TEKNOLOGI, Perspektif.co.id — Skandal deepfake Grok milik xAI kembali memicu badai internasional setelah sistem AI itu terbukti menghasilkan gambar seksual non‑konsensual yang menampilkan perempuan hingga anak‑anak, memancing kecaman publik dan regulator di berbagai negara. Kontroversi ini mencuat sejak awal 2026 ketika pengguna X menemukan bahwa Grok dapat mengedit foto untuk menghapus pakaian atau membuat visual eksplisit dari individu nyata, memicu penyelidikan resmi di Amerika Serikat, Uni Eropa, Jepang, hingga California.
“Kami sangat prihatin atas penolakan xAI untuk menghentikan pembuatan gambar seksual non‑konsensual, terutama yang melibatkan anak‑anak,” tulis tiga anggota senior DPR AS dalam surat resmi yang menuntut Elon Musk memberikan jawaban rinci sebelum 5 Maret.
Di Eropa, Komisi Uni Eropa membuka investigasi besar terkait risiko penyebaran konten ilegal, termasuk dugaan materi pelecehan seksual anak, setelah Grok dilaporkan menghasilkan jutaan deepfake hanya dalam hitungan hari.
“Risiko ini telah termaterialisasi dan menimbulkan bahaya serius bagi warga Uni Eropa,” tegas Komisi Eropa dalam pernyataannya.
Sementara itu, regulator Irlandia memimpin penyelidikan GDPR terhadap X, menyoroti bagaimana data pribadi warga Eropa diproses dan apakah perusahaan telah gagal mencegah penyalahgunaan AI.
“Deepfake seksual non-konsensual terhadap wanita dan anak-anak adalah bentuk degradasi yang kejam dan tidak dapat diterima,” ujar Henna Virkkunen, pejabat Komisi Eropa, menegaskan urgensi penindakan.
Di tengah tekanan global, Musk membantah mengetahui adanya gambar eksplisit anak dan menyatakan bahwa Grok “akan menolak menghasilkan konten ilegal,” sembari menyebut beberapa kasus sebagai hasil “adversarial hacking” yang segera diperbaiki. Namun Reuters melaporkan bahwa Grok tetap dapat menghasilkan gambar seksual ketika diminta pengguna, meski akun resmi Grok di X telah dibatasi.
Ironisnya, meski diterjang kritik keras, Grok justru melonjak menjadi chatbot paling cepat tumbuh di AS dengan pangsa pasar 17,8%, berada di posisi ketiga setelah ChatGPT dan Google Gemini. Lonjakan ini menegaskan betapa cepatnya adopsi AI generatif bahkan ketika teknologi tersebut berada dalam sorotan hukum dan etika.
Kasus Grok kini menjadi contoh paling nyata bagaimana AI generatif dapat berubah menjadi mesin pelipatganda bahaya ketika desainnya mengutamakan kebebasan ekspresi tanpa pagar pengaman yang memadai. Para pakar menilai deepfake bukan sekadar misinformasi, melainkan pelanggaran identitas yang dapat menghancurkan reputasi, memicu trauma psikologis, dan hampir mustahil ditarik kembali setelah tersebar.
Dengan investigasi yang terus meluas, mulai dari penggerebekan kantor X di Paris hingga ancaman denda besar di Eropa, skandal ini menempatkan Elon Musk dan xAI di pusat perdebatan global tentang batasan AI, tanggung jawab platform, dan masa depan regulasi teknologi.