02 March 2026, 06:16

OpenAI Diguyur Dana $110 Miliar, Gary Marcus Sebut Pendanaan Ini “Vendor Financing yang Gila”

OpenAI meraih pendanaan $110 miliar, namun Gary Marcus menyebutnya “vendor financing gila” karena struktur investasi yang dinilai tidak rasional.

Reporter: Hasida Kuchiki
Editor: Deden M Rojani
1,151
OpenAI Diguyur Dana $110 Miliar, Gary Marcus Sebut Pendanaan Ini “Vendor Financing yang Gila”
Ilustrasi menggambarkan kontroversi pendanaan $110 miliar OpenAI, investor teknologi, dan ketegangan vendor financing. (AI Generated by: Perspektif.co.id)

TEKNOLOGI, Perspektif.co.id — OpenAI memicu perdebatan besar di industri teknologi setelah mengumumkan pendanaan raksasa senilai $110 miliar yang melibatkan Amazon, Nvidia, dan SoftBank. Pendanaan yang diumumkan pada 27 Februari 2026 itu langsung mengguncang pasar karena nilainya bukan hanya melampaui rekor sebelumnya, tetapi juga datang di tengah meningkatnya tekanan kompetitif dan keraguan terhadap model bisnis perusahaan. Amazon menyetor $50 miliar, sementara Nvidia dan SoftBank masing‑masing menanamkan $30 miliar, menempatkan valuasi pra‑pendanaan OpenAI di angka $730 miliar.

Kritik paling tajam datang dari akademisi dan pengamat AI, Gary Marcus, yang menilai struktur pendanaan tersebut tidak masuk akal.
“Ini bukan pendanaan ventura biasa—ini vendor financing yang dibungkus seolah‑olah investasi,” ujarnya, menyoroti fakta bahwa sebagian besar dana yang dikucurkan investor justru kembali ke mereka dalam bentuk komitmen pembelian layanan komputasi.

Pendapat Marcus merujuk pada detail bahwa OpenAI telah berkomitmen menghabiskan lebih dari $100 miliar untuk layanan dan infrastruktur milik para investornya, terutama AWS dan Nvidia. Amazon, misalnya, memperluas kerja sama komputasi sebelumnya senilai $38 miliar menjadi tambahan $100 miliar dalam delapan tahun ke depan, termasuk penggunaan eksklusif AWS sebagai penyedia cloud pihak ketiga untuk platform enterprise Frontier.

CEO OpenAI, Sam Altman, menegaskan bahwa pendanaan ini merupakan langkah strategis untuk mempercepat transisi AI frontier dari riset menuju penggunaan massal.
“AI akan hadir di mana‑mana. Dunia membutuhkan daya komputasi kolektif dalam jumlah besar untuk memenuhi permintaan itu,” kata Altman.

Meski demikian, skeptisisme tetap menguat karena valuasi OpenAI melonjak hampir dua kali lipat hanya dalam setahun, sementara perusahaan masih mencatat kerugian dan menghadapi persaingan ketat dari Anthropic dan Google. Crunchbase mencatat bahwa pendanaan ini menjadi yang terbesar dalam sejarah perusahaan rintisan, melampaui rekor OpenAI sendiri pada 2025.

Amazon juga menegaskan optimisme mereka terhadap kolaborasi jangka panjang ini.
“Mereka akan menjadi salah satu pemenang besar dalam jangka panjang, dan kami yakin bisa membantu mereka mencapainya,” ujar CEO Amazon, Andy Jassy.

Di tengah euforia pendanaan, kritik Marcus menyoroti risiko struktural: investor besar yang menyuntikkan dana dalam jumlah masif sekaligus menjadi pemasok utama infrastruktur AI dapat menciptakan ketergantungan yang tidak sehat. Namun bagi OpenAI, langkah ini dianggap perlu untuk mempercepat pembangunan model generasi berikutnya dan mempertahankan posisi di tengah perlombaan AI global yang semakin agresif.

Berita Terkait