29 December 2025, 14:19

Siklon Hayley Resmi Terbentuk, BMKG Ingatkan Bali-NTB-NTT: Hujan Lebat Mengintai, Gelombang Bisa 4 Meter

Masyarakat, khususnya di wilayah Bali hingga Nusa Tenggara, diminta meningkatkan kewaspadaan

Reporter: M. Ansori
Editor: Zainur Akbar
1,249
Siklon Hayley Resmi Terbentuk, BMKG Ingatkan Bali-NTB-NTT: Hujan Lebat Mengintai, Gelombang Bisa 4 Meter
Ilustrasi. BMKG mengonfirmasi Bibit Siklon Tropis 96S telah menjadi Siklon Tropis Hayley. Waspadai dampak hujan lebat dan gelombang tinggi di beberapa wilayah.

Perspektif.co.id - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengumumkan Bibit Siklon Tropis 96S telah berkembang menjadi Siklon Tropis Hayley. Masyarakat, khususnya di wilayah Bali hingga Nusa Tenggara, diminta meningkatkan kewaspadaan karena sistem ini berpotensi memicu hujan lebat, angin kencang, serta gelombang tinggi di sejumlah perairan selatan Indonesia.

BMKG menyatakan Hayley mencapai intensitas siklon tropis pada Senin (29/12/2025) pukul 01.00 WIB. Dalam pemantauan BMKG, siklon tersebut terbentuk dari bibit 96S yang sudah tumbuh sejak 25 Desember 2025 pukul 01.00 WIB di Samudra Hindia selatan Nusa Tenggara Barat, lalu menguat dan kini berada di sekitar perairan selatan Nusa Tenggara.

BMKG juga memproyeksikan kekuatan Hayley masih berpeluang meningkat dalam waktu dekat. “Siklon Tropis Hayley akan meningkat menjadi kategori 2 dengan pergerakan ke arah tenggara menjauhi wilayah Indonesia menuju perairan barat Australia dalam periode 24 jam ke depan,” tulis BMKG. 

Meski bergerak menjauhi Indonesia, BMKG menekankan dampak yang perlu diantisipasi adalah efek tidak langsungnya, terutama dalam 24 jam ke depan. Dalam periode pemantauan hingga Selasa (30/12/2025), BMKG mencatat potensi hujan sedang hingga lebat dapat terjadi di Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT). Selain itu, angin kencang berpotensi terjadi di NTB dan NTT. 

Dari sisi kelautan, BMKG juga mengingatkan peluang gelombang laut tinggi di sejumlah perairan yang kerap menjadi jalur aktivitas nelayan dan pelayaran. Gelombang 1,25–2,5 meter berpotensi muncul di Perairan selatan Jawa Tengah hingga Jawa Timur, Perairan selatan Pulau Bali hingga Pulau Timor, Laut Sawu, serta Selat Bali–Lombok–Alas bagian selatan. Sementara gelombang yang lebih tinggi, 2,5–4 meter, berpotensi terjadi di Samudra Hindia selatan Bali bagian tengah hingga NTT. 

BMKG turut menyinggung dinamika atmosfer yang bisa ikut “mengisi bensin” pertumbuhan awan hujan di sejumlah wilayah. Dalam fact sheet cuaca dan iklim terkini, BMKG menyebut kondisi ENSO berada pada kategori negatif, dengan nilai Southern Oscillation Index (SOI) teramati tidak signifikan sebesar -1,6 dan indeks Nino 3.4 sebesar -0,91 yang dinilai signifikan terhadap peningkatan pola konvektif di wilayah Indonesia bagian timur. Pada saat yang sama, Dipole Mode Index (DMI) berada di +0,09 yang mengindikasikan tidak adanya aliran dari Samudra Hindia timur Afrika menuju Indonesia, khususnya wilayah barat. 

BMKG juga menuliskan bahwa pada Desember Dasarian III 2025 hingga Januari Dasarian II 2026, curah hujan di banyak wilayah Indonesia secara umum diperkirakan berada pada kriteria rendah–menengah (20–150 mm per dasarian). Namun, ada wilayah yang masih berpeluang mengalami curah hujan kategori tinggi hingga sangat tinggi, termasuk sebagian NTT pada periode Dasarian III Desember 2025 serta berlanjut pada Dasarian I–II Januari 2026.

Selain itu, BMKG menyampaikan peran fenomena intra-musiman dan gelombang ekuator dalam meningkatkan peluang pertumbuhan awan hujan. Model filter spasial Madden–Julian Oscillation (MJO) diprakirakan aktif pada 30–31 Desember 2025 di beberapa wilayah seperti Samudra Hindia barat Aceh, Aceh, Selat Malaka, hingga Laut Natuna dan wilayah utara Australia—yang berpotensi menambah pertumbuhan awan hujan di area tersebut. BMKG juga menilai kombinasi MJO dengan Gelombang Kelvin dan Gelombang Rossby Ekuator dapat berkontribusi pada peningkatan aktivitas konvektif dan potensi hujan di sejumlah kawasan.

Terkait evolusi siklon, BMKG memprediksi Hayley akan bergerak ke arah tenggara dalam 24 jam ke depan. Dalam horizon 48–72 jam, sistem diperkirakan melemah dan berpotensi punah seiring masuknya sistem ke daratan Australia bagian barat. Kendati demikian, BMKG mengingatkan siklon dapat meningkatkan kecepatan angin di sekitar sistem dan membentuk area konvergensi/konfluensi yang memicu pembentukan awan hujan, khususnya di sekitar Samudra Hindia selatan NTB hingga NTT. 

Di saat yang sama, BMKG juga memantau keberadaan Bibit Siklon Tropis 98S yang berada di daratan Australia bagian utara. BMKG menilai peluang bibit 98S untuk berkembang menjadi siklon tropis dalam 24 jam ke depan berada pada kategori rendah dan tidak memberikan dampak terhadap kondisi cuaca maupun perairan di wilayah Indonesia.

Berita Terkait