat platform-platform teknologi menghadapi sorotan publik yang meningkat terkait keselamatan anak di internet, dari keluarga, aktivis, hingga pembuat kebijakan. YouTube menyebut langkah ini merupakan bagian dari penguatan perlindungan pengguna muda yang telah digenjot dalam beberapa bulan terakhir.
YouTube sebelumnya juga mengumumkan penggunaan kecerdasan buatan (AI) untuk memperkirakan usia pengguna, dengan tujuan menempatkan pengguna yang dicurigai masih remaja ke pengaturan perlindungan di bawah 18 tahun, terlepas dari tanggal lahir yang mereka masukkan saat mendaftar. Dengan kata lain, platform berupaya menutup celah akun remaja yang “mengaku dewasa” agar tetap mendapatkan proteksi.
Langkah YouTube ini berlangsung di tengah perbincangan luas soal efektivitas kontrol orang tua dan batasan usia pada layanan digital. Pekan ini, Google ikut disorot setelah unggahan LinkedIn yang viral menunjukkan adanya pemberitahuan kepada anak yang mendekati usia 13 tahun—usia “digital consent” di sejumlah yurisdiksi—tentang opsi untuk menonaktifkan pengawasan orang tua. Aktivis keamanan anak Melissa McKay mengkritik praktik tersebut, sementara Google merespons dengan menyatakan kebijakan telah diperbarui.
Direktur Senior Privasi, Keamanan, dan Keselamatan Google Kate Charlet menyatakan perusahaan kini mewajibkan persetujuan orang tua sebelum pengguna usia 13 tahun ke atas dapat menghapus pengawasan dari akun mereka. “Google telah memperbarui kebijakannya untuk mewajibkan persetujuan orang tua, sebelum pengguna berusia 13 tahun ke atas dapat menghapus pengawasan orang tua dari akun mereka,” tulis Charlet dalam unggahan di LinkedIn. Ia menambahkan, perubahan itu dimaksudkan agar perlindungan tetap berlaku sampai orang tua dan remaja sama-sama merasa siap untuk tahap berikutnya.
Sejumlah media internasional mencatat pembaruan YouTube ini sejalan dengan tren industri teknologi yang memperketat perlindungan anak dan remaja, termasuk dengan alat pembatas waktu, pengawasan konten, serta pengaturan rekomendasi yang lebih “ramah remaja”. TechCrunch melaporkan YouTube kini memberi cara bagi orang tua untuk membatasi akses ke Shorts, di tengah meningkatnya perhatian global atas keselamatan online anak.
YouTube menegaskan pengaturan pada supervised accounts dapat dikelola melalui Family Center atau Family Link, sehingga orang tua bisa mengatur pengalaman menonton anak dari satu ekosistem pengawasan. Dengan kontrol baru yang spesifik untuk Shorts, perusahaan berharap keluarga punya pilihan yang lebih presisi: bukan hanya membatasi YouTube secara umum, tetapi mengatur titik yang paling sering memicu kebiasaan menonton berlama-lama.
Bagi orang tua, fitur ini menjadi opsi tambahan untuk menyiasati tantangan baru era video pendek: satu sisi Shorts menawarkan hiburan cepat dan mudah diakses, tetapi sisi lain memicu kekhawatiran soal kebiasaan “doomscrolling” dan distraksi. YouTube menyatakan mereka akan terus memperbarui kontrol dan pedoman konten untuk remaja, seiring meningkatnya permintaan transparansi dan perlindungan yang lebih kuat dari publik.