TEKNOLOGI, Perspektif.co.id — T-Mobile menggebrak panggung Mobile World Congress (MWC) 2026 di Barcelona dengan menegaskan ambisi besar membangun jaringan otonom berskala nasional, sebuah langkah yang diproyeksikan mengubah cara operator mengelola performa, efisiensi, dan keandalan jaringan seluler. Pernyataan itu disampaikan langsung oleh President of Technology sekaligus CTO T-Mobile, John Saw, yang menyoroti percepatan integrasi AI dalam operasi telco dan kolaborasi strategis dengan para raksasa infrastruktur jaringan.
“Kami melihat kolaborasi ini akan membantu pekerjaan kami di bidang AI, karena AI dapat membawa performa jaringan ke level berikutnya, termasuk efisiensi spektrum dan cara yang lebih cerdas untuk mitigasi interferensi,” ujar Saw.
Dalam pernyataannya, Saw menegaskan bahwa T-Mobile tengah mempercepat transisi menuju jaringan berbasis intent, di mana seluruh elemen jaringan beroperasi layaknya platform AI agentik raksasa yang mampu beradaptasi, berkolaborasi, dan mengoptimalkan performa secara mandiri. Pendekatan ini memungkinkan sistem mendeteksi gangguan sebelum berubah menjadi outage, sekaligus melakukan upgrade tanpa perlu mematikan jaringan—sebuah kebutuhan krusial di era pelanggan fixed wireless yang menuntut koneksi 24/7.
“Anda tidak bisa lagi punya jendela maintenance dari jam 2 sampai 4 pagi. Pelanggan fixed wireless mengharapkan internet menyala setiap saat,” tegasnya.
Ambisi T-Mobile ini diperkuat oleh langkah besar Ericsson dan Nokia yang mengumumkan kolaborasi untuk mempercepat pengembangan ekosistem jaringan otonom. Kedua vendor utama T-Mobile itu menilai bahwa otonomisasi jaringan adalah fondasi penting untuk membawa AI dan automasi ke seluruh lapisan infrastruktur mobile, termasuk upaya global menuju Level 4 autonomy.
“Visi kami adalah membangun intent-based network, di mana seluruh agen AI bekerja bersama secara adaptif untuk mengoptimalkan performa jaringan,” tambah Saw.
Di sisi lain, T-Mobile juga memperluas kolaborasi strategis dengan Qualcomm untuk mempercepat roadmap transisi dari 5G Advanced menuju 6G. Kemitraan ini menargetkan komersialisasi awal pada 2029, dengan fokus pada tiga pilar utama: konektivitas canggih, sensing berskala luas, dan komputasi berperforma tinggi yang hemat energi.
“Kami tidak hanya mempersiapkan 6G, kami membantu mendefinisikan dan memimpinnya,” kata Saw dalam pernyataan terpisah.
T-Mobile juga memamerkan hasil uji coba Cloud RAN Ericsson yang berjalan di atas infrastruktur AI Nvidia, menunjukkan fleksibilitas RAN portabel yang dapat beroperasi di berbagai platform komputasi, termasuk sistem COTS yang dipercepat Nvidia. Pendekatan ini membuka jalan bagi jaringan yang lebih modular, efisien, dan siap menghadapi beban kerja AI masa depan.
Dengan kombinasi strategi AI-native, automasi penuh, dan kolaborasi lintas industri, T-Mobile menempatkan dirinya sebagai salah satu operator paling agresif dalam perlombaan global menuju jaringan otonom generasi berikutnya. Transformasi ini diproyeksikan menjadi fondasi penting bagi layanan digital masa depan, mulai dari digital twins, drone detection, hingga layanan AI berlatensi rendah yang berjalan langsung di edge network.