TEKNOLOGI, Perspektif.co.id — Raksasa teknologi medis asal Amerika Serikat, Stryker, akhirnya menyatakan serangan siber dahsyat yang mengguncang jaringan globalnya pada 11 Maret 2026 telah sepenuhnya berhasil dikendalikan. CEO Kevin Lobo mengonfirmasi perusahaan telah masuk ke fase pemulihan setelah insiden yang melumpuhkan operasional di 79 negara sekaligus menjadi serangan siber paling signifikan yang dikaitkan dengan Iran sejak dimulainya konflik militer bersama AS dan Israel.
Kelompok peretas pro-Iran bernama Handala mengklaim bertanggung jawab penuh atas serangan tersebut, dan menyebutnya sebagai pembalasan atas serangan rudal AS-Israel yang menghantam sekolah anak perempuan di Kota Minab, Iran Selatan—menewaskan lebih dari 170 orang, mayoritas siswi sekolah dasar. Dilaporkan CNN dan TechCrunch, Handala mempublikasikan pernyataan di platform X dan Telegram bahwa mereka menyerang Stryker “sebagai pembalasan atas serangan brutal ke sekolah Minab dan respons atas agresi siber yang terus menerus terhadap infrastruktur Poros Perlawanan.”
Dalam pernyataan panjangnya, Handala mengklaim telah memaksa kantor Stryker di 79 negara tutup setelah menghapus data dari lebih dari 200.000 sistem, server, dan perangkat seluler. Seluruh data yang diklaim berhasil dicuri itu disebut akan dipublikasikan ke publik. Kelompok ini juga turut mengklaim meluncurkan serangan serentak terhadap perusahaan pembayaran Verifone, meski Verifone membantah adanya gangguan pada layanannya.
Pakar keamanan siber dari Sophos, Rafe Pilling, yang telah menghubungkan Handala dengan operasi intelijen Iran, menilai para peretas kemungkinan besar berhasil mengakses konsol manajemen Microsoft Intune milik Stryker—platform pengelola perangkat korporat—lalu memicu fitur remote wipe untuk menghapus seluruh perangkat terdaftar kembali ke setelan pabrik. Metode ini tidak memerlukan penanaman malware tradisional sehingga sulit dideteksi oleh sistem keamanan konvensional.
Dalam pembaruan resminya, Stryker menegaskan produk-produk andalannya seperti Mako, Vocera, dan LIFEPAK35 sepenuhnya aman digunakan, dan perusahaan masih memiliki visibilitas atas seluruh pesanan yang masuk sebelum insiden terjadi. Juru bicara Stryker kepada TechCrunch menyatakan, “Kami tidak menemukan indikasi ransomware maupun malware dan meyakini insiden ini telah berhasil dikendalikan. Tim kami aktif bekerja memulihkan sistem dan operasi secepat mungkin.”
Di Maryland, lembaga Institute for Emergency Medical Services melaporkan sistem transmisi elektrokardiogram Stryker bernama Lifenet mengalami gangguan fungsi di hampir seluruh wilayah negara bagian tersebut, memaksa klinisi layanan darurat beralih ke konsultasi radio manual dengan rumah sakit penerima. Kondisi ini memperlihatkan betapa serangan ke satu perusahaan perangkat medis bisa berdampak domino pada ekosistem layanan kesehatan kritis.
Stryker adalah perusahaan Fortune 500 yang memproduksi peralatan bedah, implan ortopedi, dan neuroteknologi, berkantor pusat di Michigan dengan sekitar 56.000 karyawan dan pendapatan lebih dari 25 miliar dolar AS (sekitar Rp409 triliun) sepanjang 2025. Produk perusahaan ini digunakan oleh lebih dari 150 juta pasien setiap tahunnya di 61 negara, menjadikannya target dengan dampak geopolitik dan kesehatan publik yang sangat besar.
Pakar intelijen ancaman dari Check Point Research, Sergey Shykevich, menilai serangan ini memiliki ciri-ciri serangan oportunistik ketimbang operasi yang direncanakan matang, dan menyebutnya “jauh lebih besar dari yang kami harapkan dari Handala.” Sementara itu, Badan Keamanan Siber dan Infrastruktur AS (CISA) melalui Direktur Pelaksana Nick Andersen menyatakan penyelidikan penuh telah dimulai dan pihaknya bekerja bahu-membahu dengan mitra sektor publik dan swasta untuk mengungkap seluruh dampak serangan.
Menurut laporan IBM X-Force Exchange yang dikutip TechCrunch, Handala muncul pasca serangan Hamas pada Oktober 2023 dan dikenal karena operasi yang menargetkan infrastruktur sipil Israel, perusahaan energi Teluk, serta organisasi-organisasi Barat, dengan fokus utama menciptakan dampak destruktif dan psikologis. Serangan ke Stryker kini menandai eskalasi baru: dari gangguan simbolis ke operasi penghapusan massal yang melumpuhkan perusahaan global berkapasitas miliaran dolar.