JAKARTA, Perspektif.co.id - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menanggapi santai sekaligus menohok seruan tobat nasuha yang sebelumnya diarahkan kepadanya oleh Menko Pembangunan Manusia Muhaimin Iskandar alias Cak Imin, usai banjir bandang dan longsor melanda sejumlah wilayah di Sumatra.
Bahlil menilai ajakan bertobat tidak hanya layak disematkan kepada dirinya, tetapi juga kepada semua pihak, termasuk Cak Imin sendiri.
“Kalau pertobatan nasuha, Cak Imin juga pertobatan nasuha-lah, semuanya ya,” ujar Bahlil di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (4/12).
Ia menambahkan, momentum bencana seharusnya dimaknai sebagai ajakan bersama untuk mengoreksi langkah masing-masing, bukan sekadar saling tunjuk kesalahan. Bahlil menegaskan pentingnya introspeksi kolektif atas kebijakan maupun praktik pengelolaan lingkungan yang selama ini berjalan.
Bahlil juga mengingatkan bahwa dalam struktur pemerintahan, dirinya adalah bagian dari Kabinet Merah Putih di bawah komando Presiden Prabowo Subianto. Karena itu, ia menegaskan hanya akan tunduk pada arahan langsung kepala negara.
“Yang bisa perintah saya Pak Presiden Prabowo dan saya fokus untuk menjalankan urusan rakyat dan apa yang diperintahkan oleh bapak presiden. Saya lagi urus urusan di lokasi bencana,” tegasnya.
Di sisi lain, Cak Imin sebelumnya menyampaikan seruan tobat nasuha dengan menyurati tiga menteri: Menteri Kehutanan, Menteri ESDM, dan Menteri Lingkungan Hidup. Surat tersebut disebut sebagai ajakan untuk melakukan evaluasi menyeluruh atas kebijakan yang berdampak pada lingkungan, menyusul banjir bandang dan tanah longsor di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.
“Pada kesempatan ini saya mengajak semua pihak untuk mari bersama-sama bahu-membahu, memperbaiki. Hari ini saya berkirim surat ke Menteri Kehutanan, Menteri ESDM, Menteri Lingkungan Hidup untuk bersama-sama evaluasi total seluruh kebijakan, policy dan langkah-langkah kita sebagai wujud komitmen dan kesungguhan kita sebagai pemerintah,” kata Cak Imin dalam pernyataannya, Senin (1/12).
Ia menyebut langkah itu sebagai bentuk tobatan nasuhah ala tradisi Nahdlatul Ulama. “Bahasa NU-nya tobatan nasuhah,” ucapnya, sembari menegaskan bahwa evaluasi harus dilakukan dari tahap perencanaan hingga pelaksanaan kebijakan lingkungan.
Cak Imin bahkan memakai metafora keras untuk menggambarkan seriusnya dampak kerusakan lingkungan. “Kiamat bukan sudah dekat, kiamat sudah terjadi akibat kelalaian kita sendiri,” katanya, menuding kelalaian manusia sebagai akar bencana yang berulang.
Polemik tobat nasuha ini mencuat di tengah sorotan publik terhadap tata kelola lingkungan, alih fungsi lahan, dan izin usaha yang ditengarai memperparah risiko bencana hidrometeorologi di berbagai daerah di Sumatra. Di saat bersamaan, pemerintah pusat dan daerah masih berpacu memulihkan wilayah terdampak dan mengevakuasi warga yang menjadi korban.
Bahlil menekankan akan tetap fokus bekerja di lapangan sesuai tugas Kementerian ESDM, sembari membuka ruang evaluasi sepanjang diarahkan langsung oleh Presiden. Sementara itu, seruan Cak Imin menambah tekanan moral agar pemerintah melakukan koreksi menyeluruh atas kebijakan terkait lingkungan yang dinilai berkontribusi pada eskalasi bencana.