17 January 2026, 16:06

Demo Iran Mulai Redup Usai Penindakan Keras dan Internet Dibungkam, Laporan HAM: Tewas 3.428 Orang

Unjuk rasa antipemerintah di Iran yang pecah sejak akhir Desember 2025 dilaporkan mulai mereda dalam beberapa hari terakhir

Reporter: M. Ansori
Editor: Deden M Rojani
1,864
Demo Iran Mulai Redup Usai Penindakan Keras dan Internet Dibungkam, Laporan HAM: Tewas 3.428 Orang
Mobil-mobil dibakar dalam unjuk rasa yang berlangsung di Teheran, ibu kota Iran, beberapa waktu terakhir (dok. Reuters)

Perspektif.co.id - Unjuk rasa antipemerintah di Iran yang pecah sejak akhir Desember 2025 dilaporkan mulai mereda dalam beberapa hari terakhir, setelah aparat melakukan penindakan keras di tengah pemadaman dan pembatasan akses internet. Sejumlah pemantau menyebut kota-kota besar kini relatif lebih tenang, meski situasi masih dijaga ketat.

Gelombang protes itu dipicu keluhan kondisi ekonomi yang memburuk. Aksi awal disebut bermula dari demonstrasi di area bazaar Teheran pada 28 Desember 2025, lalu meluas menjadi gerakan yang menuntut perubahan politik lebih besar terhadap sistem ulama yang berkuasa sejak Revolusi 1979. Protes kembali membesar pada 8 Januari 2026 di sejumlah kota, sebelum pemerintah memberlakukan pemadaman internet yang dilaporkan berlangsung lebih dari sepekan. 

Institut Studi Perang (Institute for the Study of War/ISW) yang memantau situasi menilai penindakan “brutal” kemungkinan menekan gerakan protes “untuk saat ini”. Namun ISW juga mengingatkan pengerahan aparat secara masif tidak mudah dipertahankan dalam waktu lama, sehingga potensi gejolak lanjutan tetap ada. 

Di tengah sulitnya verifikasi akibat pembatasan informasi, angka korban tewas muncul dalam rentang yang lebar dari berbagai sumber. Kelompok HAM berbasis di Norwegia, Iran Human Rights (IHRNGO), menyatakan sedikitnya 3.428 demonstran telah “terverifikasi” tewas di 15 provinsi, sembari memperingatkan angka sebenarnya bisa lebih tinggi karena kondisi lapangan dan keterbatasan akses. Direktur IHRNGO Mahmood Amiry-Moghaddam menyebut pihaknya menerima “kesaksian mengerikan” dari saksi mata mengenai penembakan terhadap demonstran, penggunaan senjata kelas militer, hingga eksekusi di jalan terhadap demonstran terluka (klaim yang ia sampaikan sebagai rangkuman kesaksian yang diterima lembaganya). 

Perkiraan lain datang dari Human Rights Activists News Agency (HRANA) yang berbasis di AS. Dalam pembaruan 15 Januari 2026, HRANA melaporkan 2.677 kematian terkonfirmasi, dengan 1.693 dugaan kematian lain masih dalam penyelidikan. (Hrana) Reuters pada 17 Januari 2026 juga menulis HRANA mengonfirmasi 3.090 kematian, menegaskan perbedaan angka yang masih mungkin berubah seiring verifikasi berjalan. 

Sementara itu, saluran oposisi berbahasa Persia di luar negeri, Iran International, mengklaim sedikitnya 12.000 orang tewas dengan mengutip sumber senior pemerintah dan otoritas keamanan Iran—angka yang jauh di atas laporan pemantau HAM lain dan belum dapat diverifikasi independen secara luas.

Pemerintah Iran membantah angka-angka besar itu. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dalam wawancara dengan Fox News menekan laporan korban tewas sebagai berlebihan dan bagian dari “kampanye disinformasi”. “I certainly deny the numbers and figures they have said. It is an exaggeration, it is a misinformation campaign…” ujarnya, seraya menyatakan jumlah korban tewas menurut klaim pemerintah berada di kisaran “ratusan”. 

Soal pemadaman internet, Reuters mengutip pemantau jaringan NetBlocks yang menyebut konektivitas sempat hanya naik tipis menjadi sekitar 2% dari kondisi normal setelah delapan hari pemadaman, memperkuat keluhan aktivis bahwa pembatasan komunikasi menghambat pelaporan dan verifikasi korban. 

Dengan perbedaan klaim dari pemantau HAM, media oposisi, hingga pemerintah, angka korban tewas dan skala penindakan di Iran masih menjadi perdebatan. Yang jelas, rangkaian protes yang bermula dari tekanan ekonomi itu kini memasuki fase mereda—setidaknya untuk sementara—di bawah pengawasan ketat aparat dan pembatasan informasi.

Berita Terkait