10 January 2026, 13:41

Terbongkar! Ambisi Minyak Jadi Dalang AS Gulingkan Pemerintah Iran

Hubungan Amerika Serikat dan Iran pernah terjalin sangat erat pada era 1950-an, ketika Iran masih berada di bawah monarki Shah Reza Pahlavi.

Reporter: Ihsan Nurdin
Editor: Zainur Akbar
1,779
Terbongkar! Ambisi Minyak Jadi Dalang AS Gulingkan Pemerintah Iran
Iran kembali diguncang demo besar-besaran. (via REUTERS/Social Media)

Perspektif.co.id - Hubungan Amerika Serikat dan Iran pernah terjalin sangat erat pada era 1950-an, ketika Iran masih berada di bawah monarki Shah Reza Pahlavi. Kedekatan kedua negara kala itu tidak lepas dari kepentingan strategis atas kekayaan minyak Iran yang sangat besar. Iran tercatat sebagai negara pertama di kawasan Timur Tengah yang menemukan cadangan minyak, tepatnya pada 1908 melalui pengeboran yang dilakukan William d’Arcy.

Tak lama setelah penemuan tersebut, berdirilah The Anglo Persian Company pada 1909 yang kemudian berubah nama menjadi British Petroleum (BP) pada 1951, dengan kepemilikan saham mayoritas dikuasai pemerintah Inggris sebesar 51 persen. Selama puluhan tahun, perusahaan asing menguasai pengelolaan minyak Iran dan menikmati keuntungan besar dari sumber daya tersebut.

Situasi berubah drastis ketika Mohammad Mossadegh terpilih secara demokratis sebagai Perdana Menteri Iran pada 1951. Salah satu kebijakan kontroversialnya adalah menasionalisasi seluruh perusahaan minyak asing yang beroperasi di Iran. Langkah itu dilakukan demi mengembalikan kedaulatan ekonomi negara dan memastikan kekayaan alam Iran dikelola untuk kepentingan rakyat.

Namun kebijakan tersebut memicu kemarahan Inggris yang kemudian menggandeng Amerika Serikat untuk menjatuhkan pemerintahan Mossadegh. Operasi rahasia pun disusun secara sistematis oleh badan intelijen kedua negara. CIA, di bawah kendali Kermit Roosevelt, memainkan peran sentral dalam perencanaan dan pelaksanaan kudeta.

Mengutip Stephen Kinzer, penulis buku All the Shah’s Men, Kermit Roosevelt menguasai jalur informasi publik Iran dengan cara menyuap media dan menyebarkan propaganda negatif terhadap Mossadegh. Pers dimanfaatkan untuk membentuk opini bahwa sang perdana menteri merupakan ancaman bagi stabilitas negara.

Tak hanya itu, CIA juga membangun jaringan dukungan dengan merekrut sejumlah ulama dan kelompok masyarakat tertentu. Mereka menyebarkan narasi bahwa Mossadegh anti-Islam dan berbahaya bagi masa depan Iran. “Konten propaganda itu dirancang untuk membuat publik meragukan kepemimpinan Mossadegh,” tulis Kinzer dalam penelitiannya.

Upaya awal untuk menangkap Mossadegh di kediamannya pada tengah malam sempat gagal. Sang perdana menteri mengetahui rencana tersebut dan berhasil menggagalkannya. Keesokan harinya, Mossadegh bahkan mengumumkan kemenangan atas upaya kudeta melalui siaran radio nasional, yang sempat membangkitkan harapan rakyat Iran.

Meski demikian, Amerika Serikat dan Inggris tidak menghentikan operasinya. Dengan menggandeng kelompok oposisi dan massa bayaran, propaganda terus digencarkan. Kerusuhan demi kerusuhan diciptakan untuk mengguncang stabilitas politik Iran dan membentuk kesan bahwa pemerintahan Mossadegh telah kehilangan dukungan rakyat.

Hanya dalam waktu empat hari, CIA bersama intelijen Inggris MI6 berhasil menggulingkan Mossadegh pada 19 Agustus 1953. Perdana menteri yang sebelumnya dipilih secara demokratis itu akhirnya ditangkap, diadili, dan diposisikan sebagai pesakitan di negaranya sendiri.

Setelah kudeta berhasil, Amerika Serikat kembali mengangkat Shah Reza Pahlavi sebagai pemimpin Iran. Bersamaan dengan itu, perusahaan-perusahaan minyak Barat kembali masuk dan mengambil alih pengelolaan industri minyak Iran yang sebelumnya telah dinasionalisasi.

Pengelolaan minyak Iran kemudian diserahkan kepada Konsorsium Minyak Iran atau Iran Oil Consortium (IOP). Dalam skema ini, British Petroleum memegang 40 persen saham, lima perusahaan minyak Amerika Serikat yang dikenal sebagai “Seven Sisters” menguasai 40 persen, Royal Dutch Shell dari Belanda menguasai 14 persen, dan perusahaan minyak Prancis Compagnie Française des Pétroles mengantongi 6 persen. Keuntungan dibagi dengan komposisi 50 persen untuk perusahaan asing dan 50 persen untuk pemerintah Iran.

Dominasi perusahaan Barat atas minyak Iran kembali berlangsung hingga pecah Revolusi Islam pada 1979. Revolusi tersebut menggulingkan Shah Reza Pahlavi untuk kedua kalinya dan sekaligus mengakhiri keberadaan perusahaan-perusahaan minyak Barat di Iran. Sejak saat itu, hubungan Iran dan Amerika Serikat memasuki fase permusuhan yang berlangsung hingga kini.

Keterlibatan langsung Amerika Serikat dalam penggulingan Mossadegh akhirnya diakui secara resmi puluhan tahun kemudian. Pada 19 Agustus 2013, CIA menerbitkan dokumen yang mengungkap perannya dalam kudeta Iran 1953. Dalam arsip tersebut, CIA secara terbuka menyatakan bahwa operasi rahasia itu memang dirancang untuk menjatuhkan pemerintahan Mohammad Mossadegh.

Dokumen-dokumen tersebut memuat detail rencana CIA, termasuk peran Kermit Roosevelt yang bukan hanya merancang satu, melainkan dua skenario untuk mengguncang stabilitas politik Iran. Pengakuan ini sekaligus menjadi bukti bahwa kepentingan minyak menjadi faktor utama yang mendorong Amerika Serikat dan Inggris menjatuhkan pemerintahan Iran yang sah.

“Operasi ini selamanya mengubah hubungan antara Iran dan Amerika Serikat,” tulis CIA dalam salah satu catatan resminya, menegaskan dampak jangka panjang dari intervensi politik yang dilandasi kepentingan ekonomi dan geopolitik.

Berita Terkait