01 February 2026, 14:38

Ubah Sampah Jadi Cuan! Pemkot Tangsel Gaspol Budidaya Maggot, Bank Sampah RW Wajib Aktif

Program ini diposisikan bukan hanya sebagai solusi lingkungan, tetapi juga pintu masuk ekonomi sirkular berbasis komunitas

Reporter: M. Ansori
Editor: Deden M Rojani
861
Ubah Sampah Jadi Cuan! Pemkot Tangsel Gaspol Budidaya Maggot, Bank Sampah RW Wajib Aktif
Kepala Dinas Kominfo Tangsel TB Asep Nurdin

TANGSEL , Perspektif.co.id - Pemerintah Kota Tangerang Selatan mendorong warga mengolah sampah organik rumah tangga melalui budidaya maggot sebagai strategi jangka panjang yang dinilai efektif sekaligus ekonomis untuk menekan volume sampah dari sumbernya. Program ini diposisikan bukan hanya sebagai solusi lingkungan, tetapi juga pintu masuk ekonomi sirkular berbasis komunitas: sampah dapur diolah, hasilnya bernilai, dan residunya kembali ke tanah. 

Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Tangerang Selatan TB Asep Nurdin menyampaikan arahan Pilar Saga Ichsan bahwa budidaya maggot perlu dipacu karena biaya pakan praktis tidak menjadi beban warga, sebab sumbernya berasal dari sampah organik yang selama ini justru menumpuk. “Sebagaimana disampaikan Pak Wakil Wali Kota, pakan maggot itu gratis karena diambil dari sampah kita sendiri. Arahan beliau jelas sekarang tinggal bagaimana kita mengelolanya dengan konsisten dan memastikan ada pasar yang siap menyerap hasilnya,” ujar Asep di Pamulang, Minggu (1/2/2026). 

Menurut Asep, sisa makanan rumah tangga yang biasanya berakhir di tempat pembuangan kini diminta dipandang sebagai aset. Maggot yang dipanen dapat dijual atau dimanfaatkan sebagai pakan ternak berprotein tinggi, sementara residunya dapat diolah menjadi pupuk organik. Kerangka ini diharapkan menekan beban pengangkutan dan memperpendek rantai sampah, karena pengolahan dilakukan sedekat mungkin dengan rumah tangga. 

Namun Pemkot Tangsel menegaskan, efektivitas budidaya maggot harus berjalan beriringan dengan penguatan sistem bank sampah di level RW. Asep menyebut arahan pimpinan agar bank sampah tidak diperlakukan sebagai program tambahan, melainkan simpul utama pengelolaan sebelum sampah berakhir di TPA. “Pak Pilar memberikan instruksi agar keberadaan bank sampah di lingkungan RW tidak lagi bersifat opsional. Beliau meminta warga menyukseskannya secara kolektif. Pengelolaan sampah tidak akan tuntas jika hanya mengandalkan pemerintah, tetapi harus melalui perubahan perilaku masyarakat,” kata Asep. 

Dalam pernyataan terpisah, Pilar juga menekankan pentingnya memastikan pasar untuk hasil maggot serta mendorong setiap RW mengaktifkan atau membentuk bank sampah sebagai pengungkit perubahan kebiasaan memilah sampah dari dapur. “Pakan maggot itu gratis, dari sampah kita sendiri. Tinggal bagaimana kita kelola dan pastikan ada pasar yang menyerap hasilnya,” ujar Pilar dalam forum bank sampah di Pamulang Timur. 

Berita Terkait