JAKARTA, Perspektif.co.id - Tekanan besar kembali menghantam pasar modal domestik pada penutupan perdagangan Senin, 9 Maret 2026. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup merosot 248,31 poin atau 3,27 persen ke posisi 7.337,36, menandai gelombang jual yang meluas di hampir seluruh lini perdagangan. Data penutupan yang dirangkum media pasar menunjukkan pelemahan tajam ini terjadi di tengah tekanan serentak dari sentimen global dan aksi jual masif di pasar saham Indonesia.
Nilai transaksi sepanjang sesi tercatat mencapai Rp23,84 triliun dengan volume perdagangan 46,76 miliar saham. Dari total saham yang diperdagangkan, hanya 68 emiten yang berhasil menguat, sedangkan 708 saham terkoreksi dan 41 lainnya bergerak stagnan. Komposisi ini mencerminkan tekanan yang sangat dominan, dengan mayoritas saham berada di zona merah hingga penutupan pasar.
Arah pelemahan juga terlihat merata pada seluruh sektor indeks. Sektor barang konsumen nonprimer menjadi penekan terbesar setelah terjun sekitar 5 persen, menandakan tekanan tidak hanya menimpa saham berbasis komoditas atau siklikal, tetapi juga menjalar ke sektor yang selama ini cukup aktif diperdagangkan investor. Dengan seluruh sektor kompak melemah, sentimen negatif terlihat menyelimuti pasar secara menyeluruh, bukan hanya terbatas pada saham-saham tertentu.
Koreksi dalam pada IHSG sejalan dengan gejolak di pasar saham global. Bursa Asia pada hari yang sama bergerak serempak di zona merah, dengan Nikkei Jepang mencatat penurunan tajam lebih dari 5 persen, sementara pasar Hong Kong, China, dan Singapura juga terkoreksi. Associated Press melaporkan gelombang tekanan ini dipicu lonjakan harga minyak dunia di atas US$110 per barel setelah eskalasi konflik di Timur Tengah, yang memicu kekhawatiran baru terhadap inflasi dan pertumbuhan ekonomi global.
Tekanan serupa merambat ke pasar Eropa dan Amerika Serikat. AP mencatat saham-saham global jatuh setelah harga energi melonjak dan investor menghindari aset berisiko. Kondisi itu memperkuat sentimen risk-off di berbagai bursa, termasuk Indonesia, sehingga pelaku pasar cenderung melepas saham di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik dan kekhawatiran atas beban ekonomi dari lonjakan harga minyak.
Pelemahan IHSG kali ini sekaligus memperpanjang tekanan yang sebelumnya sudah membayangi pasar domestik. Kontan mencatat bahwa sebelum penutupan 9 Maret 2026, IHSG juga sempat tertekan tajam pada sesi pertama hari yang sama, menandakan tekanan jual sudah terbentuk sejak awal perdagangan. Situasi ini menunjukkan investor belum menemukan sentimen penahan yang cukup kuat untuk mendorong rebound hingga akhir sesi.
Dengan penutupan di level 7.337, pasar kini menanti apakah tekanan lanjutan masih akan berlanjut pada perdagangan berikutnya atau justru memunculkan aksi beli selektif. Namun untuk saat ini, data perdagangan memperlihatkan satu gambaran yang tegas: tekanan di bursa domestik masih sangat besar, mayoritas saham terkoreksi, dan arah pasar Indonesia belum mampu lepas dari bayang-bayang gejolak global yang sedang membesar.
“Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 248,31 poin atau 3,27% ke 7.337,36 pada akhir perdagangan Senin (9/3/2026),” demikian dikutip dari laporan pasar yang terbit pada Senin sore.