EKONOMI, Perspektif.co.id — Guncangan geopolitik akibat serangan militer Amerika Serikat dan Israel ke Iran sejak 28 Februari 2026 terus meruntuhkan pasar saham Asia secara masif dan tak terbendung, memaksa investor global melarikan modal mereka dari kawasan yang paling rentan terhadap krisis energi Timur Tengah. Kapitalisasi pasar India anjlok ke angka 4,7 triliun dolar AS atau setara Rp77.080 triliun—terendah sejak April 2025—setelah terkikis sekitar 447 miliar dolar AS (Rp7.330 triliun) sejak perang meletus, menyamai dalam nilai absolut kehancuran pasar saat pandemi Covid-19 melanda pada Maret 2020, sebagaimana dilaporkan Business Standard. Lebih dari 400 saham di bursa India rontok dua digit dalam waktu singkat, mencerminkan betapa dalamnya kepanikan yang menguasai para pelaku pasar.
Morgan Stanley secara resmi menurunkan peringkat ekuitas India dari overweight menjadi equalweight, menandai pergeseran besar dalam pandangan salah satu bank investasi terbesar dunia terhadap prospek pasar terbesar Asia Selatan itu. Dalam catatan strategi bertanggal 5 Maret, para analis Morgan Stanley termasuk Daniel Blake dan Jonathan Garner menyatakan, “Asia tetap sangat bergantung pada pasokan minyak mentah, produk olahan, dan LNG dari Timur Tengah, dan kami percaya pasar terlalu bersikap tenang terhadap risiko rantai pasok.”
Korea Selatan menjadi korban paling parah di antara seluruh bursa Asia, dengan indeks Kospi mencatat penurunan harian terbesar dalam sejarah bursa negeri ginseng itu pada 4 Maret 2026, amblas 12,1 persen ke level 5.093,54 hingga mekanisme circuit breaker diaktifkan oleh Korea Exchange untuk menghentikan sementara perdagangan, menurut laporan Euronews. Indeks teknologi Kosdaq bahkan terjun lebih dalam dengan kejatuhan 14 persen, sementara saham Samsung Electronics melorot 11,7 persen dan pemasok semikonduktor SK Hynix kehilangan 9,6 persen dari nilainya dalam satu sesi tunggal. Secara kumulatif, dua hari perdagangan berturut-turut menghapus sekitar 500 miliar dolar AS atau setara Rp8.200 triliun dari valuasi bursa Korea Selatan, sementara won Korea juga menyentuh level terendah dalam 17 tahun terhadap dolar AS, dilaporkan Reuters.
Kondisi ini membalikkan kejayaan Kospi yang sebelumnya menjadi salah satu pasar saham dengan performa terbaik di dunia, setelah melesat lebih dari 75 persen sepanjang 2025 dipicu euforia semikonduktor kecerdasan buatan. Nomura menandai Korea Selatan sebagai salah satu negara paling rentan terhadap tekanan neraca berjalan, mengingat impor minyak bersih negara itu setara dengan 2,7 persen dari produk domestik bruto, dengan sekitar 70 persen pasokan minyak mentah bersumber dari kawasan Timur Tengah.
Francis Lun, Chief Executive Venturesmart Asia—perusahaan jasa keuangan berbasis Hong Kong—menyampaikan penilaian keras terhadap akar permasalahan krisis ini kepada Euronews.
“Saya pikir situasi Iran sudah di luar kendali, dan saya pikir Presiden AS Donald Trump telah melakukan kesalahan perhitungan yang luar biasa besar,” tegasnya, seraya menambahkan bahwa “situasi ini sangat suram.
Di sisi lain, pasar Tiongkok justru bergerak melawan arus, menunjukkan ketahanan relatif yang mencolok di tengah tekanan jual yang melanda hampir seluruh kawasan Asia. Hang Seng Hong Kong turun hanya 1,4 persen ke 25.408,46, sementara Shanghai Composite Index melemah 0,7 persen ke 4.096,60—kerugian yang jauh lebih moderat dibandingkan pasar-pasar Asia lainnya. Ketahanan relatif bursa Tiongkok ini didukung oleh aliran masuk Stock Connect ke arah selatan yang mencatat rekor, mengindikasikan kepercayaan investor terhadap perusahaan-perusahaan yang berorientasi domestik.
China secara resmi memposisikan diri sebagai negara netral dalam konflik ini, meski Beijing memiliki kepentingan ekonomi besar di Iran—dengan investasi lebih dari 100 miliar dolar AS di sektor energi dan infrastruktur negara tersebut. Utusan khusus Tiongkok untuk Timur Tengah, Zhai Jun, menyerukan penghentian serangan dan mengecam semua serangan terhadap target non-militer dan warga sipil.
Goldman Sachs dalam laporan 6 Maret berupaya meredam kepanikan dengan menyarankan investor agar memandang penurunan Kospi sebagai koreksi dalam konteks reli luar biasa 176 persen sejak April 2025. Para analis Goldman Sachs menulis, “Kami memandang penurunan ini sebagai koreksi yang kemungkinan besar akan diikuti pemulihan ke ketinggian baru setelah periode konsolidasi.” Senada dengan itu, Eli Lee, kepala strategi investasi Bank of Singapore milik OCBC, menekankan bahwa sejarah membuktikan guncangan geopolitik jarang berdampak jangka panjang terhadap harga ekuitas, asalkan tidak berujung pada kejutan minyak yang berkepanjangan.
Namun kenyataan di lapangan terasa jauh lebih keras: harga minyak Brent sempat menembus 120 dolar AS per barel di awal pekan, sementara Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, secara terbuka menegaskan bahwa Selat Hormuz—jalur transit bagi sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas global—harus tetap ditutup, sebagaimana dikutip CNBC. Komandan Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Iran, Alireza Tangsiri, mempertegas ancaman itu lewat media sosial dengan memperingatkan “pukulan paling keras kepada musuh agresor.” Secara keseluruhan, kapitalisasi pasar dunia telah tergerus lebih dari 8,5 triliun dolar AS atau setara Rp139.400 triliun dalam dua pekan sejak perang meletus, menurut data yang dikumpulkan Business Standard.