28 December 2025, 20:02

Pria Kena Stroke padahal Hidup Sehat, Ternyata gegara Minuman Ini

Seorang pria berusia 50-an di Inggris yang dikenal bugar mendadak harus dilarikan ke rumah sakit setelah mengalami mati rasa menyeluruh di sisi kiri tubuhnya

Reporter: M. Ansori
Editor: Deden M Rojani
1,295
Pria Kena Stroke padahal Hidup Sehat, Ternyata gegara Minuman Ini
Foto: Getty Images/iStockphoto/designer491

Perspektif.co.id - Seorang pria berusia 50-an di Inggris yang dikenal bugar mendadak harus dilarikan ke rumah sakit setelah mengalami mati rasa menyeluruh di sisi kiri tubuhnya disertai gangguan keseimbangan. Ia tidak merokok, tidak minum alkohol, dan disebut “tampak sangat sehat” dari luar. Namun, hasil pemeriksaan di rumah sakit menunjukkan kondisi yang membuat tim medis terkejut: tekanan darahnya melonjak ekstrem hingga 254/150 mmHg, sebuah angka yang masuk kategori krisis hipertensi dan berkaitan erat dengan risiko stroke. 

Dari hasil pemindaian dan pemeriksaan neurologis, dokter kemudian menegakkan diagnosis stroke lakunar pada bagian otak yang mengatur jalur sensorik-motorik. Laporan kasus yang menjadi rujukan juga menyebut adanya temuan yang mengarah pada kemungkinan penyempitan mendadak pembuluh darah otak (vasokonstriksi) dalam evaluasi pencitraan pembuluh, sehingga memperkuat kecurigaan bahwa ada pemicu gaya hidup yang luput terdeteksi pada awal penanganan. 

Kepastian soal “pemicu” itu baru mengerucut setelah dokter menggali kebiasaan harian pasien lebih dalam. Pria tersebut mengaku rutin mengonsumsi rata-rata delapan kaleng minuman energi berkadar tinggi setiap hari untuk menjaga stamina saat bekerja. Setiap kaleng disebut mengandung sekitar 160 miligram kafein, sehingga total asupannya mencapai sekitar 1,2–1,3 gram kafein per hari—sekitar tiga kali lipat dari batas konsumsi harian yang umumnya dianggap aman bagi orang dewasa. 

Hasil pemeriksaan menunjukkan tekanan darahnya sangat tinggi, sekitar 254/150 mmHg. Padahal dari luar, ia tampak sangat sehat. Inilah mengapa hipertensi sering disebut silent killer,” ujar dr Sunil Munshi, dokter konsultan di Nottingham University Hospitals NHS Trust, dalam keterangan yang dikutip media. 

Pada fase awal, pasien sempat dipulangkan setelah kondisi membaik. Namun beberapa bulan berikutnya, tekanan darahnya kembali naik meski terapi obat ditingkatkan. Titik balik terjadi ketika pasien disarankan menghentikan total minuman energi. Setelah kebiasaan itu diputus, tekanan darahnya dilaporkan turun cepat ke level normal dan obat-obatan dapat dihentikan bertahap dalam hitungan sekitar tiga minggu.

Meski pemulihan fungsionalnya dinilai baik dan ia bisa kembali bekerja, efek stroke tidak sepenuhnya hilang. Delapan tahun setelah kejadian, pasien masih melaporkan gangguan rasa kebas yang menetap di sisi kiri tubuhnya. “Saya tidak menyadari bahayanya. Akibatnya, saya harus hidup dengan rasa kebas di tangan dan kaki selamanya,” ungkap pasien tersebut. 

Para penulis laporan kasus menduga bukan hanya kafein yang berperan, tetapi juga “paket lengkap” yang sering melekat pada minuman energi—mulai dari stimulan tambahan seperti taurine dan guarana, hingga kandungan gula tinggi—yang secara teori dapat memperkuat efek stimulasi, memicu penyempitan pembuluh, serta memperburuk tekanan darah. Namun, mereka juga menekankan keterkaitan ini dibaca sebagai temuan studi kasus dan perlu kehati-hatian dalam menarik kesimpulan sebab-akibat pada populasi luas. 

Sebagai pembanding, sejumlah rujukan kesehatan menyebut konsumsi kafein hingga 400 mg per hari masih dianggap aman bagi kebanyakan orang dewasa sehat, meski toleransi tiap individu bisa berbeda. 

Catatan: artikel ini bersifat informasi dan bukan pengganti nasihat medis. Bila mengalami keluhan seperti baal mendadak, lemah sisi tubuh, atau pusing berat, segera cari pertolongan medis.

Berita Terkait