26 February 2026, 17:40

Istilah Iftar Jama’i Makin Ramai di Ramadan, Ternyata Bukan Sekadar “Bukber” Biasa—Ini Arti dan Maknanya

Istilah iftar jama’i kembali sering terdengar selama bulan Ramadan.

Reporter: Anggi Ranf
Editor: Deden M Rojani
1,045
Istilah Iftar Jama’i Makin Ramai di Ramadan, Ternyata Bukan Sekadar “Bukber” Biasa—Ini Arti dan Maknanya
Ilustrasi buka puasa bersama (Foto: Freepik)

Perspektif.co.id - Istilah iftar jama’i kembali sering terdengar selama bulan Ramadan. Kegiatan ini identik dengan tradisi berbuka puasa secara bersama-sama yang kerap digelar di berbagai tempat, mulai dari masjid, sekolah, kantor, hingga lingkungan permukiman. Di tengah meningkatnya aktivitas Ramadan, iftar jama’i bukan hanya menjadi agenda makan bersama, tetapi juga lekat dengan praktik ibadah berjamaah dan aktivitas sosial berbagi kepada sesama.

Dalam praktik sehari-hari, iftar jama’i acap disamakan dengan buka puasa bersama atau bukber yang sudah akrab di masyarakat Indonesia. Meski begitu, istilah ini memiliki makna yang lebih spesifik karena menekankan unsur kebersamaan (kolektif) dan tujuan sosial-keagamaan yang menyertainya.

Definisi iftar sendiri merujuk pada kegiatan berbuka puasa atau membatalkan puasa saat waktunya tiba. Mengacu pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), iftar bermakna “hal berbuka puasa” atau aktivitas saat seseorang membatalkan puasa. Istilah tersebut berasal dari bahasa Arab ifṭār (إِفْطَارٌ) yang berarti buka puasa, dan juga kerap dipakai untuk menyebut kegiatan makan ketika berbuka.

Sementara itu, kata jama’i berasal dari bahasa Arab yang bermakna bersama-sama atau dilakukan secara kolektif. Dengan demikian, iftar jama’i dapat dipahami sebagai kegiatan berbuka puasa yang dilakukan bersama-sama dalam satu waktu dan satu suasana kebersamaan. Dengan kata lain, makna “jama’i” menegaskan bahwa aktivitas ini tidak dilakukan sendiri, melainkan menjadi ruang perjumpaan sosial di bulan suci.

Di lapangan, pola pelaksanaan iftar jama’i biasanya terstruktur. Peserta berkumpul menjelang waktu Magrib, lalu menikmati takjil dan makanan berbuka, yang sering diikuti salat Magrib berjamaah. Tidak sedikit kegiatan yang kemudian dilanjutkan dengan tausiah atau pengajian singkat, sehingga iftar jama’i menjadi satu rangkaian aktivitas ibadah, bukan semata kegiatan kuliner.

Makna sosial dari iftar jama’i juga menjadi alasan mengapa tradisi ini terus hidup dan meluas. Merujuk pada penjelasan yang disampaikan melalui laman resmi Kementerian Agama RI, iftar jama’i atau berbuka puasa bersama mengandung dimensi sosial dan keagamaan yang kuat, salah satunya sebagai sarana mempererat ukhuwah atau persaudaraan antarsesama umat Islam. Ramadan yang identik dengan peningkatan ibadah, pada saat yang sama juga menjadi momentum memperkuat jejaring sosial, memperbaiki hubungan, dan membangun solidaritas.

Kegiatan ini juga sering menjadi medium berbagi makanan, terutama kepada pihak yang membutuhkan. Di banyak tempat, iftar jama’i diwujudkan lewat pembagian takjil gratis, paket berbuka untuk jamaah masjid, hingga program makan bersama yang didanai gotong royong warga atau lembaga. Pola berbagi ini memperlihatkan bagaimana Ramadan mendorong nilai kepedulian sosial yang konkret, bukan sekadar wacana.

Dalam konteks inilah, iftar jama’i dipahami sebagai tradisi yang memadukan ibadah, kebersamaan, dan kepedulian. Bukan hanya mempertemukan orang dalam satu meja, tetapi juga menghadirkan suasana yang menumbuhkan semangat saling menolong dan menguatkan ikatan komunitas. Di berbagai lingkungan, iftar jama’i bahkan menjadi sarana mempertemukan kembali warga yang jarang berinteraksi karena kesibukan sehari-hari.

Selain mempererat persaudaraan, kegiatan iftar jama’i juga sering dikaitkan dengan upaya meningkatkan kualitas ibadah selama Ramadan. Kehadiran unsur salat berjamaah dan tausiah membuat kegiatan ini menjadi paket lengkap: ada aspek ritual (ibadah), aspek edukasi (tausiah), dan aspek sosial (berbagi serta kebersamaan). Dalam banyak agenda Ramadan, rangkaian seperti ini menjadi pola yang lazim karena dinilai lebih memberi nilai tambah dibanding buka puasa yang hanya berorientasi pada konsumsi.

Berita Terkait