13 January 2026, 23:53

Brokoli & Wortel Paling Banyak Tercemar, Mikroplastik Masuk ke Sayur yang Kita Makan

Studi menunjukkan mikroplastik ditemukan di buah-sayur; brokoli dan wortel termasuk yang paling tinggi.

Reporter: Ihsan Nurdin
Editor: Deden M Rojani
1,115
Brokoli & Wortel Paling Banyak Tercemar, Mikroplastik Masuk ke Sayur yang Kita Makan
Foto: Penjual sayuran di Pasar Anyar Bogor, Jawa Barat. (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky)

Perspektif.co.id - Studi menunjukkan mikroplastik ditemukan di buah-sayur; brokoli dan wortel termasuk yang paling tinggi. Pakar ingatkan sumbernya bisa dari tanah-air tercemar.

Sejumlah riset terbaru kembali menyorot ancaman mikroplastik yang kian “dekat” dengan meja makan. Partikel plastik berukuran sangat kecil—umumnya didefinisikan sebagai serpihan plastik berdiameter di bawah 5 milimeter—dilaporkan sudah terdeteksi pada berbagai komoditas pangan, termasuk sayur dan buah yang sering dikonsumsi sehari-hari.

Temuan yang ramai dibahas berasal dari kajian ilmiah yang mengukur keberadaan mikroplastik dan nanoplastik pada bagian buah dan sayur yang dapat dimakan. Dalam salah satu studi yang dipublikasikan di jurnal Environmental Research, peneliti mengungkap rentang kontaminasi partikel plastik berukuran <10 mikrometer mencapai sekitar 52.050 hingga 233.000 partikel per gram, bergantung pada sampel komoditas yang diuji. 

Dari kelompok sayuran, brokoli dan wortel disebut sebagai yang paling tinggi terkontaminasi, dengan rata-rata lebih dari 100.000 partikel plastik per gram. (Lifestyle SINDOnews) Sementara pada buah, apel dan pir termasuk yang tertinggi: apel rata-rata dilaporkan mengandung sekitar 195.500 partikel per gram dan pir sekitar 189.500 partikel per gram. 

Selain itu, peneliti juga menemukan pola yang mengkhawatirkan soal bagaimana partikel plastik bisa “masuk” ke jaringan tanaman. Sejumlah publikasi sebelumnya menyebut mikroplastik dapat menembus akar tanaman, sementara nanoplastik juga bisa terserap melalui akar, sehingga komoditas hortikultura berpotensi mengakumulasi partikel tersebut dari tanah atau air yang telah terkontaminasi. 

Isu ini makin relevan karena kontaminasi tidak berhenti pada buah dan sayur. Studi lain yang mengamati bahan pangan protein—mulai dari daging, makanan laut, tahu, hingga alternatif nabati—juga melaporkan mayoritas sampel yang diuji terdeteksi mengandung mikroplastik. 

Di sisi lain, aktivis lingkungan menilai akar persoalan ada pada ketergantungan rantai pasok terhadap plastik sekali pakai—mulai dari kemasan ritel, pembungkus makanan, hingga material pelindung komoditas segar. “Saat kita menggigit apel, kemungkinan besar kita juga mengonsumsi mikroplastik,” kata Sion Chan, juru kampanye Greenpeace Asia Timur. 

Soal dampaknya, para peneliti masih menekankan bahwa bukti ilmiah pada manusia terus berkembang dan standar pengukuran perlu makin ketat. Sejumlah tinjauan ilmiah menyebut, ketika tertelan, mikroplastik berpotensi berinteraksi di saluran cerna dan memicu respons peradangan pada temuan model/eksperimental tertentu, namun besaran risikonya pada manusia masih diperdebatkan dan membutuhkan riset lanjutan yang lebih solid. 

Berita Terkait