03 March 2026, 17:01

Selat Hormuz Ditutup, Amran Tetap Gas Ekspor 2.280 Ton Beras ke Arab Saudi: “Tanggal 7” Jalan Terus!

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman memastikan rencana ekspor beras Indonesia ke Arab Saudi tetap berjalan meski Selat Hormuz dilaporkan ditutup

Reporter: M. Ansori
Editor: Zainur Akbar
709
Selat Hormuz Ditutup, Amran Tetap Gas Ekspor 2.280 Ton Beras ke Arab Saudi: “Tanggal 7” Jalan Terus!
(FOTO:Arsip FMB9)

Perspektif.co.id - Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman memastikan rencana ekspor beras Indonesia ke Arab Saudi tetap berjalan meski Selat Hormuz dilaporkan ditutup di tengah eskalasi konflik di Timur Tengah. Amran menegaskan, pengiriman beras sebesar 2.280 ton tidak terganggu dan dijadwalkan diberangkatkan dalam waktu dekat untuk kebutuhan konsumsi jemaah haji Indonesia di Arab Saudi.

“Ekspor berasnya (ke Arab Saudi) tanggal 7 (Maret),” kata Amran di Kantor Kementerian Pertanian, Jakarta Selatan, Selasa (3/3/2026), merujuk jadwal pengiriman yang tetap dipertahankan.

Amran menepis kekhawatiran bahwa tensi geopolitik akan mengganggu sektor pangan dalam negeri. Ia menyatakan kondisi pertanian dan peternakan nasional berada dalam situasi aman. “(Peternakan dan pertanian Indonesia) tidak terganggu, aman-aman,” ujarnya singkat.

Pemerintah, menurut Amran, tetap melanjutkan rencana ekspor 2.280 ton beras tersebut dalam beberapa hari ke depan. Ia berharap proses pengapalan berlangsung lancar, meski kondisi global sedang bergejolak. Di saat yang sama, Amran mengingatkan bahwa eskalasi konflik berpotensi mengerek harga bahan baku, sehingga pemerintah perlu menutup celah risiko dengan memastikan pasokan pangan dan protein domestik tetap terjaga.

“Ini hampir pasti harga bahan baku bisa naik. Makanya kita antisipasi pangan kita cukup, protein kita cukup, Indonesia aman,” kata Amran.

Ekspor 2.280 ton beras itu merupakan bagian dari pengiriman untuk kebutuhan konsumsi jemaah haji Indonesia di Arab Saudi dan sebelumnya disebut sebagai pengiriman perdana beras RI ke negara tersebut. Kementerian Koordinator Bidang Pangan juga pernah menyampaikan pengapalan dilakukan bertahap, dengan gelombang awal pada 28 Februari 2026 dan lanjutan pada awal Maret 2026, sekaligus menandai pembukaan pasar beras Indonesia untuk kebutuhan layanan haji di Tanah Suci. 

Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani sebelumnya menjelaskan total volume ekspor 2.280 ton merupakan permintaan Kementerian Haji Arab Saudi dan telah melewati koordinasi lintas kementerian serta pemenuhan prosedur ekspor. Skema pengiriman disebut dibagi dua gelombang, menyesuaikan kesiapan logistik dan jadwal pengapalan dari Indonesia menuju pelabuhan tujuan di Arab Saudi. 

Ketegangan di Timur Tengah menjadi latar yang memperbesar perhatian pasar terhadap rantai pasok global. Selat Hormuz sendiri merupakan jalur pelayaran strategis yang menghubungkan Teluk Persia dan Laut Arab serta dikenal sebagai salah satu rute vital perdagangan energi dunia. Sejumlah laporan menyebut kapal-kapal menerima peringatan radio bahwa tidak ada kapal yang boleh melintasi Selat Hormuz, seiring memanasnya situasi keamanan kawasan. 

Penutupan atau gangguan yang berkepanjangan di jalur tersebut dipandang berpotensi memicu kenaikan harga energi global dan menular ke biaya logistik, ongkos angkut, serta harga bahan baku lintas negara. Dalam konteks itu, Amran menekankan mitigasi domestik menjadi kunci, terutama agar stabilitas ketersediaan pangan dan protein tetap terjaga di dalam negeri saat volatilitas global meningkat.

Berita Terkait