TEKNOLOGI, Perspektif.co.id — Ledakan penggunaan AI generatif mendorong perubahan besar dalam cara manusia berinteraksi dengan model bahasa, setelah analis teknologi Nate Jones menegaskan bahwa praktik “prompting” kini telah terfragmentasi menjadi empat disiplin berbeda yang menentukan bagaimana perusahaan memaksimalkan nilai AI. Pernyataan itu muncul ketika perdebatan tentang efektivitas AI di perusahaan kembali menguat, terutama setelah kasus Klarna yang menuai kritik karena efisiensi AI justru menurunkan kualitas layanan pelanggan.
“Prompt engineering sudah tidak cukup,” ujar Nate Jones dalam penjelasan terbarunya, menekankan bahwa industri kini bergerak menuju konteks, niat, dan spesifikasi sebagai fondasi baru interaksi manusia–AI.
Jones memetakan empat skill yang kini membentuk ekosistem prompting modern: prompt craft, context engineering, intent engineering, dan specification engineering. Ia menilai sebagian besar pengguna hanya menguasai skill pertama, sementara tiga lainnya justru menentukan apakah AI dapat bekerja sesuai kebutuhan organisasi. Shopify CEO Tobi Lütke sebelumnya ikut mempopulerkan istilah context engineering, yaitu praktik memberikan konteks yang cukup agar sebuah tugas “secara realistis dapat diselesaikan” oleh model bahasa.
“Intent engineering adalah disiplin yang membuat tujuan organisasi menjadi dapat dibaca dan dijalankan oleh mesin,” jelas Jones, menyoroti bahwa AI sering gagal bukan karena kurang cerdas, tetapi karena tidak memahami tujuan bisnis yang sebenarnya.
Klarna menjadi contoh paling mencolok ketika sistem AI yang menggantikan 853 karyawan justru memicu penurunan kepuasan pelanggan, memaksa perusahaan melakukan rekrutmen ulang. Kasus itu memperlihatkan bagaimana absennya intent engineering dapat membuat AI mengoptimalkan hal yang salah—menghemat biaya tetapi merusak pengalaman pengguna.
Pengamat industri menilai pergeseran ini menandai fase baru dalam adopsi AI perusahaan, di mana keberhasilan tidak lagi ditentukan oleh kecanggihan model, melainkan kemampuan organisasi menerjemahkan strategi, nilai, dan batasan bisnis ke dalam instruksi yang dapat dipahami AI. Pendekatan ini, menurut analis, akan menjadi standar baru bagi perusahaan yang ingin memanfaatkan AI secara berkelanjutan dan terukur.