EKONOMI, Perspektif.co.id — Nilai tukar rupiah kembali terperosok ke titik paling lemah dalam beberapa bulan terakhir setelah Bank Indonesia mengonfirmasi penurunan cadangan devisa yang memicu kepanikan pasar. Pelemahan ini terjadi bersamaan dengan aksi jual besar-besaran investor asing dan meningkatnya tekanan geopolitik global, membuat IHSG ikut terseret turun.
Bank Indonesia melaporkan cadangan devisa Februari berada di USD 151,9 miliar (sekitar Rp 2.450 triliun), turun dari USD 154,6 miliar pada bulan sebelumnya. Penurunan ini menjadi yang terendah dalam delapan bulan terakhir, memicu kekhawatiran soal kemampuan stabilisasi rupiah di tengah volatilitas global.
“Cadangan devisa masih memadai untuk menjaga ketahanan sektor eksternal dan stabilitas sistem keuangan,” ujar Executive Director BI, Ramdan Denny Prakoso, menegaskan bahwa tekanan global menjadi faktor utama pelemahan.
Di pasar keuangan, rupiah sempat menyentuh Rp 16.910 per dolar AS, level yang memicu intervensi agresif bank sentral. IHSG ikut terseret, sempat melemah lebih dari 2% setelah investor asing mencatatkan arus keluar signifikan dari pasar saham.
Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menilai arus modal keluar menjadi pemicu utama terkurasnya cadangan devisa.
“Februari terjadi outflow sekitar USD 1,1 miliar, terutama dari pasar saham, sehingga rupiah melemah cukup signifikan,” jelasnya.
Di sisi lain, regulator pasar modal mengaktifkan kembali kebijakan buyback tanpa persetujuan pemegang saham untuk meredam gejolak. OJK berharap langkah ini dapat menahan volatilitas dan mengembalikan kepercayaan investor.
“Kami ingin memberi sinyal bahwa fundamental emiten tetap kuat dan memberi ruang bagi perusahaan untuk menstabilkan harga saham,” kata Inarno Djajadi dari OJK.
Bank Indonesia juga melakukan intervensi valuta asing secara “berani dan terukur” untuk menahan tekanan rupiah.
“BI akan terus melakukan respons antisipatif dan mitigatif untuk menjaga stabilitas nilai tukar,” tegas Fitra Jusdiman, pejabat BI yang menangani manajemen aset moneter.
Meski tekanan meningkat, sejumlah analis menilai cadangan devisa Indonesia masih berada pada level aman untuk membiayai impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Namun, mereka memperingatkan bahwa ketidakpastian global—mulai dari kebijakan suku bunga AS hingga konflik Timur Tengah—dapat memperpanjang tekanan terhadap rupiah.