Perspektif.co.id - Perbincangan soal siomay berbahan ikan sapu-sapu kembali memantik kewaspadaan konsumen. Sejumlah pedagang mengakui ikan sapu-sapu dipakai sebagai bahan baku karena faktor harga, sementara konsumen menilai perubahan warna dan aroma menjadi “alarm” untuk bertanya lebih dulu sebelum membeli.
Mamat (bukan nama sebenarnya), pedagang siomay di sekitar Stasiun Duren Kalibata, Jakarta Selatan, menyebut daging ikan sapu-sapu punya karakter yang tidak bisa disamakan dengan ikan konsumsi yang lazim dijual di pasar. Perbedaan itu, kata dia, bisa terlihat sejak adonan diolah hingga siomay matang tersaji.
“Kalau pakai daging ikan sapu-sapu, warnanya memang agak lebih gelap, mirip bakso. Beda sama siomay yang kebanyakan tepung atau daging ikan segar yang warnanya agak pink. Terus memang biasanya lebih amis, tapi itu bisa diakalin pakai jeruk nipis,” ujar Mamat.
Dari sisi rasa, ia menilai hasil akhirnya tidak selalu jauh berbeda ketika sudah tercampur bumbu. Namun, karakter dasar ikan sapu-sapu tetap bisa terasa, terutama jika porsinya lebih dominan. Karena itu, Mamat mengaku tidak selalu memakai 100 persen ikan sapu-sapu dalam adonan. “Kadang kalau enggak semuanya dari ikan sapu-sapu, saya campur sama ikan yang dagingnya memang dijual di pasar,” katanya.
Mamat juga blak-blakan alasan utamanya: efisiensi biaya. “Ya karena lebih murah. Terus juga kan sama-sama ikan. Enggak beracun juga, toh layak dimakan,” ujarnya. (Reddit) Namun, ia mengakui isu ini membuat sebagian pembeli makin kritis. “Kadang pembeli nanya, ini siomay pakai ikan atau daging. Saya jawab ikan. Ada yang jadi beli, ada juga yang enggak jadi,” kata Mamat.
Sikap waspada itu salah satunya datang dari Rahma (29), pekerja yang sering melintas di area lapak siomay tersebut. Rahma mengaku dulu kerap membeli siomay kaki lima, namun kini memilih menghindari karena khawatir sumber ikan yang digunakan. “Dulu saya sering beli siomay. Hampir kalau lewat pasti beli,” ujarnya.
Meski begitu, Rahma menegaskan ia tidak otomatis memvonis semua penjual. Ia masih membuka kemungkinan membeli siomay jika bahan bakunya jelas. “Kalau mau beli, sekarang pasti nanya dulu ke pedagang. Ini pakai ikan apa,” katanya. Jika jawaban penjual dinilai ragu-ragu atau tidak transparan, ia memilih membatalkan pembelian. (Reddit) Rahma berharap ada keterbukaan yang lebih terang dari pedagang mengenai bahan baku, agar konsumen bisa mengambil keputusan dengan informasi yang cukup.
Dari sisi medis, pakar penyakit dalam Universitas Indonesia Ari Fahrial Syam mengingatkan persoalan utama bukan semata jenis ikannya, melainkan lingkungan tempat ikan itu hidup. Ia menyoroti potensi cemaran bakteri hingga logam berat yang dapat terbawa dari perairan tercemar. “Jika ikan itu tercemar dengan berbagai macam bakteri, kemudian juga kuman, dan juga biasanya logam, logam berat yang ada pada ikan tersebut,” kata Ari.
Ari menekankan proses memasak tidak otomatis menuntaskan risiko, khususnya untuk logam berat. “Di satu sisi kadar logam berat pun juga tidak bisa hilang dengan proses pemasakan,” ujarnya. (Kompas) Ia menyebut dampak jangka pendek dapat berupa gangguan pencernaan, termasuk muntah-muntah setelah mengonsumsi ikan yang telah tercemar. (Kompas) Sementara dalam jangka panjang, Ari mengingatkan risiko yang lebih serius, yakni potensi kerusakan ginjal maupun liver.
Senada, Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta Hasudungan A. Sidabalok menegaskan ikan sapu-sapu pada prinsipnya baru bisa dipertimbangkan aman bila berasal dari budidaya yang terkontrol, bukan hasil tangkapan liar dari sungai atau kali yang tercemar. Bahkan untuk hasil budidaya pun, ia menekankan pentingnya uji laboratorium.
Di tengah tekanan biaya hidup dan ketatnya persaingan dagang kaki lima, isu bahan baku ini memperlihatkan satu hal yang makin dibutuhkan pasar: kejelasan informasi. Saat konsumen mulai menjadikan warna dan aroma sebagai sinyal, transparansi pedagang menjadi faktor penentu—apakah pembeli lanjut makan, atau memilih mundur pelan-pelan.