JAKARTA, Perspektif.co.id - Bank Indonesia (BI) kembali membuka layanan tambahan penukaran uang baru menjelang Lebaran 2026 untuk mengakomodasi tingginya permintaan masyarakat. Layanan bertajuk SERAMBI Peduli Mudik ini disediakan di berbagai titik strategis jalur mudik seperti bandara, stasiun, terminal, pelabuhan hingga rest area.
Program tersebut disiapkan bagi masyarakat yang belum sempat menukarkan uang pecahan baru untuk kebutuhan Lebaran. Kehadiran layanan ini diharapkan mempermudah para pemudik yang tengah melakukan perjalanan pulang kampung namun tetap membutuhkan uang pecahan kecil untuk tradisi berbagi atau pemberian THR.
Kepala Departemen Pengelolaan Uang Bank Indonesia, Muh Anwar Bashori, mengatakan layanan tambahan ini dibuka selama dua hari, yakni pada 16 hingga 17 Maret 2026 di puluhan titik layanan yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.
“Pada tanggal 16-17 Maret 2026, Bank Indonesia menyelenggarakan layanan penukaran tambahan SERAMBI Peduli Mudik,” ujar Anwar dalam keterangan tertulisnya, Senin (16/3/2026).
Ia menjelaskan bahwa layanan tersebut tersedia di 55 titik layanan yang difokuskan pada lokasi-lokasi dengan mobilitas pemudik tinggi. Fasilitas ini sengaja ditempatkan di area transportasi dan jalur mudik untuk memudahkan masyarakat yang ingin menukarkan uang tanpa harus datang ke kantor bank atau lokasi penukaran reguler.
Secara keseluruhan, BI menyiapkan sekitar 11.900 paket penukaran uang dalam layanan tambahan tersebut. Penambahan layanan ini dilakukan setelah melihat lonjakan minat masyarakat yang signifikan dalam menukarkan uang rupiah menjelang Idul Fitri tahun ini.
Data Bank Indonesia menunjukkan bahwa hingga 13 Maret 2026, jumlah masyarakat yang telah melakukan penukaran melalui layanan resmi mencapai 1.076.282 orang. Angka tersebut meningkat sekitar 85,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat sebanyak 580.496 penukar.
Menurut Anwar, tingginya permintaan tersebut mendorong BI untuk memperluas cakupan layanan agar akses masyarakat terhadap penukaran uang semakin mudah. Pada tahun ini, jumlah titik layanan penukaran juga ditingkatkan secara signifikan dibandingkan tahun sebelumnya.
Jika pada tahun lalu tersedia sekitar 5.202 layanan penukaran, maka pada tahun ini jumlahnya meningkat menjadi 9.294 titik layanan yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia.
“Tingginya animo dan perluasan layanan tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan masyarakat terhadap uang pecahan kecil untuk tradisi berbagi, pemberian THR, serta aktivitas ekonomi selama Ramadan dan Idul Fitri masih sangat besar,” jelasnya.
Bank Indonesia memastikan ketersediaan uang rupiah dalam jumlah memadai dan pecahan yang sesuai melalui berbagai kanal resmi, termasuk layanan kas keliling, layanan terpadu, serta melalui jaringan perbankan yang bekerja sama dengan BI.
Selain memperluas layanan, BI juga mengingatkan masyarakat untuk melakukan penukaran uang hanya melalui kanal resmi. Langkah ini penting untuk memastikan keaslian uang serta menghindari berbagai potensi risiko yang bisa muncul dari transaksi tidak resmi.
Anwar menegaskan bahwa praktik jual beli uang di luar layanan resmi memiliki sejumlah risiko, mulai dari kemungkinan uang palsu, jumlah uang yang tidak sesuai, hingga potensi penipuan yang dapat merugikan masyarakat.
“Penukaran melalui mekanisme jual beli di luar layanan resmi memiliki berbagai risiko, antara lain keaslian uang tidak terjamin, jumlah uang sulit dipastikan akurat, tidak memiliki perlindungan atau pertanggungjawaban, serta rawan penipuan yang dapat merugikan masyarakat secara finansial,” imbuhnya.