Perspektif.co.id - Ledakan mematikan mengguncang Masjid Imam Ali bin Abi Talib di Kota Homs, Suriah, pada Jumat, 26 Desember 2025, ketika jemaah tengah bersiap menjalankan salat Jumat. Sedikitnya delapan orang dilaporkan tewas dan belasan lainnya terluka dalam insiden yang oleh otoritas Suriah disebut sebagai serangan teror, sementara sejumlah pihak internasional—termasuk PBB—mengecam keras dan meminta dalang serangan dibawa ke pengadilan.
Kementerian Dalam Negeri Suriah menyatakan ledakan terjadi di kawasan Wadi al-Dhahab, tepatnya di Al-Khodari Street, area yang dikenal menjadi salah satu kantong komunitas Alawite di Homs. Otoritas setempat menyebut serangan terjadi saat pelaksanaan ibadah, dan aparat keamanan segera menutup area serta memulai penyelidikan untuk mengumpulkan bukti-bukti di lokasi kejadian.
Seorang saksi yang juga menjadi korban luka, Ghadi Maarouf (38), mengatakan ledakan terjadi sesaat sebelum imam naik ke mimbar untuk menyampaikan khotbah. “Itu ledakan yang sangat besar, dan saya melihat pecahan peluru beterbangan di sekitar saya,” ujar Maarouf kepada AFP, menggambarkan kepanikan yang terjadi di dalam masjid.
Jumlah korban berbeda-beda menurut sumber, namun otoritas kesehatan dan laporan media internasional paling banyak menyebut korban tewas sedikitnya delapan orang dengan korban luka 18 orang, meski ada pula laporan yang menyebut angka luka lebih tinggi dan masih bersifat sementara.
Pemerintah Suriah melalui Kementerian Luar Negeri mengutuk insiden tersebut dan menyebutnya sebagai tindakan “pengecut” yang bertentangan dengan nilai kemanusiaan. Dalam pernyataan resmi, Damaskus menilai serangan itu merupakan upaya berulang untuk merusak stabilitas dan menebar kekacauan, serta menegaskan akan meminta pertanggungjawaban para pelaku.
Di tengah penyelidikan berjalan, sebuah kelompok ekstremis yang relatif kurang dikenal, Saraya Ansar al-Sunna, mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut melalui pernyataan di Telegram. Klaim itu belum dapat diverifikasi secara independen oleh sejumlah media internasional.
AP juga melaporkan kelompok yang sama sebelumnya pernah mengklaim serangan terhadap gereja di dekat Damaskus pada Juni, yang menambah kekhawatiran soal eskalasi kekerasan berbasis sektarian.
Serangan ini kembali menyorot ketegangan sektarian yang membekas di Suriah. Sejumlah laporan menyebut kekerasan terhadap komunitas Alawite meningkat dalam periode pasca runtuhnya rezim Bashar al-Assad, yang juga berasal dari kelompok Alawite. Dalam perkembangan terpisah, AP mencatat Dewan Islam Alawite Tertinggi (Supreme Alawite Islamic Council) menuding pemerintah gagal memberi perlindungan memadai bagi minoritas dan menuntut pertanggungjawaban atas situasi keamanan yang memburuk.
Kecaman datang dari berbagai pihak. Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres, melalui pernyataan yang disampaikan juru bicaranya, menegaskan serangan terhadap warga sipil dan tempat ibadah tidak dapat diterima dan meminta pelaku diidentifikasi serta diadili. “Serangan terhadap warga sipil dan tempat ibadah tidak dapat diterima… mereka yang bertanggung jawab harus diidentifikasi dan dibawa ke pengadilan,” bunyi garis besar pernyataan tersebut.
Arab Saudi dan Lebanon termasuk negara yang menyampaikan kecaman. Dalam berbagai pernyataan yang dikutip media, Riyadh mengecam serangan yang menargetkan masjid di Homs, sementara Presiden Lebanon Joseph Aoun menyampaikan kutukan atas aksi teror tersebut dan menegaskan dukungan negaranya bagi Suriah dalam menghadapi terorisme.
Homs sendiri merupakan salah satu kota kunci Suriah yang lama berada dalam pusaran konflik, dengan komposisi masyarakat yang beragam. Kawasan Wadi al-Dhahab kerap disebut sebagai wilayah tempat tinggal komunitas Alawite, sementara kota Homs secara umum memiliki populasi Sunni yang besar. Karena itu, insiden di lokasi ibadah pada hari Jumat ini dinilai berpotensi memicu ketegangan baru jika tidak ditangani secara cepat dan transparan.