05 March 2026, 03:30

Tejas Networks Bongkar Fakta Mengejutkan: 6G Butuh Jauh Lebih Banyak Base Station dari 5G

Tejas Networks ungkap 6G butuh jauh lebih banyak base station dari 5G, memicu debat baru soal biaya dan arah evolusi jaringan masa depan.

Reporter: Hasida Kuchiki
Editor: Deden M Rojani
404
Tejas Networks Bongkar Fakta Mengejutkan: 6G Butuh Jauh Lebih Banyak Base Station dari 5G
Ilustrasi jaringan 6G masa depan dengan base station kecil padat di skyline kota, menggambarkan ekspansi infrastruktur menurut Tejas Networks di MWC 2026. (AI Generated by: Perspektif.co.id)

TEKNOLOGI, Perspektif.co.id — Pada hari pertama gelaran Mobile World Congress (MWC) 2026 di Barcelona, Tejas Networks memicu perdebatan baru soal arah evolusi jaringan masa depan setelah menyatakan bahwa teknologi 6G akan membutuhkan jumlah base station yang jauh lebih besar dibandingkan 5G untuk memenuhi tuntutan aplikasi sensing generasi berikutnya. Pernyataan ini disampaikan langsung oleh Sanjay Malik, Chief Strategy and Business Officer Tejas Networks, yang menegaskan bahwa kebutuhan infrastruktur 6G berpotensi melonjak drastis seiring meningkatnya kompleksitas layanan yang dijanjikan.

“Dengan 6G, jumlah basestation yang dibutuhkan akan jauh lebih tinggi,” ujar Malik di lantai pameran MWC 2026.

Tejas menilai bahwa 6G akan membawa integrasi sensing dan komunikasi secara lebih dalam, sehingga operator harus menambah jumlah radio dan mengadopsi desain baru seperti mini‑base station atau small cells untuk mendukung skenario seperti kendaraan otonom dan operasi jarak jauh. Kedua use case ini sebelumnya dijanjikan pada era 5G namun tidak terealisasi secara masif, sehingga 6G dipandang sebagai kesempatan kedua untuk mewujudkannya.

Pandangan Tejas ini bertolak belakang dengan riset Mobile Experts yang memprediksi bahwa kemajuan AI, Giga‑MIMO, dan perluasan jangkauan satelit justru akan mengurangi kebutuhan jumlah base station di era 6G. Namun Tejas, yang tergabung dalam Bharat 6G Alliance bersama Airtel, Ericsson, Nokia, dan Qualcomm, mengklaim memiliki visibilitas lebih dekat terhadap perkembangan pasar 6G yang masih dalam tahap embrio.

Tejas juga menegaskan bahwa 6G bukan sekadar peningkatan kecepatan, melainkan evolusi berkelanjutan dari 5G menuju jaringan yang lebih berkelanjutan, AI‑native, dan context‑aware. Perusahaan itu menyebut bahwa 6G akan menghadirkan komunikasi imersif, sensing terintegrasi, konektivitas ubiquitus, hingga efisiensi energi yang lebih tinggi. Melalui kontribusinya di 3GPP dan ITU‑R, Tejas mengklaim tengah membentuk standar dan inovasi yang akan menjadi fondasi 6G global.

“Kasus penggunaan dan aplikasi penginderaan 6G akan membutuhkan lebih banyak radio 6G dan desain baru seperti basestation mini 6G,” tambah Malik, menegaskan bahwa kebutuhan infrastruktur akan meningkat signifikan seiring munculnya perangkat dan sensor generasi baru.

Jika prediksi Tejas benar, operator seluler harus bersiap menghadapi lonjakan belanja modal (capex) untuk Radio Access Network (RAN), meski pengeluaran untuk core network diperkirakan menurun karena 6G tetap memanfaatkan arsitektur 5G Standalone. Dengan kata lain, transisi menuju 6G bisa menjadi salah satu fase modernisasi jaringan paling mahal dalam satu dekade ke depan.

Berita Terkait