28 December 2025, 16:48

Trump Mengaku “Bingung” soal Somaliland usai Israel Mengakui

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengaku belum berniat segera mengikuti langkah Israel yang secara resmi mengakui Somaliland

Reporter: M. Ansori
Editor: Zainur Akbar
1,913
Trump Mengaku “Bingung” soal Somaliland usai Israel Mengakui
Presiden AS Donald Trump bingung Israel akui negara Somaliland. ((AFP/Ludovic Marin))

Perspektif.co.id - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengaku belum berniat segera mengikuti langkah Israel yang secara resmi mengakui Somaliland—wilayah yang memisahkan diri dari Somalia—sebagai negara merdeka. Dalam wawancara telepon dengan New York Post yang dikutip sejumlah media internasional, Trump menyatakan isu itu masih dikaji dan ia belum mengambil keputusan. “Everything is under study… We’ll study it,” kata Trump. 

Trump bahkan melontarkan komentar bernada ragu mengenai pengetahuan publik soal wilayah tersebut. “Does anyone know what Somaliland is, really?” ujarnya, ketika ditanya soal kemungkinan pengakuan Amerika Serikat terhadap Somaliland. 

Pernyataan itu muncul setelah Israel menjadi negara pertama yang secara formal mengakui Somaliland sebagai “negara merdeka dan berdaulat”. Reuters melaporkan pengakuan itu diumumkan pada Jumat, 26 Desember 2025, disertai rencana kerja sama lintas sektor—mulai dari pertanian, kesehatan, teknologi, hingga ekonomi—yang disebut akan segera dijajaki. 

Dalam laporan Reuters, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyebut deklarasi tersebut dibuat “dalam semangat Perjanjian Abraham”, inisiatif normalisasi hubungan yang dimulai pada 2020 dan dikaitkan dengan peran pemerintahan Trump pada periode pertamanya. Somaliland juga menyatakan komitmen untuk bergabung dengan kerangka Perjanjian Abraham, yang mereka nilai sebagai langkah menuju stabilitas dan kemitraan yang lebih luas. 

Namun pengakuan Israel itu memantik reaksi keras. Somalia menolak tegas langkah tersebut dan menyebutnya sebagai tindakan melawan hukum serta serangan terhadap kedaulatan. Reuters mencatat pemerintah Somalia menyatakan akan menempuh langkah diplomatik, politik, dan hukum untuk mempertahankan “persatuan dan batas wilayah yang diakui internasional”. 

Gelombang penolakan juga datang dari berbagai negara dan organisasi regional. Associated Press melaporkan lebih dari 20 negara—kebanyakan dari kawasan Afrika dan Timur Tengah—serta Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) menyatakan penolakan, dengan alasan dampak terhadap stabilitas di Tanduk Afrika dan kawasan Laut Merah. AP juga mencatat pernyataan Departemen Luar Negeri AS yang menegaskan Washington tetap mengakui integritas teritorial Somalia, termasuk wilayah Somaliland.

Di sisi lain, isu Somaliland ikut menyeret dimensi strategis-rantai pasok dan geopolitik maritim, mengingat posisinya di pesisir Teluk Aden, jalur pelayaran penting yang berhadapan dengan Yaman dan berdekatan dengan Djibouti—negara kecil yang menjadi lokasi sejumlah pangkalan militer asing. AP menyoroti konteks geografis ini sebagai salah satu alasan mengapa perkembangan Somaliland sensitif secara regional.

Terkait minat Somaliland yang disebut menawarkan akses pelabuhan kepada Amerika Serikat di Teluk Aden, Trump menanggapinya dengan dingin. “Big deal,” kata Trump, menurut laporan Anadolu Agency yang merangkum isi wawancara New York Post

Anadolu juga melaporkan Netanyahu berencana menyampaikan perkembangan pengakuan Israel atas Somaliland kepada Trump dalam pertemuan yang dijadwalkan pada Senin (29/12). Dalam panggilan video dengan Presiden Somaliland Abdirahman Mohamed Abdullahi, Netanyahu disebut akan menginformasikan kepada Trump soal ketertarikan Somaliland bergabung ke Perjanjian Abraham. 

Trump, menurut laporan yang sama, menekankan pembicaraan dengan Netanyahu bakal lebih memprioritaskan isu Jalur Gaza—termasuk pembahasan gencatan senjata dan agenda rekonstruksi—ketimbang proposal terkait Somaliland. 

Di tengah dinamika tersebut, satu hal masih jelas: pengakuan Israel membuka bab baru bagi Somaliland yang selama puluhan tahun beroperasi secara de facto dengan pemerintahan dan mata uang sendiri, tetapi belum memperoleh pengakuan luas dari negara-negara lain. Reuters menilai terobosan diplomatik ini berpotensi menguji sikap Somalia dan mengubah kalkulasi aktor-aktor kawasan, sementara AP menekankan bahwa penolakan internasional yang cepat memperlihatkan betapa sensitifnya isu kedaulatan di Tanduk Afrika.

Berita Terkait