03 December 2025, 15:36

Bandara Hang Nadim Mencekam, Simulasi Teroris Bersenjata dan Bom Uji Kesiapsiagaan Keamanan

Suasana Bandara Internasional Hang Nadim, Batam, sempat terlihat mencekam pada Selasa (2/12/2025) siang.

Reporter: M. Ansori
Editor: Deden M Rojani
1,474
Bandara Hang Nadim Mencekam, Simulasi Teroris Bersenjata dan Bom Uji Kesiapsiagaan Keamanan
SIMULASI DI BANDARA HANG NADIM - Seorang teroris melakukan bom bunuh diri dalam simulasi penanggulangan insiden darurat di Bandara Hang Nadim Batam, Selasa (2/12/2025).

Perspektif.co.id - Suasana Bandara Internasional Hang Nadim, Batam, sempat terlihat mencekam pada Selasa (2/12/2025) siang. Pengunjung dikejutkan kemunculan dua orang bersenjata laras panjang dan seorang pria lain yang memakai jaket diduga berisi bom.

Kelompok tersebut digambarkan menyandera seorang petugas bandara, melepaskan tembakan ke udara, dan mengancam akan meledakkan diri di kawasan terminal. Namun, rangkaian aksi dramatis itu bukan kejadian sebenarnya, melainkan bagian dari latihan keamanan terpadu bertajuk Airport Security Exercise yang digelar operator bandara bersama berbagai instansi terkait.

Direktur Operasi PT Bandara Internasional Batam, Anton Marthalius, yang memantau langsung jalannya simulasi menjelaskan bahwa latihan ini disusun untuk menguji kesiapan seluruh unsur di Bandara Hang Nadim dalam menghadapi ancaman terorisme dan skenario kedaruratan dengan kategori risiko tinggi.

Menurut Anton, pelaksanaan latihan mengacu pada Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 39 Tahun 2024 tentang Program Keamanan Penerbangan Nasional, serta prosedur keamanan bandara yang berlaku di Hang Nadim.

“Latihan ini kami laksanakan untuk menguji dan mengevaluasi fungsi komunikasi, koordinasi, dan komando sesuai dokumen Airport Security Program,” kata Anton.

Selain itu, uji simulasi juga menjadi momentum untuk menerapkan secara langsung Airport Emergency Plan dan memastikan prosedur penanganan darurat berjalan sesuai standar. Tujuannya, seluruh personel di berbagai lini—mulai dari keamanan, operasional, hingga dukungan teknis—siap merespons ancaman nyata jika sewaktu-waktu terjadi.

Anton menegaskan, skenario yang dimainkan tidak hanya berfokus pada aksi penyerangan bersenjata, tetapi juga pada aspek keselamatan penerbangan dan perlindungan penumpang. “Ini sekaligus untuk memastikan kesiapan personel dan meningkatkan sistem keselamatan maupun keamanan penerbangan. Tentunya untuk menguji respons terhadap ancaman teror skala besar,” ujarnya.

Dalam simulasi tersebut, salah satu bagian paling krusial adalah penanganan ancaman bahan peledak. Skenario mencakup keberadaan dua perangkat bom rakitan yang sengaja disiapkan untuk latihan.

Satu “bom” digambarkan menempel pada tubuh salah satu pelaku dan diledakkan sendiri dalam skenario sehingga pelaku dinyatakan tewas. Satu lagi berupa tas berisi bahan peledak yang kemudian dibawa ke area disposal khusus untuk dimusnahkan oleh tim penjinak.

“Ada dua bom yang digunakan dalam skenario. Satu melekat di tubuh ‘teroris’ dan diledakkan pelaku sendiri, satu lagi ditempatkan dalam tas yang kami ledakkan di area pemusnahan yang sudah ditentukan,” jelas Anton.

Rangkaian latihan dirancang sedekat mungkin dengan kondisi penanganan ancaman bom di lapangan, termasuk prosedur isolasi lokasi, pengosongan area, pengaturan ulang arus penumpang, serta koordinasi antarinstansi dalam proses evakuasi dan pemusnahan bahan peledak.

Simulasi dimulai sekitar pukul 13.30 WIB ketika kelompok yang diperankan sebagai teroris memasuki area parkir bandara. Dari titik itu, ketegangan sengaja dibangun bertahap, seiring respon aparat keamanan bandara, otoritas penerbangan, hingga unsur pengamanan lainnya yang terlibat dalam skenario.

Melalui latihan ini, pengelola Bandara Hang Nadim berharap seluruh prosedur keamanan yang sudah tertulis dalam dokumen resmi tidak hanya berhenti di atas kertas, tetapi benar-benar teruji dalam simulasi lapangan sehingga bandara siap menghadapi berbagai potensi ancaman yang dapat mengganggu keselamatan penerbangan dan keamanan publik.

Berita Terkait