TEKNOLOGI, Perspektif.co.id — Sejak serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel menghantam Iran pada 28 Februari 2026, sebuah ekosistem teknologi baru tumbuh di sisinya — bukan di medan perang, melainkan di layar laptop dan ponsel jutaan orang di seluruh dunia. Dashboard intelijen berbasis AI yang dikembangkan oleh dua pegawai perusahaan modal ventura Andreessen Horowitz kini menyajikan data sumber terbuka seperti citra satelit, pelacakan kapal, umpan berita, hingga fungsi obrolan langsung — semuanya terintegrasi dengan tautan ke pasar prediksi tempat orang-orang memasang taruhan soal siapa pemimpin tertinggi Iran berikutnya. Salah satu pengguna X bahkan memposting ajakan nonton bareng: “Ada yang mau bikin kumpul-kumpul di SF dan nayangkan ini di layar 100 inci?”
Jurnalis James O’Donnell dari MIT Technology Review menyebut fenomena ini sebagai “sirkus perang bertenaga AI” — sebuah campuran antara kecerdasan intelijen sumber terbuka, spekulasi finansial, dan konten sintetis yang lebih banyak mendistorsi arus informasi ketimbang menjelaskannya. Di waktu yang bersamaan, platform seperti StrikeRadar dan Polymarket meledak popularitasnya, menarik kalangan investor Silicon Valley, trader kripto amatir, hingga anggota parlemen Amerika yang murka.
StrikeRadar adalah dashboard interaktif buatan Yonatan Back, seorang manajer produk teknologi asal Israel yang mengaku tidak memiliki latar belakang coding. Ia membangun sistem tersebut menggunakan model bahasa Claude milik Anthropic hanya dalam waktu enam jam — mulai dari arsitektur, penulisan kode, hingga peluncuran situs. Platform ini bekerja dengan mengintegrasikan berbagai sumber data API secara real-time, mulai dari laporan berita kritis, pembatalan penerbangan di Iran, data cuaca, hingga pergerakan pesawat pengisi bahan bakar militer di kawasan Teluk Persia.
Sementara itu, Polymarket — platform taruhan berbasis kripto asal Amerika Serikat — mencatat volume perdagangan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Sebesar 529 juta dolar AS atau setara Rp 8,7 triliun diperdagangkan dalam kontrak yang terkait dengan waktu penyerangan terhadap Iran. Firma analitik Bubblemaps SA menemukan bahwa enam akun yang baru dibuat meraup keuntungan 1 juta dolar AS (sekitar Rp 16,5 miliar) dengan secara tepat memperkirakan bahwa AS akan menyerang Iran sebelum tenggat 28 Februari — sebuah pola yang menimbulkan kecurigaan perdagangan orang dalam.
Lebih dari 194 juta dolar AS (sekitar Rp 3,2 triliun) juga ditaruhkan di berbagai kontrak Polymarket yang mempertaruhkan apakah Khamenei akan “keluar sebagai Pemimpin Tertinggi Iran” pada berbagai tanggal. Pasar tersebut terselesaikan pada 28 Februari ketika Khamenei tewas akibat serangan udara Israel. Platform pesaingnya, Kalshi yang diregulasi federal, akhirnya mengembalikan seluruh dana pengguna di pasar serupa karena regulasi melarang taruhan yang langsung berkaitan dengan kematian seseorang.
CEO Polymarket Shayne Coplan, saat ditanya soal kontroversi ini di MIT Sloan Sports Analytics Conference, menyebut situasi ini sebagai “pertanyaan yang rumit,” namun membela bahwa pasar prediksi memiliki fungsi informasi yang kuat — bahkan di zona perang. Ia menepis sebagian kritik dengan menyebutnya sebagai “more money, more problems.”
“Masih banyak resistensi terhadap inovasi yang memang terasa mengagetkan di awal… itulah yang membuatnya inovatif dan disruptif,” ujar Coplan.
Respons dari Capitol Hill tak butuh waktu lama. Senator Chris Murphy dari Partai Demokrat menulis di X: “Gila ini masih legal,” sembari mengumumkan ia akan segera mengajukan legislasi untuk melarang praktik tersebut. Senat AS kemudian memperkenalkan End Prediction Market Corruption Act, yang akan melarang presiden, wakil presiden, anggota Kongres, dan keluarga inti mereka dari perdagangan kontrak acara di platform prediksi — disertai denda dan pengembalian keuntungan bagi yang melanggar.
Di sisi lain ekosistem ini, perang informasi visual berlangsung tak kalah sengit. BBC Verify menemukan banyak contoh video buatan AI dan citra satelit yang difabrikasi, digunakan untuk membuat klaim palsu tentang konflik yang secara kolektif telah meraih ratusan juta tayangan daring. Gubernur Texas Greg Abbott bahkan membagikan ulang klip dari video game War Thunder dengan tulisan “Bye bye,” sebelum menghapusnya setelah Community Note menandai konten tersebut sebagai rekaman game.
Surat kabar berafiliasi negara Iran, Tehran Times, menyebarkan gambar satelit palsu yang diklaim menunjukkan kerusakan fasilitas radar AS di Qatar. Alat deteksi SynthID milik Google mengonfirmasi bahwa gambar tersebut diturunkan dari citra asli pangkalan angkatan laut AS di Bahrain dan dimodifikasi menggunakan produk AI Google.
Jurnalis senior BBC Verify, Shayan Sardarizadeh, menyatakan pada 4 Maret bahwa “perang ini mungkin sudah memecahkan rekor jumlah video dan gambar yang dihasilkan AI dan viral selama suatu konflik.”
Merespons situasi tersebut, platform X mengumumkan kebijakan baru: kreator yang mengunggah video perang buatan AI tanpa label yang jelas akan dibekukan dari program berbagi pendapatan selama 90 hari, dan pelanggaran kedua berakibat pemblokiran permanen dari program tersebut. Namun TikTok dan Meta, induk Facebook dan Instagram, tidak merespons permintaan komentar BBC Verify soal apakah mereka berencana mengambil langkah serupa.
Ilmuwan politik Steven Feldstein mengatakan bahwa seiring meningkatnya kesadaran publik terhadap AI, para pembuat disinformasi pun semakin canggih dalam menyajikannya — menghasilkan apa yang ia sebut sebagai “shallowfake,” yakni manipulasi yang lebih halus namun tetap menyesatkan. Para peneliti memperingatkan bahwa selama model bisnis platform digital terus mengandalkan engagement sebagai ukuran keberhasilan, banjir konten sintetis dalam setiap krisis geopolitik bukan sekadar kemungkinan — melainkan kepastian.