22 December 2025, 15:32

Libur Natal Terancam Ombak 2,5 Meter, BMKG Minta Pelayaran dan Wisata Bahari Waspada

BMKG mengingatkan potensi gelombang tinggi di sejumlah perairan Indonesia jelang momen libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026.

Reporter: M. Ansori
Editor: Zainur Akbar
1,838
Libur Natal Terancam Ombak 2,5 Meter, BMKG Minta Pelayaran dan Wisata Bahari Waspada
Ilustrasi. BMKG menginformasikan Bibit Siklon Tropis 93S berpotensi menjadi siklon, memicu gelombang tinggi 1,25-2,5 meter di perairan Indonesia. (Foto: ANTARA FOTO/BAYU PRATAMA S)

Perspektif.co.id - BMKG mengingatkan potensi gelombang tinggi di sejumlah perairan Indonesia jelang momen libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026. Peringatan ini berkaitan dengan aktifnya Bibit Siklon Tropis 93S di Samudra Hindia yang berpeluang berkembang menjadi siklon tropis dan memicu peningkatan tinggi gelombang, terutama di wilayah perairan selatan Indonesia. 

Dalam pembaruan BMKG yang dikutip sejumlah laporan, Bibit Siklon Tropis 93S terpantau pada Senin, 22 Desember 2025 pukul 07.00 WIB dan masih berada di sekitar Samudra Hindia sebelah barat daya Jawa Barat. Sistem ini terus dipantau oleh Tropical Cyclone Warning Center (TCWC) Jakarta sejak 11 Desember 2025. 

BMKG menyebut bibit siklon itu terlihat mulai menjauhi daratan Pulau Jawa, namun peluangnya untuk berkembang menjadi siklon tropis masih dinilai tinggi setidaknya dalam 24 jam ke depan. Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan peringatan kewaspadaan di wilayah perairan tetap dikeluarkan, mengingat dampak tidak langsung masih bisa terjadi melalui angin kencang dan gelombang. 

Dalam prospek cuaca mingguan BMKG periode 19–25 Desember 2025, bibit 93S dijelaskan bergerak ke arah barat daya dan dapat meningkatkan kecepatan angin di sekitar sistem hingga lebih dari 25 knot di perairan selatan Jawa Timur sampai Nusa Tenggara Timur. BMKG juga menekankan faktor lain seperti seruakan dingin dari Asia, MJO, gelombang atmosfer, serta La Nina lemah yang ikut memengaruhi dinamika cuaca sepekan ke depan. 

Dampak yang paling disorot untuk aktivitas laut adalah gelombang dengan kategori sedang hingga tinggi. Mengacu pada ringkasan kondisi 93S yang dikutip dari pembaruan BMKG, gelombang setinggi 1,25–2,5 meter berpotensi terjadi di beberapa zona perairan, antara lain perairan barat Bengkulu hingga Lampung, Selat Sunda bagian selatan, perairan selatan Pulau Jawa, Samudra Hindia barat Mentawai hingga Lampung, serta Samudra Hindia selatan Pulau Jawa.(detikcom)

Sinyal peningkatan gelombang juga terlihat pada prakiraan cuaca maritim setempat. Di Selat Sunda bagian selatan wilayah Lampung, BMKG maritim menampilkan periode valid 22–25 Desember 2025 dengan tinggi gelombang sekitar 2 meter (kategori sedang) pada sejumlah jam prakiraan, disertai catatan peringatan agar pengguna perairan berhati-hati dan mengikuti arahan otoritas setempat. )

Sebelumnya, BMKG juga sempat merilis peringatan dini gelombang tinggi untuk periode 19 Desember 2025 pukul 07.00 WIB hingga 22 Desember 2025 pukul 07.00 WIB, yang mencantumkan sejumlah wilayah perairan berpotensi terdampak gelombang 1,25–2,5 meter, termasuk Samudra Hindia barat Aceh, barat Kepulauan Nias, barat Mentawai, barat Bengkulu, barat Lampung, hingga Laut Natuna Utara dan Selat Karimata bagian utara. 

BMKG juga mengingatkan bahwa pola angin di wilayah selatan Indonesia dapat lebih kuat, sehingga risiko gelombang meningkat di jalur-jalur pelayaran tertentu. Dalam salah satu rilis peringatan yang memuat parameter keselamatan, risiko bagi perahu nelayan meningkat saat kecepatan angin mencapai sekitar 15 knot dengan gelombang 1,25 meter, sementara kapal tongkang berisiko saat angin sekitar 16 knot dengan gelombang 1,5 meter. 

Kondisi cuaca laut menjelang liburan berpotensi berdampak langsung pada pergerakan penumpang, logistik, hingga aktivitas wisata bahari yang biasanya meningkat pada pekan Natal dan Tahun Baru. Karena itu, peringatan gelombang tinggi menjadi faktor penting bagi operator pelabuhan, penyeberangan, dan pelaku usaha pariwisata untuk menyesuaikan jadwal operasional serta mitigasi keselamatan.

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani juga menggarisbawahi bahwa periode Nataru 2025/2026 bertepatan dengan puncak musim hujan, sehingga potensi cuaca ekstrem perlu diantisipasi serius karena dapat berdampak pada keselamatan transportasi dan aktivitas masyarakat. “Periode Nataru kali ini bertepatan dengan puncak musim hujan, sehingga potensi cuaca ekstrem perlu diantisipasi secara serius,” ujarnya dalam keterangan BMKG. 

BMKG memprakirakan curah hujan tinggi hingga sangat tinggi dengan intensitas 300–500 mm per bulan berpeluang terjadi pada Desember 2025 hingga Januari 2026 di sejumlah wilayah, termasuk Jawa, Bali, Nusa Tenggara, sebagian Sulawesi Selatan, Papua Selatan, dan sebagian Kalimantan. Kombinasi Monsun Asia, MJO, gelombang atmosfer, potensi bibit siklon hingga siklon tropis, serta pengaruh IOD negatif disebut dapat meningkatkan intensitas hujan pada pertengahan Desember hingga awal Januari.

Merespons dinamika tersebut, BMKG mendorong masyarakat untuk rutin memantau pembaruan peringatan dini—terutama bagi nelayan, operator kapal, pengguna jasa penyeberangan, dan wisatawan yang berencana melakukan aktivitas di pantai atau laut lepas. Pada periode cuaca cepat berubah seperti ini, keputusan berangkat, berlayar, atau menunda kegiatan sebaiknya berbasis informasi resmi terbaru dan rekomendasi otoritas setempat. 

Berita Terkait